123Berita – 04 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Batang kembali menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat daya saing sektor industri regional dengan meluncurkan serangkaian program pelatihan dan sertifikasi yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Batang Industrial Park (BIP). Berdasarkan proyeksi terbaru, kedua kawasan industri tersebut akan membuka sekitar 5.000 lowongan kerja dalam beberapa tahun ke depan, menandakan peluang besar bagi pencari kerja lokal maupun luar daerah.
Inisiatif ini diprakarsai oleh Bupati Batang, Dr. H. Dwi Haryanto, yang menekankan pentingnya sinkronisasi antara kebutuhan industri dan kualitas sumber daya manusia. “Kami tidak hanya ingin mengisi lowongan, tetapi juga memastikan bahwa tenaga kerja yang terpilih memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar internasional,” ujar beliau dalam rapat koordinasi yang digelar pada awal bulan ini.
Program pelatihan yang diluncurkan mencakup beberapa bidang kunci yang menjadi tulang punggung produksi di KITB dan BIP, antara lain teknik mesin, otomasi, pengolahan logam, serta manajemen rantai pasok. Setiap modul pelatihan dirancang bekerja sama dengan lembaga pendidikan vokasi terakreditasi, serta perusahaan-perusahaan multinasional yang telah beroperasi di kawasan tersebut.
- Pelatihan teknik mesin dengan fokus pada perancangan, perawatan, dan perbaikan peralatan produksi.
- Program otomasi industri yang membekali peserta dengan keterampilan pemrograman PLC, robotika, dan sistem kontrol cerdas.
- Kursus pengolahan logam yang menitikberatkan pada teknik pemotongan, pengelasan, dan inspeksi kualitas.
- Workshop manajemen rantai pasok yang mengajarkan perencanaan produksi, logistik, serta penggunaan software ERP.
Seluruh peserta pelatihan akan mengikuti proses sertifikasi yang diakui secara nasional, sehingga mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga bukti kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan di pasar kerja. Sertifikasi tersebut melibatkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan lembaga akreditasi lainnya.
Untuk mengoptimalkan partisipasi, pemerintah Kabupaten Batang membuka pendaftaran secara gratis bagi warga lokal yang memenuhi kriteria usia 18 hingga 35 tahun, serta memiliki latar belakang pendidikan minimal SMA/SMK. Bagi calon peserta yang belum memiliki pengalaman kerja, program magang selama tiga bulan di perusahaan mitra industri akan menjadi jalur praktis untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat.
Selain meningkatkan kualitas tenaga kerja, inisiatif ini juga diharapkan dapat menurunkan tingkat pengangguran di wilayah Batang, yang pada kuartal terakhir tahun lalu masih berada di angka 6,8 persen. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) setempat, pertumbuhan sektor industri di Batang mencapai 7,2 persen tahun ini, menandakan adanya sinergi positif antara kebijakan pemerintah dan dinamika pasar.
Pengembangan infrastruktur pendukung pelatihan juga tidak luput dari perhatian. Pemerintah daerah telah mengalokasikan dana sebesar Rp 45 miliar untuk renovasi pusat pelatihan, penambahan peralatan laboratorium modern, serta peningkatan jaringan internet berkecepatan tinggi di semua lokasi pelatihan. Investasi tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya operasional perusahaan yang mempekerjakan lulusan baru, sekaligus meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Batang bekerja sama erat dengan Dinas Perindustrian serta Badan Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menyelaraskan kurikulum pelatihan dengan standar industri. Selain itu, asosiasi pengusaha lokal seperti KADIN Batang turut berperan aktif dalam menyeleksi peserta yang paling potensial serta menawarkan posisi kerja setelah selesai pelatihan.
Beberapa perusahaan besar yang beroperasi di KITB dan BIP, termasuk PT. IndoTech Machinery, PT. Sigma Elektronik, dan PT. Batang Steel, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah daerah. Kesepakatan tersebut mencakup jaminan penempatan kerja bagi lulusan terpilih, serta penyediaan fasilitas magang yang terintegrasi dengan modul pelatihan.
Para ahli menilai bahwa pendekatan holistik yang menggabungkan pendidikan, sertifikasi, dan penempatan kerja dapat menjadi model replikatif bagi daerah lain yang tengah menghadapi tantangan serupa. “Kita sedang melihat evolusi kebijakan ketenagakerjaan yang lebih proaktif, dimana pemerintah tidak hanya menunggu permintaan pasar, melainkan secara aktif menciptakan tenaga kerja yang siap pakai,” kata Prof. Dr. Siti Nurhaliza, pakar ekonomi industri dari Universitas Diponegoro.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satu hambatan utama adalah memastikan bahwa materi pelatihan tetap relevan dengan cepatnya perubahan teknologi manufaktur. Oleh karena itu, program evaluasi berkala setiap enam bulan telah dijadwalkan, dengan melibatkan panel ahli industri untuk memperbarui kurikulum sesuai kebutuhan terkini.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Batang berencana memperluas program serupa ke sektor lain seperti agribisnis dan pariwisata, sekaligus meningkatkan kapasitas pelatihan digital melalui platform e‑learning. Langkah ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak calon tenaga kerja, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.
Secara keseluruhan, langkah strategis dalam meningkatkan pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja di Batang tidak hanya menjawab kebutuhan mendesak industri, tetapi juga membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan, target 5.000 lowongan kerja di KITB dan BIP semakin terasa realistis, sekaligus memberikan harapan baru bagi generasi muda Batang untuk berkarir di sektor industri yang terus berkembang.





