123Berita – 07 April 2026 | Petenis papan atas Indonesia, Andrie Yunus, kembali menjadi sorotan publik setelah menjalani operasi mata kelima pada minggu ini. Operasi tersebut dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah tim medis mencatat penurunan tajam pada fungsi penglihatan mata kanannya. Penurunan tersebut dikaitkan dengan paparan zat kimia berbahaya yang dikenal sebagai “air keras” selama proses latihan intensif, menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang pada karier atlet tersebut.
Operasi kelima ini tidak hanya menjadi upaya medis, tetapi juga simbol ketangguhan Andrie dalam menghadapi rintangan. Selama kariernya, Andrie telah menjalani empat operasi mata sebelumnya, masing-masing dengan tujuan memperbaiki kondisi retina, mengatasi degenerasi makula, serta memperbaiki kelainan refraktif. Namun, kali ini dokter menekankan bahwa prosedur yang dilakukan lebih kompleks karena melibatkan penggantian jaringan yang terdampak oleh bahan kimia berbahaya.
Tim medis RSCM memaparkan rangkaian prosedur yang dilaksanakan. Pertama, dilakukan pembedahan mikro menggunakan laser untuk menghilangkan jaringan yang rusak pada kornea. Selanjutnya, dilakukan transplantasi jaringan konjungtiva yang bersifat regeneratif, yang diharapkan dapat menstabilkan permukaan mata dan memperbaiki kualitas visual. Proses akhir meliputi pemberian obat antiinflamasi dan antibiotik khusus untuk mencegah infeksi serta mendukung proses penyembuhan.
Setelah operasi, Andrie dipantau secara intensif di unit perawatan khusus. Dokter menyatakan bahwa dalam 24 jam pertama, mata kanan menunjukkan tanda-tanda peradangan yang wajar, namun tidak ada indikasi komplikasi serius. “Kami akan terus memantau tekanan intraokular, respons pupil, serta kemampuan fokus visual,” ungkap Dr. Rini Setiawan, kepala tim oftalmologi RSCM. “Jika semua berjalan sesuai rencana, Andrie diharapkan dapat kembali ke lapangan dalam beberapa minggu, meski proses rehabilitasi visual tetap memerlukan waktu yang tidak singkat.”
Penurunan penglihatan pada mata kanan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan penggunaan bahan kimia dalam pelatihan atlet. Air keras, yang biasanya dipakai untuk membersihkan peralatan dan permukaan lapangan, mengandung senyawa asam kuat yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata. Beberapa pihak mengusulkan regulasi lebih ketat dalam penggunaan bahan tersebut, terutama di lingkungan olahraga yang melibatkan kontak intensif antara atlet dan peralatan.
Sejumlah pakar kesehatan olahraga menilai bahwa kejadian ini menjadi peringatan bagi semua pihak terkait. “Kesehatan mata atlet sering kali terabaikan karena fokus utama biasanya pada kebugaran fisik dan strategi permainan,” kata Prof. Dr. Ahmad Fauzi, pakar kedokteran olahraga dari Universitas Indonesia. “Pencegahan melalui penggunaan alat pelindung, ventilasi yang baik, serta prosedur keamanan bahan kimia harus menjadi standar operasional di setiap fasilitas olahraga.”
Sementara itu, Andrie sendiri menyampaikan rasa syukurnya atas dukungan tim medis, keluarga, dan para penggemar. Dalam sebuah pernyataan singkat, ia mengatakan, “Saya berterima kasih kepada dokter dan staf RSCM yang telah bekerja keras. Saya berjanji akan tetap berjuang, tidak hanya untuk kembali ke lapangan, tetapi juga untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mata bagi atlet.”
Rehabilitasi visual menjadi tahap berikutnya yang tidak kalah penting. Tim optometris akan memberikan program latihan mata yang meliputi terapi visual, penggunaan kacamata khusus, serta latihan konsentrasi cahaya. Proses ini diperkirakan memakan waktu antara dua hingga tiga bulan, tergantung pada respons tubuh Andrie terhadap perawatan pasca operasi.
Komunitas bulu tangkis Indonesia menyambut kabar ini dengan doa dan dukungan. Beberapa rekan satu tim, termasuk pemain senior dan pelatih, mengirimkan pesan motivasi melalui media sosial, menekankan pentingnya semangat pantang menyerah. “Andrie selalu menjadi inspirasi bagi kami. Kami yakin dia akan kembali lebih kuat,” tulis pelatih kepala Tim Nasional Bulu Tangkis, Eng Hian.
Kasus Andrie Yunus juga membuka diskusi lebih luas mengenai perlindungan kesehatan atlet di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga diharapkan dapat memperkuat regulasi terkait penggunaan bahan kimia berbahaya di fasilitas olahraga serta meningkatkan standar keselamatan kerja. Upaya edukasi kepada pelatih dan atlet mengenai risiko kesehatan mata juga menjadi agenda penting ke depan.
Secara keseluruhan, operasi kelima yang dijalani Andrie Yunus menandai babak baru dalam perjuangannya melawan komplikasi visual. Meskipun tantangan masih panjang, dukungan medis, tim, dan publik memberikan harapan bahwa sang atlet akan kembali ke puncak prestasi. Kejadian ini sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi dunia olahraga untuk menempatkan kesehatan mata setara dengan aspek fisik lainnya, demi menjaga kesejahteraan jangka panjang para atlet.