123Berita – 07 April 2026 | Jakarta – Seorang selebritas media sosial yang dikenal dengan nama publik Lucinta Luna kembali menjadi topik hangat setelah secara terbuka mengonfirmasi bahwa dirinya tidak lagi mampu memproduksi sel sperma pasca operasi kelamin yang pernah dijalaninya. Pengakuan tersebut disampaikan dalam sebuah program siniar daring yang dipandu oleh seorang presenter terkenal, Ivan Gunawan, dan ditayangkan pada awal April 2026.
Dalam percakapan santai, Ivan menanyakan kepada Lucinta mengenai kemungkinan masih tersisa sel sperma setelah prosedur perubahan kelamin. Lucinta menjawab dengan tegas bahwa tidak ada sel sperma yang masih ada di tubuhnya. “Tidak ada, seratus persen tidak ada. Saya juga tidak bisa hamil, namun tetap bisa mengangkat anak,” ujarnya tanpa ragu.
Pengakuan ini menegaskan bahwa operasi yang pernah ia jalani tidak hanya mengubah penampilan fisik, tetapi juga menghilangkan kemampuan reproduksi biologis. Bagi Lucinta, yang memiliki nama asli Muhammad Fatah, fakta ini menjadi konsekuensi penting yang harus diterima di tengah proses penyesuaian diri kembali ke kodrat biologisnya sebagai pria.
Setelah lebih dari satu dekade menampilkan diri sebagai perempuan, Lucinta memutuskan untuk kembali menampilkan identitas asalnya. Keputusan tersebut tidak hanya berupa perubahan nama, tetapi juga transformasi total dalam gaya hidup, pakaian, bahkan potongan rambut. Pada perayaan Idulfitri 2026 di Seoul, Korea Selatan, ia membagikan foto di Instagram yang menampilkan dirinya mengenakan baju koko, sarung, dan peci, serta menempati saf pria saat melaksanakan shalat. Penampilan tersebut memperlihatkan rasa percaya diri yang baru dan menegaskan tekadnya untuk hidup sesuai dengan kodrat biologisnya.
Transformasi fisik tersebut juga tampak pada potongan rambutnya yang kini lebih pendek, menyerupai gaya idol K‑Pop pria. Perubahan penampilan ini mendapat beragam reaksi di media sosial, mulai dari dukungan hangat hingga kritik tajam. Meski begitu, Lucinta menegaskan bahwa tujuan utama perubahan ini adalah mencari ketenangan batin dan menyesuaikan diri dengan identitas yang dirasakannya sejak lama.
Dalam wawancara, ia menambahkan bahwa meskipun tidak lagi memiliki peluang untuk memiliki keturunan secara biologis, keinginan untuk menjadi ayah secara simbolis tetap kuat. “Saya ingin salat di saf laki‑laki sesuai kodrat, meskipun saya sudah legal sebagai perempuan,” kata Lucinta. Ia menekankan bahwa proses perubahan identitas gender tidak serta merta menghilangkan keinginan untuk merasakan kedekatan emosional dengan anak, baik melalui adopsi atau peran sebagai figur ayah dalam lingkaran keluarga.
Pengakuan tentang ketidakmampuan menghasilkan sel sperma juga membuka diskusi lebih luas mengenai hak-hak transpuan dan transpria dalam konteks kesehatan reproduksi. Ahli medis menegaskan bahwa operasi penggantian kelamin dapat memengaruhi fungsi reproduksi secara permanen, tergantung pada jenis prosedur yang dipilih. Oleh karena itu, penting bagi individu yang mempertimbangkan perubahan kelamin untuk memperoleh informasi lengkap serta konseling psikologis yang mendalam.
Selain aspek medis, faktor psikologis juga menjadi sorotan. Lucinta mengakui bahwa keputusan kembali ke identitas pria bukan semata‑mata soal penampilan, melainkan upaya mencari kedamaian batin setelah bertahun‑tahun hidup dalam ketegangan identitas. “Saya ingin dicintai dan didukung dalam proses perubahan ini,” ujarnya, menyoroti kebutuhan akan empati masyarakat.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian pengguna media sosial memberikan komentar suportif, menyoroti pentingnya kebebasan individu dalam menentukan identitas gender. Namun, ada pula yang mengkritik keputusan tersebut, menganggapnya sebagai langkah yang terlalu ekstrem atau menganggapnya sebagai pencarian sensasi. Di sisi lain, beberapa komunitas LGBTQ+ menilai keberanian Lucinta sebagai contoh penting bagi mereka yang masih mencari jalan hidup yang autentik.
Secara hukum, perubahan identitas gender di Indonesia masih memerlukan proses administratif yang rumit, termasuk perubahan nama dan jenis kelamin pada dokumen resmi. Lucinta menyatakan bahwa semua prosedur legalitasnya telah selesai, meskipun proses sosial dan emosionalnya masih berjalan. Ia berharap agar publik dapat memberikan ruang bagi proses tersebut tanpa tekanan berlebihan.
Kesimpulannya, pengakuan Lucinta Luna mengenai tidak adanya sel sperma setelah operasi kelamin menegaskan betapa signifikan konsekuensi medis dan psikologis yang menyertai perubahan gender. Keputusan untuk kembali ke identitas pria tidak hanya memengaruhi penampilan luar, melainkan juga menuntut adaptasi dalam aspek sosial, hukum, dan emosional. Dukungan masyarakat, terutama dalam bentuk empati dan pemahaman, menjadi faktor kunci bagi keberhasilan perjalanan pribadi Lucinta dalam menegakkan hak atas identitas diri yang sejati.