123Berita – 09 April 2026 | Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tengah menggelar pencarian pelatih baru untuk tim nasional A setelah masa jabatan Roberto Mancini berakhir pada akhir 2023. Di tengah spekulasi yang melibatkan nama-nama berpengalaman, Antonio Conte muncul sebagai kandidat terkuat, terutama setelah mendapatkan dukungan terbuka dari sejumlah tokoh kunci dalam struktur FIGC.
Conte, yang pernah memimpin tim-tim klub top Eropa seperti Juventus, Chelsea, dan Inter Milan, serta mengantarkan Italia meraih gelar Euro 2020, kini menjadi sorotan utama. Keberhasilan taktisnya, kemampuan memotivasi pemain, serta rekam jejak dalam mengoptimalkan potensi skuad membuatnya menjadi pilihan logis bagi federasi yang ingin mengembalikan kejayaan Azzurri di panggung internasional.
Selain Gravina, nama-nama lain seperti Direktur Teknik FIGC, Roberto Bettega, dan Kepala Departemen Pengembangan Pemain, Francesco Totti, turut memberikan rekomendasi positif. Mereka menilai bahwa pendekatan Conte yang menekankan disiplin defensif, kecepatan transisi, dan fleksibilitas formasi dapat memaksimalkan potensi generasi pemain muda Italia, yang saat ini tengah menembus panggung senior.
Berbagai faktor memperkuat posisi Conte dalam proses seleksi. Pertama, keberhasilannya mengangkat Juventus dan Inter Milan menjadi juara Serie A secara konsisten menunjukkan kemampuan mengelola tekanan kompetisi tinggi. Kedua, pengalaman melatih di Liga Premier bersama Chelsea memberi perspektif internasional yang berharga dalam menghadapi tim-tim kuat di kompetisi seperti Euro 2024 dan Piala Dunia 2026. Ketiga, keterlibatannya dalam timnas Italia pada masa Euro 2020, meskipun hanya sebagai asisten pelatih, memberikan wawasan tentang dinamika tim nasional.
Pengamat sepak bola menilai bahwa kehadiran Conte dapat menjadi katalisator perubahan taktik timnas. Selama masa kepemimpinannya di Inter Milan, Conte berhasil mengimplementasikan formasi 3-5-2 yang fleksibel, memanfaatkan kecepatan wing-back dan kehadiran striker yang versatile. Jika diterapkan pada Timnas Italia, formasi serupa dapat memanfaatkan pemain sayap seperti Federico Chiesa serta striker berbadan kuat seperti Andrea Belotti, sambil tetap mempertahankan struktur pertahanan yang solid.
Namun, tantangan tidaklah ringan. Salah satu kritik utama terhadap Conte adalah gaya manajerialnya yang terkadang keras, yang dapat memicu ketegangan dengan pemain senior. Selain itu, menyeimbangkan ekspektasi publik dengan kebutuhan untuk membangun tim jangka panjang menjadi tugas yang menuntut kebijaksanaan. FIGC tampaknya sadar akan risiko ini, karena mereka berencana memberikan ruang bagi Conte untuk mengimplementasikan visi taktisnya secara bertahap, sambil tetap mengutamakan hasil kompetitif dalam fase kualifikasi Euro 2024.
Proses seleksi resmi masih berlangsung, dengan FIGC menjadwalkan pertemuan internal dan evaluasi kandidat pada minggu-minggu mendatang. Jika keputusan akhir mengukuhkan Conte sebagai pelatih kepala, langkah selanjutnya adalah menyusun staf pendukung, termasuk asisten pelatih, pelatih kebugaran, dan analis taktik, yang semuanya diharapkan selaras dengan filosofi pelatihan Conte.
Komunitas sepak bola Italia menyambut kabar ini dengan antusiasme. Forum penggemar, media sosial, dan kolom opini di media utama menyoroti harapan bahwa kehadiran Conte dapat mengembalikan semangat juara yang sempat memudar setelah kegagalan di fase grup Piala Dunia 2022. Sejumlah analis menilai bahwa kombinasi antara pengalaman internasional dan pemahaman mendalam tentang budaya sepak bola Italia menjadikan Conte pilihan strategis bagi FIGC.
Kesimpulannya, dukungan luas dari elite FIGC menegaskan posisi Antonio Conte sebagai kandidat terkuat untuk memimpin Timnas Italia. Keberhasilan masa lalu, visi taktis yang progresif, serta kepercayaan dari otoritas sepak bola nasional menyiapkan panggung bagi Conte untuk memulai babak baru dalam kariernya. Jika terpilih, tantangan selanjutnya adalah menyatukan generasi pemain yang beragam, mengoptimalkan taktik modern, dan menuntun Italia kembali ke puncak kompetisi internasional.