123Berita – 08 April 2026 | Setiap orang tua pasti pernah mengalami momen menegangkan ketika si kecil tiba-tiba menggigit teman bermain atau bahkan orang dewasa di sekitarnya. Reaksi pertama biasanya berupa rasa malu, khawatir, bahkan panik. Padahal, pada usia dini, perilaku menggigit merupakan bagian dari proses belajar mengelola emosi dan berkomunikasi. Anak belum memiliki kemampuan verbal yang cukup untuk mengekspresikan kemarahan, frustrasi, atau rasa penasaran, sehingga mereka memilih cara instan yang paling mudah: menggigit.
Menangani kebiasaan ini tidak cukup dengan sekadar melarang. Orang tua perlu menjadi fasilitator yang membantu balita menemukan alternatif yang lebih aman untuk menyalurkan perasaan. Berikut sepuluh strategi praktis yang dapat diterapkan secara konsisten untuk menjinakkan kebiasaan menggigit tanpa menimbulkan stres berlebih bagi bunda.
- Tanggapi dengan cepat dan tegas
Segera beri respons saat anak mulai menggigit. Gunakan kalimat singkat, misalnya “Jangan menggigit!” dengan nada tegas namun tetap tenang. Respons cepat mengajarkan anak bahwa perilaku tersebut tidak akan mendapatkan apa yang diinginkan, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar mengalihkan perhatian ke aktivitas lain. - Ajarkan komunikasi verbal
Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan menggunakan kata-kata sederhana. Misalnya, “Aku tidak mau” atau “Tolong beri mainan itu”. Latihan ini dapat dilakukan dalam situasi sehari-hari, sehingga anak terbiasa mengekspresikan kebutuhan tanpa harus mengandalkan tindakan agresif. - Validasi perasaan
Berikan pengakuan atas emosi yang dirasakan anak. Ucapan seperti “Aku mengerti kamu marah karena mainanmu diambil” diikuti dengan pelukan dapat menenangkan hati kecil dan memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak. - Identifikasi pemicu
Amati pola situasi yang memicu gigitan, misalnya saat mainan direbut, ketika anak lelah, atau ketika ada perubahan lingkungan seperti pindah rumah. Dengan mengetahui pemicunya, orang tua dapat menyiapkan strategi pencegahan, seperti menyediakan mainan cadangan atau memberi waktu istirahat yang cukup. - Jangan biarkan anak “menang”
Jika anak berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya lewat gigitan, perilaku tersebut akan terus terulang. Pastikan konsekuensi yang konsisten, sehingga anak belajar bahwa agresi tidak menghasilkan keuntungan. - Fokus pada korban
Berikan perhatian lebih kepada anak yang digigit, tunjukkan empati, dan puji perilaku positif yang ditunjukkan oleh anak lain, misalnya memberi giliran main. Hal ini mengajarkan bahwa perhatian dapat diperoleh melalui sikap baik, bukan melalui perilaku negatif. - Awasi dengan cermat
Pengawasan ekstra diperlukan terutama saat anak bermain dengan teman sebaya. Antisipasi situasi berpotensi konflik dengan mengatur area bermain yang aman dan menghindari mainan yang mudah memicu persaingan. - Sediakan alternatif aman
Berikan benda yang boleh digigit, seperti kain lap bersih atau teether. Dengan mengalihkan dorongan menggigit ke objek yang tidak berbahaya, anak belajar menyalurkan kebutuhan oral mereka secara tepat. - Berikan perhatian ekstra pada masa sulit
Perubahan signifikan seperti pindah rumah, proses penyapihan, atau kehadiran adik baru dapat menimbulkan kecemasan. Memberikan waktu khusus, misalnya sesi membaca atau bermain bersama, dapat menurunkan intensitas perilaku menggigit. - Jadilah contoh positif
Orang tua adalah model utama bagi balita. Hindari bercanda dengan menggigit atau tindakan agresif lain di depan anak. Tindakan konsisten yang menonjolkan cara berinteraksi yang lembut akan menjadi acuan bagi mereka.
Implementasi strategi di atas membutuhkan konsistensi dan kesabaran. Perubahan perilaku tidak akan terjadi dalam semalam, namun dengan pendekatan yang tepat, balita akan belajar mengekspresikan emosi secara verbal dan mengurangi kecenderungan menggigit. Orang tua juga dianjurkan untuk tetap memantau perkembangan anak secara berkala dan berkonsultasi dengan profesional jika perilaku agresif terus berlanjut atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan.
Inti dari semua langkah ini adalah menciptakan lingkungan yang aman, penuh empati, dan mendukung perkembangan bahasa serta regulasi emosi anak. Dengan demikian, kebiasaan menggigit dapat diatasi tanpa menambah beban mental bagi bunda, sekaligus memperkuat ikatan keluarga yang harmonis.





