123Berita – 04 April 2026 | Pantai Pangandaran, destinasi pantai terfavorit di Jawa Barat, kembali menjadi magnet utama bagi wisatawan domestik pada libur Paskah tahun ini. Data resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat mencatat lebih dari 56.000 orang menjejak pasir putih dan ombaknya dalam rentang tiga hari libur panjang, menjadikannya salah satu titik tertib paling ramai di wilayah pantai selatan Jawa Barat.
Lonjakan pengunjung terpusat pada tanggal 30 Maret hingga 1 April, ketika mayoritas keluarga, kelompok sekolah, dan rombongan wisata mengisi setiap sudut area pantai. Menurut pengamatan petugas keamanan, puncak kepadatan terjadi pada sore hari, ketika suhu mulai turun dan cahaya matahari masih cukup terang untuk aktivitas berenang serta olahraga pantai. Rata‑rata kedatangan harian mencapai sekitar 18.500 orang, dengan puncak tertinggi tercatat pada hari kedua libur, yakni 1 April, yang menyerap hampir 20.000 pengunjung.
Masuknya ribuan pengunjung sekaligus menimbulkan tekanan signifikan pada infrastruktur transportasi sekitar. Antrean kendaraan, baik mobil pribadi maupun bus pariwisata, melilit hingga menembus gerbang masuk Pantai Pangandaran. Pengendara melaporkan waktu menunggu mencapai 45 menit hingga satu jam pada jam‑jam sibuk, dan beberapa pengunjung bahkan harus menempuh jalur alternatif melalui jalan‑jalan desa kecil di sekitar Cijulang untuk menghindari kemacetan. Pihak kepolisian lalu lintas setempat menempatkan petugas tambahan di titik‑titik strategis guna mengatur arus kendaraan dan memastikan keselamatan pejalan kaki.
Pejabat Dinas Pariwisata Jawa Barat, Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, menyatakan bahwa lonjakan jumlah wisatawan ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang. “Kami menyambut baik antusiasme masyarakat untuk menikmati keindahan alam Pantai Pangandaran, namun kami juga harus memastikan bahwa fasilitas publik, kebersihan, dan keamanan tetap terjaga. Oleh karena itu, tim kami berkoordinasi dengan Satpol PP, Polri, serta pihak kelurahan untuk menambah pos keamanan, menyediakan tempat sampah tambahan, serta menyiapkan tim medis darurat di lokasi,” ujar beliau dalam rapat koordinasi pada hari Selasa, 2 April.
Berita baik lainnya adalah dampak ekonomi yang signifikan bagi penduduk setempat. Pedagang makanan ringan, penjual kerupuk, serta usaha penyewaan perahu kano melaporkan peningkatan penjualan hingga 70 % dibandingkan periode normal. Hotel dan rumah kost di sekitar Pantai Pangandaran mengalami tingkat hunian hampir penuh, dengan rata‑rata tarif kamar naik 15 % selama periode libur. Selain itu, penyedia jasa transportasi, seperti ojek online dan taksi, mencatat lonjakan permintaan yang berimbas pada peningkatan pendapatan harian mereka.
Namun, tingginya volume pengunjung juga memunculkan sejumlah kendala. Sampah plastik, botol mineral, dan kemasan makanan menumpuk di area pantai, memaksa petugas kebersihan bekerja lembur. Beberapa titik parkir menjadi penuh, memaksa wisatawan mencari tempat parkir di area pemukiman yang berdampingan, menimbulkan keluhan dari warga. Pihak berwenang menyiapkan tim pembersihan ekstra dan mengedukasi pengunjung melalui spanduk serta pengeras suara untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Untuk mengantisipasi permasalahan serupa pada musim liburan berikutnya, pemerintah daerah merencanakan beberapa langkah strategis. Antara lain, penambahan fasilitas parkir bertingkat di sisi timur pantai, pembentukan jalur pejalan kaki terpisah dari kendaraan, serta peningkatan kapasitas pos keamanan. Selain itu, program edukasi lingkungan bagi pelajar dan komunitas lokal akan digalakkan guna menumbuhkan budaya peduli kebersihan pantai.
Secara keseluruhan, keberhasilan Pantai Pangandaran menarik 56.000 wisatawan pada libur Paskah menegaskan posisi pantai ini sebagai destinasi unggulan di Jawa Barat. Meskipun terdapat tantangan dalam hal manajemen kerumunan, transportasi, dan kebersihan, sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menunjukkan potensi untuk mengoptimalkan manfaat ekonomi sekaligus melestarikan keindahan alam. Upaya perbaikan infrastruktur dan program edukasi berkelanjutan diharapkan dapat menjadikan liburan berikutnya lebih nyaman, aman, dan ramah lingkungan bagi semua pihak yang berkunjung.



