Rupiah Tetap Rentan, Masa Depannya Tergantung Hasil Gencatan Senjata AS-Iran

Rupiah Tetap Rentan, Masa Depannya Tergantung Hasil Gencatan Senjata AS-Iran
Rupiah Tetap Rentan, Masa Depannya Tergantung Hasil Gencatan Senjata AS-Iran

123Berita – 09 April 2026 | JakartaNilai tukar rupiah masih berada pada zona rawan dalam pekan ini, dengan pergerakannya sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik pasca gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kepala Ekonomi Permata Bank, Josua Pardede, menegaskan bahwa kesepakatan penghentian sementara konflik belum cukup kuat untuk mengubah tren pasar secara fundamental.

Pardede menilai gencatan senjata tersebut lebih tepat dipandang sebagai jeda taktis, bukan solusi permanen. Ia menyoroti bahwa ujian sesungguhnya terletak pada pemulihan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi titik krusial perdagangan minyak dunia. “Jika konflik hanya tertunda, harga minyak berpotensi menetap di kisaran US$100 per barel sebagai level baru,” ujarnya, mengutip laporan Antara.

Bacaan Lainnya

Meski demikian, pasar menunjukkan respons positif terhadap sinyal de-eskalasi. Harga minyak global mengalami koreksi tajam, dengan Brent turun sekitar 16 persen ke level US$91 per barel, sementara WTI melemah sekitar 14 persen. Indeks dolar AS pun mengalami pelemahan tipis, diikuti penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pelaku pasar bahkan mulai membuka kembali peluang penurunan suku bunga Federal Reserve hingga sekitar 60 persen pada akhir tahun.

Kombinasi faktor tersebut memberikan “ruang bernapas” bagi rupiah. Tekanan impor energi sedikit mereda, sementara minat investor terhadap aset negara berkembang mulai membaik. Namun, Josua mengingatkan bahwa efek tersebut masih terbatas. “Sentimen ini lebih berfungsi sebagai penahan tekanan, bukan pendorong penguatan besar,” jelasnya.

Di sisi domestik, tekanan masih belum sepenuhnya hilang. Bank Indonesia mencatat arus keluar dana asing mencapai US$1,1 miliar pada Maret, dipicu oleh ketegangan geopolitik. Dalam kondisi tersebut, ruang kebijakan moneter menjadi semakin sempit. Jika harga minyak bertahan di kisaran US$75 per barel dan rupiah stabil di sekitar Rp16.750 per dolar AS, peluang penurunan suku bunga hampir tidak ada. Sebaliknya, bila harga minyak naik ke US$80 per barel dan rupiah melemah mendekati Rp17.000, kebijakan moneter dapat berbalik menjadi lebih ketat.

Berikut skenario yang dipaparkan oleh Pardede:

  • Skenario moderat: Harga minyak tetap di kisaran US$75-80 per barel, rupiah bergerak di antara Rp16.900‑Rp17.100 per dolar AS. Ini mencerminkan kondisi lemah namun relatif stabil.
  • Skenario optimis: Distribusi energi global pulih, harga minyak tidak kembali melonjak, arus keluar modal asing terkontrol. Dalam situasi ini, rupiah berpotensi menguat di bawah Rp17.000.
  • Skenario pesimis: Konflik kembali memanas, harga minyak kembali ke level US$100 per barel, arus keluar dana asing meningkat. Rupiah dapat menembus batas Rp17.200 atau lebih.

Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah mencatat penguatan terbatas, naik 93 poin atau sekitar 0,54 persen ke level Rp17.012 per dolar AS. Kurs referensi JISDOR yang dikeluarkan Bank Indonesia juga menguat ke Rp17.009 per dolar AS, turun dari posisi sebelumnya Rp17.092.

Meskipun ada perbaikan, pasar tetap berhati-hati. Rupiah masih berada di bayang‑bayang risiko global, dan masa depannya sangat tergantung pada apakah gencatan senjata akan berlanjut menjadi perdamaian atau hanya jeda sebelum gejolak berikutnya. Jika damai dapat dipertahankan, tekanan eksternal akan berkurang, memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar. Sebaliknya, jika ketegangan kembali memuncak, rupiah diperkirakan akan kembali berada di zona lemah, menambah beban pada sektor impor dan inflasi domestik.

Secara keseluruhan, prospek nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan ke depan masih dipengaruhi oleh dua faktor utama: dinamika geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Investor dan pelaku pasar diharapkan tetap memantau perkembangan gencatan senjata AS‑Iran, serta fluktuasi harga minyak dunia, sebagai indikator utama arah pergerakan mata uang nasional.

Kesimpulannya, rupiah saat ini berada pada posisi lemah namun terkontrol, dengan potensi penguatan terbatas tergantung pada stabilitas geopolitik dan kebijakan moneter yang responsif.

Pos terkait