Mengenal Proses “Mesin Cuci Darah” pada Terapi Bekam: Penjelasan Zaidul Akbar

Mengenal Proses “Mesin Cuci Darah” pada Terapi Bekam: Penjelasan Zaidul Akbar
Mengenal Proses “Mesin Cuci Darah” pada Terapi Bekam: Penjelasan Zaidul Akbar

123Berita – 09 April 2026 | Bekam, yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu, kembali menjadi sorotan setelah ulasan terbaru oleh praktisi kesehatan alternatif, Zaidul Akbar. Ia mengungkap mekanisme fisiologis yang terjadi di dalam tubuh ketika prosedur bekam dilakukan, sekaligus menyoroti manfaat serta risiko yang perlu dipahami oleh masyarakat. Artikel ini menyajikan rangkuman lengkap tentang apa yang terjadi pada aliran darah, jaringan otot, dan sistem saraf selama sesi bekam, serta menilai klaim “mesin cuci darah alami” dari sudut pandang ilmiah.

Berikut rangkaian reaksi fisiologis yang terjadi saat dan setelah sesi bekam, berdasarkan penjelasan Zaidul Akbar:

Bacaan Lainnya
  • Peningkatan aliran mikro‑sirkulasi: Tekanan negatif meningkatkan aliran darah ke area yang dibekam, memperluas pembuluh kapiler, dan membantu mengantarkan oksigen serta nutrisi ke jaringan yang sebelumnya mengalami stagnasi.
  • Pelepasan zat‑zat toksik: Pecahnya kapiler mengakibatkan keluarnya sel‑sel darah merah, plasma, serta zat‑zat limbah metabolik ke permukaan kulit. Zat‑zat ini kemudian dikeluarkan bersama cairan yang terakumulasi dalam cup.
  • Respons inflamasi ringan: Tubuh merespon cedera mikro dengan melepaskan mediator inflamasi seperti histamin dan prostaglandin. Reaksi ini bersifat sementara dan dapat merangsang proses penyembuhan alami.
  • Stimulasi sistem saraf otonom: Tekanan pada kulit dan otot merangsang ujung‑ujung saraf, yang dapat menurunkan ketegangan otot, mengurangi rasa nyeri, dan menyeimbangkan aktivitas sistem saraf simpatis‑parasimpatis.
  • Peningkatan produksi sel darah putih: Beberapa studi kecil menunjukkan bahwa terapi bekam dapat memicu peningkatan sementara jumlah sel darah putih, yang berpotensi memperkuat respon imun tubuh.

Meski terdengar menjanjikan, Zaidul Akbar menekankan bahwa proses “pencucian darah” yang terjadi pada bekam tidak dapat menggantikan fungsi ginjal atau hati dalam detoksifikasi. Bekam bersifat lokal, artinya hanya memengaruhi jaringan di area yang dibekam, sementara organ internal tetap mengandalkan mekanisme fisiologisnya masing‑masing.

Berikut beberapa kondisi kesehatan yang sering dijadikan indikasi oleh praktisi bekam, beserta penjelasan singkat mengapa terapi ini dianggap membantu:

  1. Nyeri otot dan sendi: Dengan meningkatkan aliran darah dan mengurangi ketegangan otot, bekam dapat menurunkan rasa nyeri pada punggung, leher, atau sendi.
  2. Rasa lelah kronis: Stimulasi mikro‑sirkulasi membantu mengembalikan energi seluler, sehingga beberapa orang melaporkan penurunan rasa lelah setelah beberapa sesi.
  3. Gangguan peredaran: Pada individu yang mengalami varises atau pembengkakan, tekanan negatif dapat membantu mengurangi akumulasi cairan.
  4. Masalah kulit: Bekam dapat meningkatkan ekskresi komedo atau jerawat ringan dengan cara mengeluarkan sisa‑sisa kotoran pada lapisan kulit paling atas.

Namun, Zaidul Akbar memperingatkan bahwa tidak semua orang cocok menerima bekam. Berikut daftar kontraindikasi yang harus dipertimbangkan sebelum menjalani terapi ini:

  • Pasien dengan gangguan pembekuan darah atau yang sedang mengonsumsi antikoagulan.
  • Orang yang memiliki luka terbuka, infeksi kulit, atau ruam alergi di area yang akan dibekam.
  • Penderita hipertensi berat yang belum terkontrol.
  • Wanita hamil pada trimester pertama, kecuali di bawah pengawasan medis khusus.

Dalam praktiknya, Zaidul Akbar menekankan pentingnya prosedur higienis. Semua peralatan harus disterilkan, cup harus bersih, dan kulit harus dibersihkan sebelum proses dimulai. Selain itu, durasi bekam biasanya berkisar antara 5 hingga 15 menit per cup, tergantung pada toleransi rasa sakit dan tujuan terapi.

Secara keseluruhan, bekam dapat dipandang sebagai terapi suportif yang berpotensi membantu meningkatkan kualitas hidup, terutama bagi mereka yang mencari alternatif selain obat kimia. Namun, seperti semua bentuk pengobatan, keberhasilan terapi sangat tergantung pada keterampilan praktisi, kondisi kesehatan individu, dan konsistensi penggunaan.

Dalam rangka menghindari penyebaran mitos, Zaidul Akbar menegaskan bahwa istilah “mesin cuci darah alami” lebih bersifat metaforis. Bekam tidak mampu mengeluarkan darah secara keseluruhan atau menghilangkan semua racun tubuh. Sebaliknya, ia berfungsi sebagai stimulus lokal yang memicu proses regenerasi alami.

Para peneliti medis masih terus mengkaji mekanisme kerja bekam dengan metode ilmiah, termasuk penggunaan ultrasonografi untuk memantau aliran darah selama prosedur. Hasil awal menunjukkan peningkatan signifikan pada parameter perfusi kulit, namun bukti kuat mengenai efek jangka panjang pada sistem imun atau penyembuhan penyakit kronis masih terbatas.

Kesimpulannya, terapi bekam, bila dilakukan oleh praktisi berpengalaman dan dengan memperhatikan kontraindikasi, dapat memberikan manfaat berupa peningkatan sirkulasi, pengurangan nyeri, dan rasa relaksasi. Namun, klaim bahwa bekam berfungsi sebagai “mesin cuci darah” harus dipahami sebagai analogi, bukan fakta medis. Bagi masyarakat yang tertarik mencoba, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan profesional, memastikan kebersihan peralatan, serta memantau respons tubuh setelah sesi pertama.

Pos terkait