123Berita – 06 April 2026 | Ketakutan akan stagflasi mulai merusak rasa percaya diri pembeli rumah di Britania Raya. Kombinasi inflasi yang masih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, dan suku bunga kredit perumahan yang terus naik menciptakan lingkungan yang kurang bersahabat bagi pasar properti. Pada kuartal terakhir, indeks kepercayaan pembeli rumah turun ke level terendah dalam dua tahun terakhir, memicu penurunan harga rumah di sebagian besar wilayah Inggris.
Inflasi di Inggris masih berada di atas target Bank of England (BoE) meskipun telah mengalami penurunan moderat. Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan berada di kisaran 6,5 persen, sementara pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya mencatat pertumbuhan 0,2 persen pada kuartal yang sama. Kondisi ini menandakan adanya stagflasi – situasi di mana inflasi tinggi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi lemah.
Suku bunga acuan BoE yang telah dinaikkan secara agresif sejak akhir 2021 kini berada di kisaran 5,25 persen, tingkat tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Kenaikan suku bunga ini berimbas langsung pada tingkat bunga hipotek, yang kini berada di atas 6 persen untuk tenor lima tahun. Bagi calon pembeli rumah, beban cicilan bulanan menjadi jauh lebih berat, sehingga banyak yang menunda atau membatalkan rencana membeli properti.
Data dari Royal Institution of Chartered Surveyors (RICS) mencatat penurunan transaksi penjualan rumah baru sebesar 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, indeks harga rumah (House Price Index) menunjukkan penurunan harga rata-rata sebesar 2,3 persen pada bulan lalu, menandakan penurunan pertama sejak 2017. Penurunan harga ini paling terasa di wilayah London dan selatan Inggris, di mana harga rumah sebelumnya berada pada level tertinggi.
Beberapa faktor utama yang memperparah situasi antara lain:
- Inflasi yang tinggi: Kenaikan biaya hidup memaksa konsumen mengalokasikan dana untuk kebutuhan dasar, mengurangi daya beli untuk investasi properti.
- Stagnasi pendapatan: Gaji riil hampir stagnan atau bahkan menurun setelah disesuaikan dengan inflasi, membuat calon pembeli enggan mengambil hipotek baru.
- Kenaikan suku bunga: Kredit perumahan menjadi lebih mahal, meningkatkan beban cicilan bulanan dan menurunkan kemampuan membeli.
- Ketidakpastian kebijakan moneter: Pasar menantikan keputusan BoE selanjutnya, yang masih diprediksi akan tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Pengembang properti besar seperti Redrow plc dan Persimmon juga merasakan dampak negatif. Redrow melaporkan penurunan order rumah baru sebesar 15 persen pada kuartal terakhir, sementara Persimmon mengumumkan penurunan margin laba bersih karena tekanan biaya material dan tenaga kerja. Analis pasar properti memperkirakan bahwa sektor konstruksi akan terus menghadapi tekanan hingga setidaknya pertengahan 2024.
Di sisi lain, beberapa analis melihat peluang bagi pembeli yang bersedia menunggu. Harga rumah yang turun dapat menjadi titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang, terutama jika inflasi berhasil terkendali dan suku bunga mulai menurun. Namun, risiko tetap tinggi mengingat ketidakpastian kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan ekonomi yang masih lemah.
Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini selama beberapa bulan ke depan, sambil menilai data inflasi terbaru. Jika inflasi berhasil turun ke target 2-3 persen, bank dapat mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter, yang pada gilirannya dapat menstimulasi kembali pasar perumahan. Namun, jika inflasi tetap di atas target, bank kemungkinan akan melanjutkan siklus kenaikan suku bunga, memperpanjang tekanan pada sektor properti.
Secara keseluruhan, stagflasi menimbulkan tantangan serius bagi pasar perumahan Inggris. Penurunan kepercayaan konsumen, kenaikan suku bunga, dan inflasi yang masih tinggi menciptakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi pembeli rumah baru. Meskipun ada potensi penurunan harga yang dapat dimanfaatkan oleh investor jangka panjang, ketidakpastian kebijakan moneter dan prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah tetap menjadi faktor penghambat utama. Untuk mengembalikan kepercayaan, diperlukan kombinasi kebijakan fiskal yang mendukung pendapatan rumah tangga serta langkah-langkah moneter yang menurunkan inflasi tanpa menekan pertumbuhan ekonomi secara berlebihan.





