123Berita – 04 April 2026 | Seorang selebriti yang tengah naik daun di dunia hiburan Indonesia, Erika Carlina, baru-baru ini menggelar prosesi tedak siten untuk anak pertamanya, Andrew Raxy Neil, pada Jumat, 3 April 2026. Prosesi tersebut tidak sekadar mengikuti tradisi biasa; ia dipilih secara sengaja agar bertepatan dengan Jumat Agung, hari raya penting dalam kalender Kristen. Keputusan ini menimbulkan rasa penasaran di kalangan penggemar dan masyarakat luas, mengapa seorang ibu dengan latar belakang budaya Jawa memilih mengaitkan momen sakral agama lain dengan upacara adat Jawa?
Erika, yang dikenal aktif mengangkat nilai‑nilai budaya dalam setiap penampilannya, menjelaskan bahwa ia ingin menggabungkan dua tradisi yang tampak berbeda itu menjadi satu simbol persatuan. “Kami ingin menekankan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan jembatan yang dapat memperkaya identitas kita,” ujar Erika dalam sambutan singkatnya. Ia menambahkan bahwa keluarga mereka memiliki latar belakang agama yang beragam, sehingga mengaitkan momen religius Kristen dengan upacara Jawa menjadi wujud toleransi yang konkret.
Secara historis, tedak siten merupakan ritual yang mengharuskan anak melangkah di atas batu atau tanah yang ditaburi beras, melambangkan harapan agar anak tumbuh kuat dan mandiri. Upacara biasanya diadakan pada usia 105 atau 130 hari, tergantung pada tradisi daerah. Dalam kasus Andrew Raxy Neil, keluarga memilih usia 130 hari, yang bertepatan dengan Jumat Agung tahun 2026. Penentuan ini tidak bersifat kebetulan; keluarga memantau kalender lunar Jawa dan kalender Gregorian untuk menemukan hari yang tepat.
Selain aspek spiritual, ada pula pertimbangan praktis. Jumat Agung merupakan hari libur nasional di Indonesia, sehingga memungkinkan keluarga, kerabat, dan tamu undangan untuk berkumpul tanpa harus mengganggu jadwal kerja. “Kami ingin semua orang yang kami cintai dapat hadir tanpa rasa bersalah karena harus absen dari pekerjaan,” kata Erika. Hal ini menjadi nilai plus, mengingat banyak selebriti yang mengadakan acara serupa namun harus mengorbankan kehadiran sejumlah penting karena jadwal yang padat.
Tak hanya itu, pemilihan Jumat Agung juga memberikan peluang bagi edukasi lintas budaya kepada publik. Dengan mengumumkan secara terbuka alasan di balik pilihan tanggal, Erika berharap masyarakat dapat melihat bagaimana tradisi dapat beradaptasi dengan konteks zaman modern. “Kami ingin mengajarkan anak‑anak muda bahwa budaya bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan hidup dan dapat berbaur dengan nilai‑nilai universal,” tambahnya.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian netizen memuji keberanian dan kreativitas Erika dalam menggabungkan dua tradisi, sementara yang lain menilai hal tersebut bisa menimbulkan kebingungan atau menyinggung kepercayaan tertentu. Namun, mayoritas komentar menyoroti nilai positif dari sikap toleransi dan inklusif yang ditunjukkan keluarga Carlina.
Di sisi lain, para ahli budaya menilai keputusan ini sebagai contoh evolusi tradisi dalam era globalisasi. Dr. Budi Santoso, dosen antropologi Universitas Gadjah Mada, menyatakan, “Jika tradisi dapat beradaptasi dengan konteks sosial‑kultural yang berubah, maka ia tetap relevan dan hidup. Kasus Erika Carlina ini menunjukkan bahwa tradisi Jawa tidak hanya terikat pada kalender Jawa, melainkan dapat bersinergi dengan peristiwa penting lainnya, asalkan niatnya tulus dan menghormati nilai‑nilai asalnya.”
Upacara tedak siten yang dilangsungkan pada Jumat Agung itu sendiri berlangsung dengan rangkaian adat yang kental. Anak kecil Andrew dibawa ke panggung sederhana yang dihiasi anyaman bambu, dihiasi dengan kelopak bunga melati dan anyaman janur. Sesudah prosesi utama, keluarga menyajikan jamu tradisional serta nasi tumpeng mini sebagai simbol rasa syukur. Seluruh acara dihadiri oleh kerabat dekat, sahabat, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Kesimpulannya, pilihan Erika Carlina untuk menyelenggarakan tedak siten pada Jumat Agung bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan keputusan yang dilandasi pertimbangan spiritual, praktis, serta pesan toleransi. Langkah ini mencerminkan upaya mengintegrasikan nilai budaya lokal dengan semangat inklusif yang relevan di era modern, sekaligus memperkuat ikatan keluarga dalam kerangka kebersamaan yang lebih luas. Dengan demikian, prosesi ini tidak hanya menjadi momen penting dalam hidup Andrew Raxy Neil, tetapi juga menjadi contoh bagaimana tradisi dapat dipertahankan sekaligus berinovasi dalam konteks multikultural Indonesia.





