123Berita – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Kepala Badan Geologi Nasional (BGN) baru-baru ini menyampaikan rencana ambisius pemerintah dalam rangka meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di wilayah-wilayah yang aksesnya masih sangat terbatas. Pemerintah berencana membeli sebanyak 21.800 unit motor listrik buatan MBG dengan harga Rp42 juta per unit. Motor listrik ini akan didistribusikan kepada Satuan Pengelola Penanggulangan Gempa (SPPG) yang beroperasi di daerah-daerah dengan kondisi geografis sulit dijangkau.
Pengadaan motor listrik ini menjadi bagian penting dari strategi nasional untuk memperkuat infrastruktur transportasi ramah lingkungan di daerah-daerah terpencil. Menurut pernyataan Kepala BGN, motor listrik MBG dipilih karena memiliki daya jelajah yang cukup untuk menempuh jarak jauh di medan yang tidak rata, serta dilengkapi dengan sistem pengisian baterai yang dapat dioperasikan menggunakan sumber energi terbarukan, seperti panel surya portable. Dengan harga Rp42 juta per unit, pemerintah menargetkan total nilai pengadaan mencapai lebih dari Rp915 miliar.
Keputusan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya pada peningkatan mobilitas masyarakat di wilayah terpencil, tetapi juga pada upaya mitigasi perubahan iklim. Motor listrik tidak menghasilkan emisi karbon selama penggunaan, sehingga secara tidak langsung membantu menurunkan tingkat polusi udara di daerah yang biasanya belum memiliki jaringan transportasi umum yang memadai.
Distribusi motor listrik akan difokuskan pada SPPG, lembaga yang bertanggung jawab atas penanggulangan bencana gempa bumi dan penanggulangan bencana alam lainnya. Kepala BGN menegaskan bahwa motor listrik ini akan menjadi sarana utama bagi tim SPPG dalam melakukan evakuasi, penilaian kerusakan, serta penyampaian bantuan logistik ke lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau dengan kendaraan bermotor konvensional. “Ketersediaan motor listrik yang andal akan mempercepat respons tim penanggulangan bencana, terutama di daerah pegunungan atau pulau-pulau kecil yang tidak terhubung dengan jaringan jalan raya,” ujar Kepala BGN dalam konferensi pers.
Selain manfaat operasional, motor listrik MBG juga dirancang dengan fitur keselamatan yang tinggi, termasuk sistem pengereman anti-lock (ABS), lampu LED yang hemat energi, serta kerangka yang kuat untuk menahan beban berat. Baterai lithium‑ion berkapasitas tinggi dapat diisi ulang dalam waktu kurang dari tiga jam menggunakan charger portabel, sehingga tim SPPG dapat kembali beroperasi secara cepat setelah melakukan tugas di lapangan.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menyiapkan skema pembiayaan khusus untuk mendukung pengadaan motor listrik ini. Skema tersebut mencakup pembiayaan jangka panjang dengan bunga ringan serta insentif pajak bagi produsen lokal yang terlibat dalam rantai pasokan baterai. Hal ini diharapkan dapat merangsang pertumbuhan industri motor listrik dalam negeri serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan layanan purna jual.
Berbagai pihak terkait, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan dan asosiasi industri otomotif, menyambut baik inisiatif ini. LSM lingkungan menilai bahwa pengadaan motor listrik dalam skala besar akan menjadi contoh nyata implementasi kebijakan hijau di Indonesia. Sementara itu, asosiasi produsen otomotif menilai bahwa proyek ini dapat mempercepat adopsi teknologi kendaraan listrik di pasar domestik, terutama di segmen kendaraan roda dua yang masih didominasi oleh kendaraan berbahan bakar bensin.
Namun, beberapa tantangan masih harus diatasi sebelum motor listrik dapat beroperasi secara optimal di daerah terpencil. Tantangan utama meliputi ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang memadai, terutama di wilayah yang tidak terhubung dengan jaringan listrik utama. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah berencana membangun stasiun pengisian baterai berbasis energi surya di titik-titik strategis, serta menyediakan charger portabel yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
Selain itu, pelatihan khusus bagi personel SPPG juga menjadi prioritas. Kepala BGN menegaskan bahwa setiap anggota tim akan diberikan pelatihan intensif mengenai penggunaan, perawatan, dan perbaikan motor listrik MBG, termasuk prosedur penggantian baterai dan troubleshooting dasar. Dengan demikian, tim dapat mengoperasikan motor listrik secara mandiri tanpa harus bergantung pada teknisi eksternal.
Pengadaan motor listrik ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam bidang teknologi kendaraan listrik. Pemerintah menargetkan agar dalam lima tahun ke depan, produksi motor listrik dalam negeri dapat mencapai 100.000 unit per tahun, dengan dukungan kebijakan insentif dan investasi pada riset serta pengembangan baterai yang lebih efisien.
Secara keseluruhan, langkah Kepala BGN untuk mengakuisisi 21.800 motor listrik MBG mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional, sekaligus menegakkan agenda keberlanjutan lingkungan. Dengan mengintegrasikan teknologi kendaraan listrik ke dalam operasi penanggulangan bencana, pemerintah tidak hanya meningkatkan efektivitas respons darurat, tetapi juga membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia.
Ke depan, keberhasilan implementasi program ini akan sangat bergantung pada koordinasi antara kementerian terkait, produsen motor listrik, serta komunitas lokal. Jika semua elemen dapat bekerja sinergis, Indonesia berpotensi menjadi model bagi negara-negara berkembang lainnya dalam mengadopsi solusi transportasi listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.