Konten TikTok Viral Tiru Mendiang Artis, Mengungkap Motif Psikologis di Baliknya

123Berita – 10 April 2026 | Seorang kreator konten TikTok menjadi sorotan publik setelah mengunggah serangkaian video yang meniru gaya, penampilan, hingga gerakan mendiang artis ternama. Video‑videonya yang meniru sosok tersebut menuai beragam reaksi, mulai dari dukungan hingga kecaman keras. Fenomena ini bukan sekadar trend sesaat; melainkan mencerminkan dinamika psikologis dan sosial yang melibatkan pencarian identitas, kebutuhan validasi, serta tekanan kompetitif di dunia digital.

Kreator yang dipilih nama samaran RizkyViral (nama sebenarnya tidak diungkap) mengklaim bahwa aksi menirunya adalah bentuk penghormatan kepada sang artis yang baru saja meninggal dunia. Ia meniru gaya berpakaian, cara berbicara, serta gerakan khas yang pernah dipopulerkan oleh sang legenda. Video pertama yang diunggah menampilkan dirinya berdiri di depan latar belakang yang mirip set film lama, lengkap dengan musik latar yang pernah menjadi hits artis tersebut.

Bacaan Lainnya

Namun, tidak lama setelah video itu beredar, muncul gelombang kritik tajam. Banyak netizen menilai aksi tersebut tidak sensitif, bahkan menganggapnya sebagai bentuk eksploitasi duka. Sebagian menuduh kreator tersebut memanfaatkan momen berkabung untuk meningkatkan jumlah penonton dan follower. Di sisi lain, ada pula yang memuji keberanian RizkyViral dalam menghidupkan kembali kenangan sang artis melalui platform modern.

Untuk menelaah motivasi di balik tindakan tersebut, seorang psikiater berpraktik di Jakarta, Dr. Anita Prasetyo, dimintai pendapat. Dr. Anita menjelaskan bahwa fenomena meniru atau “memperbanyak” sosok publik yang telah tiada dapat dipahami melalui tiga kerangka utama:

  • Kebutuhan akan pengakuan sosial: Di era media sosial, eksposur menjadi mata uang utama. Kreator konten seringkali merasakan tekanan untuk terus menghasilkan materi yang menonjol, sehingga mereka mencari cara-cara yang dapat memicu reaksi emosional kuat dari penonton.
  • Identifikasi emosional: Meniru tokoh yang dihormati atau dikagumi dapat menjadi cara tidak sadar untuk menginternalisasi kualitas yang diidam‑idamkan, seperti popularitas, bakat, atau kepribadian yang dianggap ideal.
  • Pengolahan duka kolektif: Bagi sebagian orang, meniru mendiang artis dapat menjadi mekanisme coping, yaitu cara mengatasi rasa kehilangan melalui penciptaan kembali citra sang artis dalam konteks yang lebih ringan.

Dr. Anita menambahkan, “Ketika seseorang meniru tokoh yang telah meninggal, ada risiko munculnya dissonansi kognitif. Di satu sisi, ia ingin menghormati, tetapi di sisi lain, ia terjebak dalam ekspektasi publik yang menuntut konten yang selalu ‘viral’. Hal ini dapat menimbulkan stres dan konflik internal yang cukup signifikan.”

Reaksi publik di media sosial pun beragam. Di platform TikTok sendiri, video tersebut mencatat lebih dari 2,5 juta tampilan dalam 48 jam pertama. Komentar terbagi antara “Terima kasih telah mengingatkan kami pada kenangan indah” dan “Ini tidak sopan, jangan pakai momen duka untuk cari perhatian”. Tagar #GantiinMendiangArtis menjadi trending selama tiga hari berturut‑turut, menandakan besarnya perhatian netizen.

Di luar ranah hiburan, fenomena ini menimbulkan pertanyaan etis tentang batas kebebasan berekspresi di ruang digital. Beberapa pakar media berpendapat bahwa platform harus memperketat kebijakan terkait konten yang menyangkut kematian atau duka orang lain, sementara yang lain menekankan pentingnya edukasi bagi kreator agar lebih sensitif dalam mengolah materi yang bersifat pribadi.

Selain itu, fenomena meniru mendiang artis juga mencerminkan tren budaya pop Indonesia yang semakin terhubung dengan globalisasi media. TikTok sebagai platform yang mengedepankan format video pendek memudahkan penyebaran konten semacam ini dengan cepat, sekaligus menurunkan ambang batas kreativitas menjadi “menyulap” kenangan menjadi hiburan.

Secara ekonomi, video viral seperti ini dapat meningkatkan pendapatan kreator melalui sponsor, iklan, dan donasi penonton. Namun, keuntungan finansial tersebut dapat terancam bila publik menolak atau platform menurunkan jangkauan video karena dianggap melanggar kebijakan. Ini menjadi dilema yang harus dihadapi setiap kreator yang berada di persimpangan antara kreativitas, etika, dan profit.

Kesimpulannya, tindakan kreator TikTok yang meniru mendiang artis bukan sekadar aksi iseng, melainkan hasil interaksi kompleks antara keinginan pengakuan, cara mengolah duka, serta dinamika ekonomi digital. Bagi penonton, penting untuk menilai konten dengan kritis, mengingat dampak emosional yang dapat ditimbulkan. Bagi kreator, kesadaran akan tanggung jawab sosial dan etika menjadi kunci untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghormati nilai‑nilai kemanusiaan. Dengan memahami motivasi psikologis di balik fenomena ini, diharapkan masyarakat digital dapat menciptakan ekosistem yang lebih sehat, berimbang, dan penuh empati.

Pos terkait