123Berita – 07 April 2026 | Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap kualitas dan kuantitas hasil pertanian di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah melakukan pertemuan dengan kelompok tani setempat di Desa Mata Air. Kunjungan tersebut menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan bagi anak-anak sekolah di seluruh Indonesia.
Dalam dialog yang berlangsung selama lebih dari satu jam, Gibran menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, petani, dan lembaga terkait untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan pangan bergizi. Ia menekankan bahwa hasil tani Kupang, yang meliputi sayuran hijau, umbi-umbian, serta buah-buahan tropis, memiliki nilai gizi yang tinggi dan cocok dijadikan bahan utama dalam penyediaan makanan bergizi bagi siswa.
Kelompok tani yang hadir, dipimpin oleh Ketua Koperasi Tani Sejahtera, melaporkan peningkatan produksi sejak program pendampingan pertanian yang digencarkan pemerintah daerah. Melalui bantuan bibit unggul, pelatihan teknik irigasi ramah lingkungan, serta akses ke pasar melalui platform digital, para petani berhasil meningkatkan produktivitas lahan hingga 30 persen dalam dua tahun terakhir.
Gibran menilai pencapaian tersebut sebagai contoh nyata bahwa kebijakan yang berfokus pada pemberdayaan petani dapat menghasilkan dampak ganda: meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Ia menambahkan, “Dengan mengoptimalkan hasil lokal, kita tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang optimal di setiap sekolahnya.”
Pernyataan tersebut selaras dengan tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis, yang diluncurkan pada tahun 2022 sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi angka stunting dan meningkatkan prestasi belajar. Program ini menargetkan lebih dari 12 juta siswa di tingkat SD, SMP, dan SMA, dengan menyediakan makanan bergizi setiap hari sekolah tanpa biaya.
Untuk mengefektifkan distribusi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Sosial, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Melalui mekanisme pengadaan yang transparan, hasil pertanian dari daerah seperti Kupang dipilih berdasarkan standar kualitas yang meliputi kandungan vitamin A, zat besi, dan protein. Selanjutnya, makanan tersebut diolah oleh penyedia katering yang telah terakreditasi, sehingga menghasilkan menu seimbang yang terdiri atas sayur-sayuran, sumber karbohidrat, serta lauk pauk yang mengandung protein hewani atau nabati.
Di samping aspek teknis, Gibran juga menekankan pentingnya pelibatan generasi muda dalam rantai pasok pangan. Ia mengusulkan pembentukan program magang bagi siswa SMK pertanian di Kupang, sehingga mereka dapat belajar langsung di lapangan, menguasai teknik budidaya modern, serta memahami proses logistik makanan yang akan mereka konsumsi di sekolah.
Kelompok tani menyambut baik usulan tersebut dan mengajukan rencana kerja jangka panjang yang mencakup:
- Peningkatan lahan pertanian organik seluas 500 hektar dalam lima tahun ke depan.
- Pengembangan sistem penyimpanan dingin (cold storage) untuk memperpanjang masa simpan hasil panen.
- Penerapan teknologi pertanian presisi berbasis satelit untuk mengoptimalkan penggunaan air dan pupuk.
Jika direalisasikan, langkah-langkah tersebut diharapkan dapat menambah volume pasokan bahan makanan bagi Program MBG hingga 20 persen pada tahun 2028. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan angka stunting nasional dari 27,7 persen menjadi di bawah 15 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun.
Pemerintah daerah Kupang juga menyiapkan kebijakan insentif fiskal bagi petani yang berkontribusi pada program pemerintah, termasuk pengurangan pajak pertanian dan pemberian subsidi pupuk organik. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat motivasi petani untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas hasil tani.
Secara keseluruhan, kunjungan Gibran ke Kupang mencerminkan upaya terkoordinasi antara tingkat pusat dan daerah dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk kepentingan nasional. Dengan memprioritaskan hasil pertanian daerah sebagai bahan utama Program Makan Bergizi Gratis, pemerintah tidak hanya menjawab tantangan gizi di kalangan anak-anak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani di wilayah terpencil.
Ke depan, sinergi yang terjalin di antara berbagai kementerian, lembaga, dan komunitas tani diperkirakan akan menjadi model replikatif bagi provinsi lain. Jika berhasil, pendekatan ini dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan masyarakat terhadap produk lokal yang berkualitas.





