Banjir Demak Meluas: 2.839 Warga Mengungsi, Jalan Utama Lumpuh Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol

Banjir Demak Meluas: 2.839 Warga Mengungsi, Jalan Utama Lumpuh Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol
Banjir Demak Meluas: 2.839 Warga Mengungsi, Jalan Utama Lumpuh Akibat Tanggul Sungai Tuntang Jebol

123Berita – 04 April 2026 | Demak, Jawa Tengah – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Demak pada pekan lalu terus memperburuk kondisi kehidupan warga setempat. Hingga kini, sebanyak 2.839 orang terpaksa meninggalkan rumahnya karena tanggul Sungai Tuntang yang berada di wilayah Kecamatan Karanganyar mengalami jebol, menimbulkan genangan air setinggi 150 cm. Banjir tidak hanya menenggelamkan rumah-rumah penduduk, tetapi juga memutus akses utama jalan yang menghubungkan beberapa desa dengan pusat kota, menghambat distribusi bantuan dan mobilitas masyarakat.

Berikut ini rincian dampak yang dilaporkan:

Bacaan Lainnya
  • Jumlah pengungsi: 2.839 orang tersebar di 12 posko pengungsian yang dibuka oleh pemerintah kabupaten, termasuk balai desa dan aula serbaguna.
  • Ketinggian air: Puncak genangan tercatat 150 cm di beberapa titik kritis, terutama di kawasan padat penduduk seperti Desa Karanganyar, Batur, dan Wonokerto.
  • Jalan utama terputus: Jalan Nasional 1 (Jalan Demak‑Semarang) dan jalan lintas desa di sekitar Sungai Tuntang tidak dapat dilalui kendaraan bermotor, mengakibatkan tertutupnya jalur logistik untuk distribusi bahan makanan, obat‑obatan, dan perlengkapan darurat.
  • Kerusakan properti: Lebih dari 1.200 rumah mengalami kerusakan struktural, 340 rumah terendam total, dan 480 rumah hanya mengalami kerusakan ringan seperti rusaknya dinding dan perabotan.
  • Kerugian ekonomi: Sektor pertanian, terutama tanaman padi dan sayuran yang menjadi mata pencaharian utama, mengalami kerugian estimasi mencapai Rp 12 miliar.

Pemerintah Kabupaten Demak bersama Dinas Penanggulangan Bencana (Dispen) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera menggerakkan tim SAR dan relawan untuk melakukan evakuasi serta penyaluran bantuan. Tim medis yang terdiri dari tenaga kesehatan setempat juga dikerahkan untuk memantau kondisi kesehatan pengungsi, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit menular akibat kondisi lembab.

Di antara upaya penanggulangan, beberapa langkah konkret telah diambil:

  1. Mendirikan posko pengungsian di balai desa Karanganyar, balai RW 05, serta aula serbaguna SMP 1 Demak dengan kapasitas masing‑masing menampung 800, 600, dan 500 orang.
  2. Distribusi paket bantuan pokok berupa beras, mie instant, minyak goreng, dan kebutuhan sanitasi kepada 2.839 pengungsi secara bertahap.
  3. Penyediaan tim medis lapangan yang memberikan layanan pertama, pemeriksaan kesehatan, serta penyuluhan tentang pencegahan penyakit kulit dan saluran pernapasan.
  4. Pengerukan dan perbaikan darurat pada bagian tanggul yang jebol, dengan dukungan mesin ekskavator dan tenaga ahli teknik sipil.
  5. Koordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengamankan jalur evakuasi dan mencegah kerusuhan akibat kelangkaan kebutuhan pokok.

Warga yang terdampak menyampaikan keprihatinannya terhadap lambatnya perbaikan infrastruktur jalan. “Kami tidak bisa keluar kota untuk mencari pekerjaan atau mengirim anak ke sekolah karena jalan utama masih tertutup,” ujar Budi Santoso, seorang petani yang mengungsi bersama keluarganya ke posko di Karanganyar. “Kami berharap pemerintah segera memperbaiki jalan, sehingga bantuan dan logistik dapat masuk dengan lancar,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanggulangan Bencana Kabupaten Demak, Dr. H. Suryadi, M.Si., menegaskan bahwa penanganan bencana akan terus dipercepat. “Prioritas kami adalah menyelamatkan jiwa, menyalurkan bantuan, dan memulihkan infrastruktur kritis. Kami sedang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum untuk memperbaiki jalan yang rusak serta memperkuat tanggul yang belum stabil,” ujarnya dalam konferensi pers pada hari Senin, 29 April 2024.

BNPB juga mengirimkan tim penilai kerusakan dan tim logistik untuk menambah persediaan bantuan. Menurut pernyataan resmi BNPB, daerah yang terkena bencana banjir pada bulan April 2024 meliputi tidak hanya Demak, tetapi juga Kabupaten Kudus, Grobogan, dan Jepara. Namun, tingkat kerusakan di Demak terbilang paling parah karena kombinasi faktor curah hujan tinggi, kondisi tanah yang lunak, dan kegagalan struktural pada tanggul utama.

Dalam jangka panjang, pihak berwenang berencana melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan air dan infrastruktur penahan banjir di seluruh wilayah Jawa Tengah. Rencana tersebut mencakup pembangunan tanggul baru dengan material yang lebih kuat, pemasangan sensor pemantau ketinggian air, serta peningkatan kapasitas drainase di daerah rawan banjir.

Pengungsi yang masih berada di posko diharapkan dapat kembali ke rumah masing‑masing setelah kondisi aman. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan bantuan rehabilitasi rumah, termasuk subsidi perbaikan dan bantuan material bangunan. Selain itu, program bantuan sosial bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian utama juga sedang disiapkan, dengan prioritas pada petani dan pedagang kecil yang terdampak.

Keadaan di lapangan tetap dinamis, dan upaya penanggulangan terus berlanjut. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, serta menghindari daerah yang masih terendam hingga pernyataan resmi menyatakan wilayah tersebut aman. Koordinasi antara pemerintah, lembaga bantuan, dan warga menjadi kunci utama dalam mengatasi krisis ini.

Dengan upaya terpadu, diharapkan banjir di Demak dapat diredam, akses jalan pulih, dan kehidupan warga dapat kembali normal dalam waktu sesingkat‑sesingkatnya.

Pos terkait