Kasus Pembunuhan di Purwakarta: Warga Tewas Dikeroyok Preman, Sahroni Tekan Polisi Tangkap Pelaku Utama

Kasus Pembunuhan di Purwakarta: Warga Tewas Dikeroyok Preman, Sahroni Tekan Polisi Tangkap Pelaku Utama
Kasus Pembunuhan di Purwakarta: Warga Tewas Dikeroyok Preman, Sahroni Tekan Polisi Tangkap Pelaku Utama

123Berita – 06 April 2026 | Seorang warga berusia 57 tahun di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, meninggal dunia setelah menjadi korban aksi kekerasan brutal yang dilakukan oleh sekelompok orang tak dikenal pada hari Rabu (17/04). Korban, yang bernama Dadang, merupakan penduduk Desa Kertamukti yang sedang menyaksikan pernikahan anaknya di sebuah rumah warga setempat. Tanpa peringatan, segerombolan preman yang diduga dalam keadaan mabuk menyerbu lokasi tersebut dan memukuli Dadang hingga meninggal dunia.

Insiden terjadi di tengah perayaan pernikahan, saat para tamu masih berkumpul di ruangan utama. Menurut saksi mata, sekelompok pria berpenampilan santai namun tampak agresif tiba-tiba masuk dan mengeluarkan kata-kata provokatif. Tidak lama kemudian, mereka mulai menyerang Dadang dengan pukulan berulang-ulang, meskipun korban sudah berusia lanjut dan tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Penyerang diketahui mengonsumsi minuman beralkohol, yang menurut beberapa saksi meningkatkan agresivitas mereka.

Bacaan Lainnya

Setelah kejadian, kerumunan yang hadir berusaha menenangkan situasi, namun penyerang melarikan diri dengan cepat. Beberapa saksi langsung melaporkan peristiwa tersebut ke pihak kepolisian setempat. Polisi segera melakukan penyelidikan, namun hingga kini yang berhasil ditangkap hanyalah beberapa orang yang dianggap sebagai “kroco-kroco” atau pelaku sekunder, bukan dalang utama di balik aksi kekerasan ini.

Anggota Komisi III DPR RI, Rektor Kesejahteraan Sosial (Kesejahteraan Sosial) Nasional, Sahroni, menanggapi kasus ini dengan keprihatinan mendalam. Dalam sebuah pernyataan resmi, Sahroni menekankan bahwa penangkapan hanya terhadap “kroco-kroco” tidak cukup untuk menegakkan keadilan. Ia mengimbau pihak kepolisian untuk mengejar dan mengungkap identitas serta peran para pelaku utama, termasuk mereka yang memerintahkan atau mengatur aksi kekerasan tersebut.

“Jangan sampai kasus ini berakhir hanya dengan penangkapan korban sampingan. Kita harus menuntut pertanggungjawaban mereka yang berada di balik kekerasan ini,” ujar Sahroni. Ia menambahkan bahwa masyarakat berhak atas rasa aman, terutama pada acara-acara penting seperti pernikahan, yang seharusnya menjadi momen kebahagiaan, bukan tragedi.

Kasus ini menambah daftar panjang insiden kekerasan di wilayah Purwakarta dalam beberapa bulan terakhir. Menurut data kepolisian, wilayah Jawa Barat memang menunjukkan peningkatan kasus kejahatan jalanan, terutama yang melibatkan preman yang beroperasi secara kelompok. Penyebab utama sering kali dikaitkan dengan konsumsi alkohol, persaingan antar geng, serta kurangnya pengawasan di area publik.

Di sisi lain, keluarga korban menyampaikan rasa duka yang mendalam sekaligus kekecewaan atas penanganan kasus ini. Istri dan anak-anak Dadang mengaku tidak dapat menerima kenyataan bahwa seorang ayah dan suami yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga harus mengorbankan nyawanya dalam sebuah peristiwa yang seharusnya tidak pernah terjadi. Mereka menuntut keadilan yang setimpal dan berharap polisi dapat menyelesaikan penyelidikan secara tuntas.

Pihak kepolisian Purwakarta menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan. Tim penyidik telah melakukan olah TKP, mengumpulkan rekaman CCTV dari sekitar lokasi, serta melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang berada di tempat kejadian. Hingga kini, polisi telah mengidentifikasi beberapa tersangka yang diduga menjadi pelaku utama, namun proses penangkapan masih mengalami kendala karena adanya jaringan perlindungan di antara para preman.

Para ahli keamanan menilai bahwa kasus ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat penegakan hukum di wilayah perkotaan dan pedesaan. “Penangkapan hanya preman kecil tanpa mengusut jaringan yang lebih besar justru akan memperpanjang siklus kekerasan,” kata Dr. Budi Santoso, dosen Kriminologi Universitas Padjadjaran. Ia menambahkan bahwa koordinasi antar lembaga, termasuk kepolisian, kejaksaan, dan pemerintah daerah, harus ditingkatkan untuk mengatasi akar permasalahan.

Selain itu, masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam melaporkan aksi kekerasan dan membantu pihak berwajib mengidentifikasi pelaku. Penguatan program pencegahan, seperti penyuluhan tentang bahaya alkohol dan kampanye anti-preman, juga dianggap penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Kasus pembunuhan Dadah di Purwakarta ini menjadi pelajaran keras bagi seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya keamanan publik, terutama pada acara-acara yang melibatkan banyak orang. Diharapkan, dengan tekanan publik dan desakan tokoh politik seperti Sahroni, proses hukum dapat berjalan lebih cepat dan menghasilkan putusan yang adil bagi korban serta keluarganya.

Penegakan hukum yang tegas dan transparan akan menjadi indikator utama bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan rasa aman warga. Keluarga korban, serta seluruh masyarakat Purwakarta, menantikan keadilan yang sesungguhnya dapat ditegakkan, bukan sekadar penangkapan preman kecil yang tidak menyentuh akar permasalahan.

Pos terkait