123Berita – 07 April 2026 | Lora Mamak, nama yang akrab terdengar di kalangan pesantren Madura, sebenarnya adalah panggilan akrab bagi KH Shalahuddin, seorang kiai berpengaruh yang memimpin Pondok Pesantren Annuqayah di Sumenep. Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan agama, ia juga menjadi sorotan publik karena peranannya sebagai suami Inayah Wahid, putri almarhum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kedekatan keluarga ini menjadikan Lora Mamak figur publik yang menarik perhatian baik kalangan religius maupun masyarakat umum.
Sejak muda, KH Shalahuddin telah menapaki jalur pendidikan agama yang ketat. Ia menimba ilmu di beberapa pesantren ternama di Jawa Timur, termasuk di Pondok Pesantren Tebuireng, sebelum akhirnya kembali ke tanah kelahirannya, Madura. Pada awal 1990-an, Lora Mamak mengambil alih kepemimpinan Pondok Pesantren Annuqayah, sebuah lembaga pendidikan Islam yang didirikan oleh kakeknya. Di bawah kepemimpinannya, Annuqayah mengalami transformasi signifikan: kurikulum diperluas, fasilitas fisik ditingkatkan, dan jaringan kerjasama dengan universitas serta lembaga sosial di tingkat nasional dibangun.
Perubahan paling menonjol adalah penerapan metode pengajaran yang memadukan tradisi klasik pesantren dengan pendekatan modern. Lora Mamak menekankan pentingnya literasi digital bagi santri, mengintegrasikan kelas komputer, serta mengadakan pelatihan kepemimpinan yang menyiapkan generasi muda untuk berperan aktif di masyarakat. Hingga kini, Annuqayah meluluskan ribuan santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kompetensi di bidang ekonomi, teknologi, dan sosial.
Di luar dunia pendidikan, Lora Mamak dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial. Ia memprakarsai program beasiswa bagi keluarga kurang mampu, penyediaan fasilitas kesehatan di desa-desa sekitar, serta distribusi pangan selama musim kemarau. Program-program ini sering kali dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga pemerintah daerah, memperlihatkan kemampuan Lora Mamak dalam menjembatani hubungan antara pesantren dan otoritas publik.
Hubungan pernikahannya dengan Inayah Wahid menambah dimensi baru pada peran publiknya. Inayah, yang dikenal sebagai aktivis hak perempuan dan pendiri Yayasan Peduli Anak (YPA), sering kali berkolaborasi dengan Lora Mamak dalam proyek-proyek sosial. Kombinasi latar belakang mereka—pendidikan agama yang kuat dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan—membuat pasangan ini menjadi contoh sinergi antara nilai tradisional dan modernitas.
Kehadiran Lora Mamak di arena politik pun tak dapat diabaikan. Meskipun ia tidak secara resmi mencalonkan diri dalam pemilihan, suaranya sering menjadi acuan dalam diskusi kebijakan pendidikan agama di tingkat provinsi. Ia kerap diundang ke forum-forum kebijakan, memberikan masukan terkait kurikulum madrasah, serta menyoroti pentingnya toleransi antarumat beragama di Madura yang memiliki keragaman budaya.
Pengaruh Lora Mamak tidak terbatas pada Madura saja. Beberapa tokoh nasional, termasuk mantan Menteri Agama, pernah mengunjungi Annuqayah untuk melihat langsung inovasi yang diterapkan. Kunjungan tersebut sering berujung pada publikasi media yang menyoroti keberhasilan pesantren dalam menggabungkan tradisi dengan teknologi, menjadikan Annuqayah contoh bagi pesantren lain di seluruh Indonesia.
Namun, tak selamanya perjalanan Lora Mamak mulus. Pada awal 2020-an, muncul kritik dari sebagian kalangan konservatif yang menilai pendekatan modernisasi terlalu menggeser nilai-nilai tradisional. Lora Mamak menanggapi dengan dialog terbuka, menyatakan bahwa perubahan tidak berarti menghilangkan akar, melainkan menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Ia menegaskan bahwa tujuan utama tetap mencetak generasi yang berlandaskan aqidah kuat serta mampu bersaing di dunia global.
Secara pribadi, Lora Mamak digambarkan sebagai sosok yang rendah hati dan disiplin. Rekan-rekannya menceritakan kebiasaan beliau yang selalu memulai hari dengan shalat subuh, diikuti sesi tadarus Al-Qur’an, sebelum melaksanakan agenda harian di pesantren. Keseimbangan antara kehidupan spiritual dan manajerial menjadi ciri khasnya, menginspirasi banyak santri untuk meneladani pola hidup serupa.
Keberhasilan Lora Mamak dalam memajukan Pondok Pesantren Annuqayah dan kontribusinya di bidang sosial menjadikannya figur yang patut diacungi jempol. Perpaduan antara dedikasi pada pendidikan Islam, kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, serta peranannya sebagai suami Inayah Wahid menegaskan posisi Lora Mamak sebagai tokoh penting dalam lanskap religi dan sosial Indonesia.
Dengan jejak langkah yang terus berkembang, Lora Mamak menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi pusat inovasi, bukan sekadar tempat tradisi. Ke depan, harapan besar menanti agar Annuqayah terus menjadi pelita bagi generasi muda Madura, sekaligus menjadi contoh bagi institusi pendidikan agama di seluruh nusantara.





