123Berita – 06 April 2026 | Arsenal Football Club kembali menegaskan dominasinya di kompetisi domestik paling bergengsi, Piala FA. Dengan total empat belas trofi, The Gunners menyandang rekor tertinggi dalam sejarah turnamen ini, melampaui rival-rival tradisional seperti Manchester United yang mengoleksi dua belas gelar. Keberhasilan tersebut mencerminkan tradisi panjang klub dalam menaklukkan tantangan knock-out, yang menuntut konsistensi, mentalitas juara, dan kemampuan mengelola tekanan pada setiap putaran.
Meski catatan prestasi di Piala FA tetap mengesankan, Arsenal kini berada di persimpangan yang menantang. Sejak mengangkat piala terakhir pada musim 2019/2020, klub asal London Utara belum berhasil menambah koleksi trofi tersebut. Kekosongan empat tahun ini menjadi sorotan utama bagi manajemen, pendukung, dan analis sepak bola, mengingat Arsenal memiliki reputasi sebagai tim yang mampu menaklukkan kompetisi bergengsi.
Keberhasilan FA Cup 2020 merupakan puncak dari era kepemimpinan Mikel Arteta yang baru saja mengembalikan semangat juang tim setelah periode transisi. Pada laga final melawan Chelsea, Arsenal menampilkan permainan disiplin, menutup celah pertahanan, dan mengeksekusi serangan balik yang tajam. Gol penentu kemenangan datang melalui tendangan penalti, menegaskan kemampuan mental pemain dalam situasi krusial. Namun, setelah itu, perjalanan Arsenal di Piala FA mengalami stagnasi.
Beberapa faktor internal dapat menjelaskan mengapa Arsenal belum mengulang kesuksesan tersebut. Pertama, rotasi skuad yang intensif di tengah kompetisi Premier League dan Liga Champions menurunkan fokus pada kompetisi domestik. Arteta kerap harus menyeimbangkan kebugaran pemain inti seperti Bukayo Saka, Gabriel Martinelli, dan Thomas Partey, sekaligus memberi kesempatan kepada pemain muda yang masih dalam proses pengembangan. Kedua, perubahan taktik yang beralih dari formasi tradisional 4-2-3-1 menjadi variasi 3-4-3 atau 4-3-3 pada beberapa pertandingan menuntut adaptasi cepat, yang belum sepenuhnya stabil pada fase-fase kritis.
Selain faktor internal, persaingan di FA Cup semakin ketat. Klub-klub lain seperti Liverpool, Manchester City, dan Tottenham Hotspur meningkatkan kualitas skuad mereka, menambah lapisan kompetitif pada babak-babak awal. Bahkan tim-tim dari divisi lebih rendah seringkali menampilkan taktik defensif yang disiplin, memaksa Arsenal harus menghadapi perlawanan keras sejak ronde pertama. Kekuatan taktis lawan, ditambah dengan jadwal padat, menambah beban mental pada pemain dan staf pelatih.
Statistik terbaru menunjukkan bahwa sejak 2020, Arsenal hanya berhasil melewati tiga babak dalam FA Cup, dengan rata-rata kepemilikan bola sebesar 48% dan tembakan ke gawang kurang dari tiga per pertandingan. Angka-angka tersebut menandakan penurunan efektivitas serangan dibandingkan musim kemenangan. Analisis video mengungkap bahwa Arsenal seringkali kesulitan memecah pertahanan kompak, terutama dalam situasi satu lawan satu di area final tiga meter. Hal ini menyoroti kebutuhan akan peningkatan kreativitas di lini tengah, serta peran playmaker yang lebih berani dalam menciptakan peluang.
Di sisi lain, kebijakan transfer yang dilakukan oleh klub selama dua musim terakhir menambah dimensi baru pada upaya mengembalikan kejayaan di FA Cup. Kedatangan pemain seperti Kai Havertz dan Gabriel Jesus diharapkan dapat memperkaya pilihan ofensif, memberikan variasi serangan yang lebih dinamis. Namun, proses adaptasi mereka ke gaya permainan Inggris masih berlangsung, dan belum sepenuhnya memberikan dampak signifikan pada hasil kompetisi domestik.
Para pengamat sepak bola menilai bahwa kunci utama Arsenal untuk mengakhiri jeda gelar FA Cup terletak pada konsistensi mental serta kemampuan mengelola momen krusial. Pengalaman Mikel Arteta dalam mengatur tim pada situasi tekanan, yang terbukti pada final 2020, harus kembali dimanfaatkan. Pengembangan mental pemain muda melalui program kepemimpinan, serta peningkatan kebugaran fisik untuk menahan beban jadwal, menjadi prioritas utama.
Melihat prospek ke depan, Arsenal memiliki peluang besar untuk menambah koleksi trofi FA Cup pada musim mendatang. Jadwal kompetisi yang relatif lebih lunak pada fase awal memberi ruang bagi Artarta untuk menguji taktik baru dan menyiapkan skuad secara optimal. Jika The Gunners dapat memanfaatkan momentum positif dari penampilan di Liga Inggris serta menyesuaikan strategi rotasi pemain, peluang untuk kembali melangkah ke final tidak dapat diabaikan.
Secara keseluruhan, Arsenal tetap menjadi raja tak terbantahkan dalam sejarah Piala FA, namun tantangan modern menuntut evolusi taktik, kebugaran, dan mentalitas juara yang lebih kuat. Dengan dukungan pendukung yang setia, manajemen yang visioner, serta komitmen pemain untuk kembali menorehkan sejarah, harapan Arsenal untuk menambah gelar FA Cup setelah 2020 tetap realistis. Pada akhirnya, keinginan untuk mengembalikan kejayaan di kompetisi ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana The Gunners dapat menyeimbangkan ambisi domestik dan internasional dalam beberapa tahun ke depan.




