123Berita – 05 April 2026 | Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Pemkot JKS) mengumumkan rencana pembangunan waduk seluas 2,8 hektare di kawasan Jalan Rengas, Bintaro. Proyek ini diharapkan menjadi salah satu solusi utama untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap melanda wilayah selatan ibu kota, khususnya pada musim hujan lebat. Dengan kapasitas penampungan yang signifikan, waduk baru ini dirancang untuk menampung aliran air hujan secara maksimal, sehingga mengurangi risiko genangan air di area pemukiman, jalan raya, dan fasilitas publik.
Rencana pembangunan waduk Bintaro ini merupakan bagian dari program terpadu Penanggulangan Banjir Jakarta (PPBJ) yang dicanangkan oleh pemerintah provinsi serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) DKI Jakarta. Menurut pejabat terkait, pemilihan lokasi di Jalan Rengas didasarkan pada kajian hidrologi yang menunjukkan bahwa area tersebut memiliki potensi penyerapan air yang tinggi serta dapat menghubungkan jaringan drainase eksisting dengan sistem retensi air baru.
Waduk seluas 2,8 hektare setara dengan sekitar 28.000 meter persegi lahan, dengan desain yang mencakup area penampungan utama, zona rekreasi, serta fasilitas pendukung seperti jalur pejalan kaki dan area hijau. Selain fungsi utama sebagai penahan banjir, pengelolaan ruang terbuka hijau di sekitarnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan, menurunkan suhu udara, serta memperbaiki kualitas udara di kawasan Bintaro yang kini semakin padat penduduk.
Berikut beberapa poin penting terkait proyek waduk Bintaro:
- Skala dan Kapasitas: Waduk direncanakan memiliki kapasitas penampungan air mencapai 3,5 juta meter kubik, cukup untuk menampung curah hujan ekstrem yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
- Waktu Pelaksanaan: Pekerjaan konstruksi diperkirakan memakan waktu 24 bulan, dengan fase pertama berupa pembebasan lahan, penggalian, dan pembangunan struktur utama.
- Anggaran: Total biaya proyek diperkirakan mencapai Rp 750 miliar, yang bersumber dari dana APBD Jakarta Selatan serta dukungan pendanaan dari pemerintah provinsi DKI Jakarta.
- Manfaat Sosial: Selain mengurangi banjir, waduk akan menyediakan area publik yang dapat dimanfaatkan warga untuk aktivitas olahraga, rekreasi, dan edukasi lingkungan.
Pejabat Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang DKI Jakarta, Ir. Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa waduk Bintaro akan terintegrasi dengan sistem drainase kota yang sudah ada, termasuk kanal-kanal utama yang mengalirkan air ke Sungai Ciliwung. “Dengan menambahkan kapasitas penampungan di titik strategis seperti Bintaro, kami dapat mengoptimalkan aliran air dan mencegah terjadinya genangan yang merusak infrastruktur dan mengganggu aktivitas warga,” ungkapnya.
Selain itu, pemerintah kota menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Konsultasi publik dijadwalkan secara berkala untuk mendengarkan aspirasi warga, khususnya terkait penggunaan lahan di sekitar waduk. Pihak pemkot juga berjanji akan menyiapkan program edukasi tentang pengelolaan sampah dan pencegahan pencemaran air, mengingat kualitas air yang masuk ke waduk sangat dipengaruhi oleh aktivitas penduduk sekitar.
Pengalaman Jakarta Selatan dalam menanggulangi banjir tidak baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, daerah ini telah mengalami beberapa kali kejadian banjir yang menyebabkan kerusakan properti, terganggunya transportasi, dan kerugian ekonomi yang signifikan. Salah satu contoh terbesar terjadi pada awal 2022, ketika curah hujan ekstrem mengakibatkan meluasnya genangan di beberapa wilayah, termasuk Bintaro, Cipete, dan Pondok Labu. Kejadian tersebut menjadi pemicu utama bagi pemerintah daerah untuk mempercepat implementasi infrastruktur penahan air.
Dalam konteks perubahan iklim, risiko banjir diprediksi akan semakin meningkat. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa intensitas hujan lebat di wilayah Jakarta diperkirakan naik 15-20% dalam dua dekade mendatang. Oleh karena itu, pembangunan waduk Bintaro tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan kota terhadap dampak iklim.
Selain manfaat teknis, waduk ini juga diharapkan menjadi aset ekonomi bagi daerah sekitar. Dengan adanya area rekreasi dan taman di sekelilingnya, potensi pengembangan usaha kecil, seperti kafe, penyewaan sepeda, dan kegiatan budaya dapat meningkat. Pemerintah kota berencana untuk melibatkan pelaku usaha lokal dalam pengelolaan fasilitas pendukung, sehingga tercipta sinergi antara mitigasi bencana dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Proyek ini juga akan membuka lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, mulai dari tenaga konstruksi hingga tenaga ahli lingkungan. Dinas Tenaga Kerja Jakarta Selatan telah menyiapkan program pelatihan bagi warga setempat, sehingga mereka dapat berpartisipasi dalam proses pembangunan sekaligus meningkatkan keterampilan kerja.
Secara keseluruhan, pembangunan waduk seluas 2,8 hektare di Bintaro merupakan langkah konkret yang menggabungkan aspek teknis, sosial, dan ekonomi dalam rangka mengurangi risiko banjir di Jakarta Selatan. Dengan dukungan anggaran yang kuat, pelibatan masyarakat, serta integrasi dengan jaringan drainase yang ada, proyek ini diharapkan dapat menjadi contoh sukses penanggulangan banjir yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada pelaksanaan tepat waktu, koordinasi lintas sektor, serta komitmen berkelanjutan dalam pemeliharaan dan pengelolaan waduk setelah selesai dibangun. Jika semua elemen tersebut berjalan selaras, Jakarta Selatan dapat menatap masa depan yang lebih aman dari ancaman banjir, sekaligus meningkatkan kualitas hidup warganya.





