123Berita – 10 April 2026 | Presiden Majelis Penasehat Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan pada konferensi pers yang diadakan di Teheran bahwa Tehran tidak akan pernah meninggalkan rakyat Lebanon meski serangan udara Israel semakin intensif. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik di perbatasan Lebanon‑Israel, di mana militer Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan posisi-posisi kelompok bersenjata di selatan Lebanon.
Pezeshkian menekankan bahwa dukungan Iran kepada Lebanon bersifat historis dan strategis, mencakup bantuan militer, ekonomi, dan politik. Ia menambahkan bahwa keputusan untuk menarik dukungan tidaklah menjadi pilihan, mengingat kepentingan keamanan regional dan ikatan ideologis yang mendalam antara kedua negara. “Kami akan tetap berada di sisi rakyat Lebanon, tidak peduli seberapa berat tekanan yang dihadapi,” ujar Pezeshkian dengan tegas.
Serangan Israel yang terjadi pada pekan ini menargetkan pos-pos pertahanan milisi Hezbollah di wilayah selatan Lebanon, yang telah menjadi medan pertempuran tidak resmi sejak tahun 2006. Menurut laporan militer Lebanon, setidaknya tiga instalasi pertahanan hancur dan puluhan warga sipil terdampak. Israel mengklaim operasi tersebut bertujuan mencegah penyelundupan senjata dan mengurangi kemampuan milisi untuk melancarkan serangan balasan.
Reaksi Iran terhadap aksi militer Israel tidak hanya terbatas pada pernyataan politik. Pezeshkian mengindikasikan bahwa Tehran siap meningkatkan aliran bantuan teknis dan persenjataan kepada sekutu-sekutunya di Lebanon jika diperlukan. Ia menuturkan bahwa Iran memiliki cadangan logistik yang cukup untuk menanggapi setiap agresi yang diarahkan pada Lebanon, termasuk penyediaan sistem pertahanan udara dan rudal jarak menengah.
Para analis geopolitik menilai bahwa pernyataan Iran mencerminkan upaya memperkuat posisi diplomatiknya di Timur Tengah, khususnya dalam rangka menyeimbangkan pengaruh Saudi-Arabia dan sekutu-sekutu Barat. “Iran menggunakan isu Lebanon sebagai platform untuk menegaskan peranannya sebagai pelindung umat Islam dan penyeimbang kekuatan regional,” ujar Dr. Ahmad Karim, dosen Ilmu Politik Universitas Tehran.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon menyambut baik dukungan Iran, namun menekankan perlunya solusi politik yang mengedepankan dialog antar pihak. Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menyatakan bahwa Lebanon tidak menginginkan konflik berlarut‑lurus dan berharap semua pihak dapat menahan diri. “Kami mengapresiasi solidaritas Iran, namun kami juga mengharapkan komunitas internasional membantu menengahi perdamaian,” katanya.
Israel, sementara itu, menegaskan bahwa operasi militer di Lebanon bertujuan melindungi warganya dari ancaman roket yang diluncurkan oleh kelompok bersenjata. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menambahkan bahwa serangan akan terus berlanjut selama ancaman tersebut belum dapat diatasi secara diplomatik. “Kami tidak akan mundur dari upaya melindungi keamanan Israel,” ungkap Gallant.
Ketegangan yang terus meningkat ini menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya konflik ke wilayah lain, termasuk Suriah dan Jalur Gaza. Komunitas internasional, termasuk PBB, menyerukan penarikan senjata dan kembali ke meja perundingan. Namun, hingga kini belum ada langkah konkret yang diambil untuk meredakan situasi.
Kesimpulannya, pernyataan Masoud Pezeshkian menegaskan komitmen Iran yang kuat terhadap Lebanon di tengah serangan udara Israel yang intens. Dukungan Iran tidak hanya bersifat simbolis, melainkan melibatkan aspek militer, ekonomi, dan politik yang dapat mempengaruhi dinamika keamanan regional. Sementara Israel melanjutkan operasi militernya, tekanan diplomatik terus meningkat, menuntut semua pihak untuk mencari solusi damai guna mencegah eskalasi lebih lanjut.





