123Berita – 02 April 2026 | Teheran menegaskan kembali posisi kerasnya terhadap ancaman-ancaman yang dikeluarkan oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang dinilai sebagai “pertunjukan teater yang tidak masuk akal”. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh pejabat tinggi Iran dalam beberapa kesempatan akhir-akhir ini, menandai peningkatan ketegangan geopolitik di kawasan Teluk Persia.
Setelah serangkaian sanksi ekonomi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat pada tahun-tahun sebelumnya, Trump pada awal 2020 mengancam akan menutup Selat Hormuz – jalur perairan strategis yang menyalurkan hampir satu pertiga perdagangan minyak dunia – sebagai bentuk tekanan terhadap Tehran. Ancaman tersebut diiringi dengan retorika keras, termasuk sebutan “pertunjukan teater yang tidak masuk akal” yang ditujukan kepada kebijakan luar negeri Iran.
Dalam balasannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menolak secara tegas untuk membuka kembali Selat Hormuz kecuali pihak-pihak yang mematuhi persyaratan yang ditetapkan Tehran. “Kami tidak akan membuka selat itu untuk siapa pun yang tidak menghormati ketentuan kami,” ujar pejabat tersebut, menambahkan bahwa Iran berhak mengendalikan akses ke jalur laut tersebut demi keamanan dan kepentingan nasional.
Selain itu, Komandan Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan komitmennya untuk menjaga kontrol penuh atas Selat Hormuz. Dalam sebuah pernyataan resmi, IRGC menolak segala bentuk tekanan eksternal dan menegaskan kesiapan mereka untuk menanggapi setiap upaya yang dianggap mengancam kedaulatan Iran di wilayah tersebut. Menurut mereka, penutupan selat bukanlah keputusan semata-mata, melainkan langkah strategis yang didasarkan pada kepentingan pertahanan dan kedaulatan negara.
Berbagai media internasional melaporkan bahwa Iran berencana untuk membuka kembali Selat Hormuz hanya bagi kapal yang mematuhi regulasi baru yang ditetapkan Tehran. Regulasi tersebut mencakup kepatuhan terhadap sanksi yang diberlakukan, serta persetujuan atas prosedur inspeksi yang diawasi oleh otoritas Iran. Sumber dari The Times of Israel menambahkan bahwa keputusan ini tidak ditujukan kepada Amerika Serikat atau sekutunya, melainkan kepada entitas komersial yang bersedia menyesuaikan diri dengan ketentuan baru.
Reaksi Amerika Serikat, khususnya di kalangan pembuat kebijakan, masih bersifat hati-hati. Meskipun Trump tidak lagi menjabat, kebijakan Washington terhadap Iran tetap dipengaruhi oleh pendekatan keras yang ditetapkan selama masa kepresidenannya. Sejumlah analis memperkirakan bahwa penutupan atau pembatasan akses ke Selat Hormuz dapat menimbulkan dampak ekonomi signifikan, terutama pada harga minyak dunia, mengingat peran penting selat tersebut dalam distribusi energi global.
Ketegangan di wilayah Teluk Persia ini juga menarik perhatian negara-negara lain yang memiliki kepentingan maritim, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara-negara Asia yang mengandalkan pasokan minyak melalui jalur tersebut. Banyak di antara mereka menyerukan dialog diplomatik untuk meredakan situasi, sambil menyiapkan langkah-langkah kontinjensi untuk memastikan kelancaran transportasi laut.
Secara keseluruhan, sikap Iran yang tegas dan tidak mengalah terhadap ancaman penutupan Selat Hormuz mencerminkan perubahan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Dengan menolak tekanan eksternal dan menegaskan kedaulatan atas jalur laut strategis, Tehran berupaya memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional, sekaligus menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya akan ditentukan oleh kepentingan nasional, bukan oleh retorika politik luar negeri yang dianggap tidak realistis.
Dengan situasi yang masih berkembang, dunia internasional diharapkan terus memantau langkah-langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, mengingat implikasi ekonomi dan keamanan yang luas dari setiap keputusan terkait Selat Hormuz.





