Tes Narkoba di Lapas Gorontalo Hasil Negatif, Semua Petugas dan Tahanan Bebas Narkoba

Tes Narkoba di Lapas Gorontalo Hasil Negatif, Semua Petugas dan Tahanan Bebas Narkoba
Tes Narkoba di Lapas Gorontalo Hasil Negatif, Semua Petugas dan Tahanan Bebas Narkoba

123Berita – 07 April 2026 | Gorontalo, 7 April 2026 – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Gorontalo berhasil menyelesaikan serangkaian tes narkoba yang melibatkan seluruh petugas keamanan serta warga binaan di institusi tersebut. Hasil yang diumumkan menunjukkan tidak ada satu pun individu yang terdeteksi mengonsumsi atau membawa zat terlarang, menegaskan komitmen kuat Lapas Gorontalo dalam menciptakan lingkungan bebas narkoba.

Program tes narkoba ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai dari Senin hingga Rabu pekan lalu, dengan melibatkan lebih dari 350 orang, termasuk petugas keamanan, staf administrasi, serta 200 warga binaan yang berada di dalam fasilitas. Metode pengujian menggunakan urine screening yang telah terakreditasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), memastikan akurasi hasil yang tinggi.

Bacaan Lainnya

Koordinator BNN Kota Gorontalo, Irwan Hidayat, menjelaskan bahwa tujuan utama tes ini bukan sekadar menegakkan aturan, melainkan memperkuat budaya anti-narkoba di lingkungan penjara. “Kami ingin menegaskan bahwa Lapas Gorontalo tidak memberikan ruang bagi peredaran narkotika. Dengan melibatkan semua pihak, kami berharap tercipta sinergi yang dapat mencegah infiltrasi zat terlarang ke dalam sistem pemasyarakatan,” ujarnya.

Selama proses pemeriksaan, setiap peserta diwajibkan mengisi formulir persetujuan serta memberikan sampel urine di ruang khusus yang telah disiapkan dengan standar kebersihan ketat. Petugas BNN yang bertugas melakukan verifikasi identitas secara berjenjang, memastikan tidak terjadi manipulasi data. Hasil tes kemudian diolah oleh laboratorium BNN setempat dan diumumkan secara terbuka pada akhir sesi pemeriksaan.

Direktur Lapas Kelas IIA Gorontalo, Komjen Pol (Purn) H. R. Sulaiman, menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan program ini. “Kami selalu menekankan pentingnya integritas dan disiplin di lingkungan Lapas. Hasil negatif ini merupakan bukti nyata bahwa upaya pencegahan yang kami lakukan berjalan efektif. Kami juga mengapresiasi kerjasama BNN yang profesional,” kata Sulaiman dalam sambutan resmi.

Selain tes urine, Lapas Gorontalo juga meningkatkan pengawasan melalui pemasangan kamera CCTV di area-area strategis, serta melakukan inspeksi rutin pada barang bawaan yang masuk dan keluar dari fasilitas. Langkah-langkah ini dipandang sebagai bagian dari kebijakan zero tolerance terhadap narkoba, sejalan dengan arahan Kementerian Hukum dan HAM serta Direktorat Nasional BNN.

Para warga binaan yang mengikuti tes menyatakan rasa lega dan aman setelah hasil negatif diumumkan. Seorang narapidana yang memilih untuk tidak menyebutkan nama mengaku, “Kami merasa lebih tenang karena tidak ada narkoba yang mengancam kami. Ini memberi kami kesempatan untuk fokus pada program rehabilitasi yang ditawarkan Lapas.”

Program rehabilitasi di Lapas Gorontalo meliputi pelatihan keterampilan, konseling psikologis, serta kegiatan keagamaan. Semua upaya tersebut dirancang untuk membantu narapidana kembali ke masyarakat dengan bekal positif dan menjauhkan mereka dari potensi kembali ke dunia narkoba.

Keberhasilan tes narkoba ini diharapkan menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lain di Indonesia. BNN Nasional menegaskan rencana untuk memperluas skala tes serupa ke Lapas-lapas lain, terutama di wilayah yang memiliki tingkat penyalahgunaan narkoba yang tinggi. “Kami ingin menciptakan standar nasional dalam pencegahan narkoba di lingkungan penjara, sehingga setiap Lapas dapat menjadi benteng pertama dalam memerangi peredaran narkotika,” kata Kepala BNN Nasional, Dr. Yuniar.

Secara keseluruhan, hasil negatif dari tes narkoba di Lapas Kelas IIA Gorontalo mencerminkan sinergi efektif antara aparat penegak hukum, lembaga rehabilitasi, dan masyarakat. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi pemasyarakatan, tetapi juga memberikan sinyal kuat bahwa upaya pencegahan narkoba dapat berhasil bila didukung oleh kebijakan yang tegas, pelaksanaan yang transparan, dan partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan.

Pos terkait