123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – Menteri Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa harga bahan bakar avtur (aviation turbine fuel) yang diproduksi oleh Pertamina berada pada level yang lebih kompetitif bila dibandingkan dengan negara tetangga di Asia Tenggara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh perwakilan industri penerbangan, asosiasi maskapai, serta media nasional.
Dalam paparan data resmi, Bahlil mengungkapkan bahwa harga avtur di Thailand tercatat sebesar Rp29.518 per liter, sementara di Filipina harganya berada pada kisaran Rp25.326 per liter. Kedua angka tersebut menjadi patokan penting bagi Pertamina untuk menilai posisi harga domestik dalam konteks regional. Menurut Menteri, harga avtur Indonesia berada di bawah angka-angka tersebut, menandakan bahwa negara ini mampu menawarkan tarif lebih menarik bagi maskapai penerbangan baik domestik maupun asing.
“Kami telah melakukan benchmarking secara menyeluruh dengan memperhatikan biaya produksi, logistik, serta kebijakan pajak di masing-masing negara. Hasilnya, avtur Pertamina tidak hanya lebih murah, tetapi juga tetap menjaga standar kualitas yang tinggi,” ujar Bahlil. Ia menambahkan bahwa kompetitivitas harga ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai hub penerbangan di kawasan Asia‑Pasifik.
Kompetitivitas harga avtur memiliki implikasi langsung terhadap biaya operasional maskapai. Dengan biaya bahan bakar yang lebih rendah, maskapai dapat menurunkan tarif tiket, meningkatkan frekuensi penerbangan, atau menambah rute baru tanpa harus menanggung beban biaya tambahan yang signifikan. Hal ini tentu berdampak positif pada pertumbuhan industri pariwisata serta perdagangan udara.
Selain menyoroti harga, Bahlil juga menekankan bahwa avtur Indonesia tidak terbatas hanya untuk melayani pesawat domestik. “Produk avtur kami telah melayani pesawat-pesawat asing yang singgah di Indonesia, baik untuk transit maupun operasi cargo. Ini menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kualitas produk kita,” jelasnya.
- Harga avtur Thailand: Rp29.518 per liter
- Harga avtur Filipina: Rp25.326 per liter
- Harga avtur Indonesia: Lebih rendah dibandingkan kedua negara tersebut (nilai spesifik tidak diungkap)
Data tersebut diambil dari sumber resmi masing-masing otoritas energi di Thailand dan Filipina, serta laporan internal Pertamina. Bahlil menegaskan bahwa Pertamina terus memantau dinamika pasar global, termasuk fluktuasi harga minyak mentah, nilai tukar, serta kebijakan tarif di negara tujuan utama penjualan avtur.
Langkah strategis lainnya yang diusung pemerintah adalah peningkatan kapasitas produksi avtur di kilang-kilang domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, Pertamina telah menambah kapasitas produksi melalui proyek-proyek modernisasi dan investasi dalam teknologi ramah lingkungan. Peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi per liter, sehingga menambah ruang bagi penyesuaian harga yang kompetitif.
Para pelaku industri menyambut positif pernyataan Bahlil. Seorang eksekutif senior maskapai penerbangan nasional menyatakan, “Harga avtur yang kompetitif memberi kami fleksibilitas lebih dalam merencanakan jaringan rute, khususnya pada masa pemulihan pasca‑pandemi. Kami berharap kebijakan ini berkelanjutan dan didukung dengan infrastruktur yang memadai.”
Selain manfaat ekonomi, kebijakan harga avtur yang bersaing juga berdampak pada isu lingkungan. Pertamina berkomitmen untuk memperkenalkan avtur berbasiskan biofuel dalam jangka menengah, yang dapat mengurangi emisi karbon pada penerbangan. Bahlil menambahkan, “Kompetitivitas tidak berarti mengorbankan standar lingkungan. Kami berupaya menyeimbangkan antara efisiensi biaya dan keberlanjutan.”
Namun, tantangan tetap ada. Fluktuasi harga minyak dunia, perubahan kebijakan tarif di negara tujuan, serta persaingan dengan produsen avtur lain seperti Singapore Airlines atau perusahaan di Timur Tengah menuntut Pertamina untuk terus berinovasi. Bahlil menutup dengan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, serta sektor swasta untuk menjaga stabilitas harga dan kualitas avtur.
Dengan harga avtur yang lebih kompetitif, diharapkan Indonesia dapat meningkatkan volume penumpang dan kargo udara, memperkuat posisi sebagai pusat hub penerbangan regional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi investor asing yang melihat potensi pasar energi penerbangan di Indonesia.
Kesimpulannya, pernyataan Bahlil mengenai keunggulan harga avtur Pertamina dibandingkan Thailand dan Filipina menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung industri penerbangan nasional melalui kebijakan harga yang bersahabat, peningkatan kapasitas produksi, dan fokus pada kualitas serta keberlanjutan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya saing Indonesia di kancah penerbangan internasional.





