123Berita – 08 April 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan keyakinannya bahwa negara kepulauan ini berada pada posisi yang relatif aman bila dunia terjerumus ke dalam konflik skala besar yang disebut Perang Dunia Ketiga. Pernyataan itu diungkapkan dalam sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintah serta wakil media nasional.
Presiden juga menyoroti peran aktif Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam memperkuat pertahanan siber dan kemampuan militer konvensional. “TNI telah meningkatkan kesiapan operasionalnya, baik di darat, laut, maupun udara. Kami juga berinvestasi pada teknologi pertahanan yang dapat menanggulangi ancaman modern,” tambahnya. Ia menambahkan bahwa kerjasama regional, khususnya dalam forum ASEAN, menjadi landasan penting untuk menghindari eskalasi konflik di kawasan Asia Tenggara.
Sejumlah poin utama yang disampaikan Prabowo dapat diringkas sebagai berikut:
- Letak geografis strategis Indonesia memberi keuntungan defensif.
- Kebijakan luar negeri non-blok menjaga netralitas dalam konflik global.
- Peningkatan kapabilitas TNI, termasuk pertahanan siber.
- Kerjasama keamanan dengan negara ASEAN memperkuat stabilitas regional.
- Komitmen pemerintah pada diplomasi aktif untuk meredam ketegangan internasional.
Di samping itu, Presiden menegaskan bahwa keamanan dalam negeri juga menjadi prioritas utama. “Kita tidak hanya menyiapkan diri menghadapi ancaman eksternal, namun juga harus memastikan stabilitas politik, ekonomi, dan sosial di dalam negeri,” kata Prabowo. Ia menyinggung upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan, energi, serta infrastruktur kritis sebagai bagian dari strategi nasional untuk menanggulangi potensi guncangan eksternal.
Pernyataan Prabowo muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa wilayah dunia, termasuk persaingan di Laut China Selatan, konflik di Ukraina, serta dinamika hubungan besar antara Amerika Serikat dan China. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, risiko spillover atau tekanan ekonomi tetap menjadi perhatian. Pemerintah menekankan pentingnya diversifikasi hubungan perdagangan dan sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu pihak.
Para analis politik menilai bahwa sikap optimis Prabowo mencerminkan upaya pemerintah untuk menenangkan publik dan menjaga iklim investasi. “Jika investor merasa Indonesia berada dalam zona aman, maka aliran modal asing akan terus mengalir, yang pada gilirannya mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Dr. Andi Setiawan, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia. Namun, beberapa kritikus mengingatkan bahwa keamanan tidak hanya bergantung pada posisi geografis, melainkan juga pada kebijakan dalam negeri yang konsisten serta kemampuan diplomasi yang adaptif.
Dalam konteks pertahanan, pemerintah telah mengumumkan rencana modernisasi alutsista, termasuk pengadaan pesawat tempur generasi baru, kapal selam, dan sistem pertahanan udara yang terintegrasi. Program ini diharapkan dapat meningkatkan interoperabilitas antara TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara, serta memperkuat kerja sama dengan mitra strategis seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia.
Selain itu, Indonesia terus memperkuat jaringan intelijen regional melalui forum seperti ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) dan ASEAN Regional Forum (ARF). Keikutsertaan aktif dalam forum-forum tersebut memungkinkan Indonesia untuk memperoleh informasi dini mengenai potensi ancaman serta berkontribusi pada upaya pencegahan konflik secara kolektif.
Kesimpulannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia berada pada posisi yang relatif aman dalam skenario Perang Dunia Ketiga berkat kombinasi letak geografis, kebijakan luar negeri yang non-blok, peningkatan kemampuan pertahanan, serta kerja sama regional yang kuat. Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat ketahanan nasional baik di bidang militer, ekonomi, maupun sosial, guna memastikan stabilitas dan kesejahteraan rakyat Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian global.





