123Berita – 06 April 2026 | Koordinator Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyoroti dinamika harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi, khususnya varian Pertamax Cs, dalam sebuah pertemuan internal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Pernyataan beliau menimbulkan spekulasi luas di kalangan pelaku industri, pengendara, dan konsumen mengenai kemungkinan kenaikan tarif pada jenis BBM premium tersebut.
Dalam konteks pertamina, produsen utama BBM di Indonesia, Airlangga menegaskan bahwa perusahaan negara tersebut terus berupaya menjaga stabilitas pasokan sekaligus menyeimbangkan margin operasional. “Kami tidak menutup kemungkinan penyesuaian harga, namun penyesuaian tersebut akan didasarkan pada perhitungan komprehensif yang melibatkan faktor produksi, distribusi, hingga kebijakan perpajakan,” jelasnya. Penekanan pada pendekatan berbasis data ini diharapkan dapat meredam spekulasi pasar dan memberikan kepastian bagi konsumen.
Sebagai tambahan, koordinator menyinggung pentingnya peran subsidi energi dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama di sektor transportasi yang sangat bergantung pada BBM premium. Namun, ia mengingatkan bahwa subsidi harus diimbangi dengan upaya diversifikasi energi, seperti peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dan pengembangan kendaraan listrik. “Kebijakan energi harus selaras dengan agenda dekarbonisasi dan pengurangan ketergantungan pada minyak mentah,” tuturnya.
Pengamat ekonomi menilai pernyataan Airlangga sebagai sinyal bahwa pemerintah belum memutuskan secara definitif mengenai kenaikan harga Pertamax Cs. Mereka menyoroti bahwa dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak mentah Brent mengalami peningkatan signifikan, yang dapat menambah tekanan pada harga BBM domestik. Di sisi lain, nilai tukar rupiah yang relatif stabil memberikan ruang bagi otoritas untuk menunda penyesuaian harga, setidaknya dalam jangka pendek.
Berbagai skenario juga dipertimbangkan, termasuk penyesuaian tarif secara bertahap selama tiga hingga enam bulan ke depan, atau penetapan harga plafon yang mengacu pada rata‑rata harga internasional. Kebijakan ini akan disampaikan melalui keputusan Menteri Keuangan dan diumumkan secara resmi kepada publik. Sementara itu, konsumen diharapkan tetap waspada dan memantau perkembangan resmi melalui kanal resmi pemerintah.
Dengan latar belakang situasi global yang masih tidak menentu, khususnya terkait konflik geopolitik dan kebijakan produksi OPEC, keputusan akhir mengenai harga Pertamax Cs akan sangat bergantung pada dinamika pasar yang terus berubah. Airlangga menutup pernyataannya dengan menekankan komitmen pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi makro dan kesejahteraan masyarakat.
Secara keseluruhan, pernyataan Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan harga BBM, termasuk Pertamax Cs, masih dalam tahap evaluasi menyeluruh. Konsumen dan pelaku industri disarankan untuk tetap mengikuti informasi resmi dan menyiapkan diri menghadapi kemungkinan penyesuaian harga yang akan datang.