123Berita – 04 April 2026 | Hujan deras yang mengguyur wilayah Demak, Jawa Tengah pada Jumat (3/4/2026) memicu banjir meluas, menenggelamkan jalan, rumah, dan lahan pertanian di empat kecamatan. Banjir ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menimbulkan satu orang dilaporkan hilang serta menimpa lebih dari empat ribu jiwa yang kini berada dalam kondisi terdampak.
- Kranggan: lebih dari 1.500 keluarga kehilangan tempat tinggal.
- Gajah: aliran sungai Gajah meluap, menggenangi area permukiman dan ladang padi.
- Kebonagung: sebagian besar jalan utama terendam, menghambat akses layanan darurat.
- Demak Selatan: terdapat laporan satu orang hilang dan sejumlah warga terluka ringan akibat jatuh barang.
Petugas SAR dan relawan dari TNI, Polri, serta Palang Merah Indonesia (PMI) telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi serta pencarian orang hilang. Hingga akhir hari, tim SAR masih melakukan pencarian intensif di daerah yang paling terdampak, terutama di kawasan rawa-rawa yang rawan tersedak air.
Selain dampak fisik, banjir ini juga menimbulkan konsekuensi ekonomi yang signifikan. Lebih dari 4.280 jiwa melaporkan kerugian materi, terutama petani yang kehilangan panen padi dan sayuran. Pedagang pasar tradisional juga terpaksa menutup lapaknya karena kios-kiosnya terendam. Pemerintah Kabupaten Demak melalui Dinas Sosial dan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja berjanji akan menyalurkan bantuan sembako, paket makanan, serta bantuan tunai kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyatakan keprihatinan mendalam atas bencana ini dan menginstruksikan seluruh aparat daerah untuk mempercepat penyaluran bantuan serta memperkuat upaya mitigasi bencana di masa mendatang. “Kami akan memastikan bahwa setiap warga yang terdampak mendapatkan bantuan tepat waktu, serta meningkatkan sistem peringatan dini agar kejadian serupa dapat diminimalisir,” ujar Ganjar dalam pernyataan resmi.
Para ahli meteorologi mengingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem di wilayah Indonesia. Mereka menekankan pentingnya peningkatan kapasitas infrastruktur penanggulangan banjir, seperti pembangunan tanggul, saluran drainase yang lebih baik, dan penataan ruang yang menghindari pembangunan di zona rawan banjir.
Di tengah situasi darurat, warga Demak menunjukkan solidaritas tinggi. Komunitas lokal, organisasi keagamaan, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) berkoordinasi untuk mendistribusikan makanan, pakaian, serta menyediakan tempat penampungan sementara. Relawan juga membantu membersihkan puing-puing dan mendistribusikan pompa air untuk mengurangi genangan di rumah-rumah yang masih terendam.
Secara keseluruhan, dampak banjir ini menyoroti perlunya penataan tata ruang yang lebih cermat, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, serta koordinasi lintas sektoral antara pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat. Upaya pemulihan masih berada di tahap awal, namun dengan dukungan bersama, diharapkan kondisi dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Ke depannya, pihak berwenang berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan bencana ini, termasuk memperkuat jaringan peringatan dini dan mempercepat pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir. Sementara itu, keluarga korban hilang tetap berada dalam pencarian intensif, dan semua pihak diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bahaya lanjutan, terutama risiko longsor dan banjir bandang di daerah yang masih tergenang air.





