123Berita – 02 April 2026 | NASA berhasil meluncurkan misi berawak Artemis II pada Sabtu pagi, menandai kembali langkah manusia ke luar angkasa setelah hampir setengah abad. Roket berjenis Space Launch System (SLS) mengangkat kapsul Orion dari Kennedy Space Center, Florida, dan setelah proses pelepasan, pesawat luar angkasa itu kini mengorbit Bumi dalam lintasan yang dipantau secara langsung oleh jutaan penonton di seluruh dunia.
Peluncuran yang spektakuler itu berlangsung tanpa hambatan signifikan. Setelah menyalakan mesin utama pada pukul 06:56 waktu setempat, roket mengudara dengan kekuatan lebih dari 8 juta pon, menembus atmosfer dengan kecepatan yang terus meningkat. Pada menit ke-8, roket berhasil melewati lapisan atmosfer terpadat dan memasuki ruang angkasa, menandai dimulainya fase pertama misi Artemis II.
Kapsul Orion, yang menjadi pusat perhatian, berhasil memisahkan diri dari roket pada ketinggian sekitar 110 kilometer. Selanjutnya, Orion menempuh lintasan orbit rendah Bumi, mengelilingi planet ini sebanyak enam kali dalam kurun waktu sekitar 24 jam. Selama fase ini, para astronot di dalam kapsul—Matt Dominick, Christina Koch, Victor Glover, dan Jeremy Hansen—menjalankan serangkaian prosedur pemeriksaan sistem, termasuk pengujian komunikasi, navigasi, serta sistem pendukung kehidupan.
Berikut rangkaian utama yang telah dilalui Artemis II hingga saat ini:
- 06:56 – Ignition mesin utama SLS dan peluncuran.
- 07:04 – Pencapaian kecepatan Mach 7 dan pemisahan tahap pertama.
- 07:15 – Pelepasan tahap kedua, menandai transisi ke orbit Bumi.
- 07:30 – Pemisahan kapsul Orion dari roket SLS.
- 08:00 – Orbit pertama selesai, mengawali enam putaran mengelilingi Bumi.
Selama mengorbit, tim misi melakukan transmisi video langsung yang menampilkan pemandangan Bumi dari ketinggian. Penonton dapat menyaksikan birunya lautan, awan putih, serta cahaya kota yang berkilau, memberi kesan visual yang menakjubkan sekaligus menegaskan kembali pentingnya misi ini bagi umat manusia.
Artemis II bukan sekadar penerbangan uji coba. Misi ini dirancang untuk menyiapkan fondasi bagi penerbangan berawak ke Bulan yang direncanakan pada Artemis III. Menurut perencanaan NASA, setelah menyelesaikan enam orbit Bumi, Orion akan melakukan manuver pembakaran (burn) untuk meningkatkan energi kinetik dan mengubah trajektori menuju orbit trans‑Lunar (TLI). Proses ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa hari, sebelum akhirnya memasuki lintasan menuju Bulan.
Berbeda dengan program Apollo yang berakhir pada 1972, Artemis II menandai kembalinya manusia ke wilayah luar angkasa yang lebih dalam, dengan tujuan akhir menapaki permukaan Bulan pada misi selanjutnya. Sejumlah pertanyaan teknis dan logistik masih menjadi sorotan, termasuk durasi perjalanan ke Bulan. Menurut analis Al Jazeera, Artemis II diperkirakan memerlukan sekitar tiga hari untuk mencapai orbit Bulan, sebelum melakukan manuver masuk orbit lunik pada hari ke‑4 atau ke‑5.
Berbagai media internasional melaporkan keberhasilan peluncuran ini dengan foto-foto menakjubkan. The Guardian menampilkan rangkaian gambar yang memperlihatkan SLS menyala di atas landasan, serta kapsul Orion yang bersinar di luar angkasa. BBC menyoroti momen saat Orion pertama kali muncul di layar monitor, menandakan keberhasilan tahap kritis peluncuran.
Di sisi lain, Reuters menekankan bahwa Artemis II merupakan misi berawak pertama NASA dalam 50 tahun terakhir. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi agensi antariksa Amerika Serikat, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi internasional, mengingat partisipasi astronot Kanada (Jeremy Hansen) dalam awak kapal.
Dengan semua tahapan yang telah dilalui, Artemis II kini berada pada tahap persiapan untuk melakukan pembakaran trans‑Lunar. Jika semua prosedur berjalan lancar, Orion akan meluncur menuju Bulan pada minggu depan, membuka babak baru dalam eksplorasi ruang angkasa manusia.
Keberhasilan Artemis II menandai tonggak penting dalam program Artemis secara keseluruhan. Misi ini tidak hanya menguji teknologi roket dan kapsul terbaru, tetapi juga menyiapkan prosedur operasi penerbangan berawak yang lebih kompleks, termasuk manuver docking, pemakaian modul layanan, serta prosedur kembali ke Bumi yang aman. Keseluruhan rangkaian ini akan menjadi dasar bagi Artemis III, yang direncanakan akan mendaratkan astronaut kembali di permukaan Bulan, termasuk perempuan pertama dan manusia pertama yang akan melangkah di daerah kutub selatan Bulan.
Pengamatan publik terhadap Artemis II juga menunjukkan tingginya minat global terhadap penjelajahan luar angkasa. Ratusan ribu penonton menyaksikan siaran langsung melalui platform streaming resmi NASA, menandakan antusiasme yang tetap tinggi meski tantangan teknis dan finansial terus berkembang.
Secara keseluruhan, peluncuran Artemis II menegaskan kembali tekad NASA untuk kembali ke Bulan, sekaligus membuka peluang bagi kolaborasi internasional dan pengembangan teknologi yang dapat menginspirasi generasi mendatang.