123Berita – 04 April 2026 | Pemerintah Kabupaten Donggala kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap pelestarian lingkungan dengan meluncurkan program pengelolaan sampah berbasis sumber di area-area wisata utama. Program ini menekankan penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara terpadu, bertujuan mengurangi volume limbah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta menjaga keindahan alam yang menjadi daya tarik utama wisatawan.
Langkah pertama meliputi penempatan tempat sampah terpisah yang jelas labelnya di setiap titik strategis seperti pantai, area trekking, dan spot foto populer. Tempat sampah tersebut dirancang dengan tiga kompartemen: satu untuk sampah organik, satu untuk plastik dan kemasan, serta satu untuk bahan non‑daur ulang. Selain itu, setiap kompartemen dilengkapi dengan panel edukasi visual yang menjelaskan cara memilah sampah secara tepat. Penempatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran wisatawan dan mempermudah proses pengumpulan sampah oleh petugas kebersihan.
Selanjutnya, Pemerintah Kabupaten Donggala menggandeng komunitas lokal dan pelaku usaha pariwisata untuk mengoperasikan program “Sampah dari Sumber”. Program ini menekankan pada tiga pilar utama:
- Reduce: Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan menyediakan alternatif ramah lingkungan, seperti kantong kain atau botol isi ulang di kios-kios wisata.
- Reuse: Mengoptimalkan penggunaan kembali barang-barang yang masih layak pakai, contohnya mengolah kembali botol plastik menjadi bahan baku kerajinan tangan atau peralatan camping.
- Recycle: Membentuk fasilitas pengomposan organik di sekitar kawasan wisata dan menjalin kerja sama dengan pihak pengolahan sampah regional untuk mendaur ulang plastik serta logam.
Implementasi pengomposan organik menjadi salah satu inovasi paling menonjol. Limbah makanan dan dedaunan yang terkumpul di lokasi wisata akan diproses menjadi kompos berkualitas yang selanjutnya dapat dipakai oleh petani lokal atau disebarkan sebagai pupuk organik di taman kota. Dengan cara ini, limbah organik tidak hanya dihindarkan dari TPA, melainkan juga menghasilkan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Program ini juga melibatkan pelatihan intensif bagi petugas kebersihan, pelaku UMKM, dan relawan lingkungan. Selama tiga hari pelatihan, peserta diajarkan teknik pemilahan sampah, cara mengoperasikan mesin pengompos, serta strategi pemasaran produk daur ulang. Hasilnya, sejumlah usaha kecil di Donggala mulai memproduksi tas anyaman, tempat tisu, dan souvenir berbahan daur ulang yang dipasarkan secara lokal dan online.
Dalam jangka menengah, target utama Pemerintah Kabupaten Donggala adalah menurunkan tingkat masuknya sampah ke TPA sebesar 30% pada tahun 2025. Selain itu, diharapkan tingkat partisipasi masyarakat dalam program 3R dapat mencapai 70% dari total wisatawan yang berkunjung. Untuk mengukur keberhasilan, Dinas Lingkungan Hidup akan melakukan survei bulanan serta melaporkan data secara transparan melalui portal resmi pemerintah daerah.
Langkah-langkah konkret ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada citra pariwisata Donggala. Wisatawan yang mengunjungi destinasi dengan kebersihan terjaga cenderung memberikan ulasan positif, meningkatkan durasi kunjungan, dan meningkatkan pengeluaran per orang. Hal ini pada gilirannya berpotensi menambah pendapatan daerah dan membuka lapangan kerja baru di sektor pengelolaan sampah dan kerajinan daur ulang.
Kesimpulannya, upaya Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber yang digencarkan oleh Pemerintah Kabupaten Donggala menunjukkan sinergi antara kebijakan publik, partisipasi masyarakat, dan inovasi lokal. Dengan menitikberatkan pada prinsip 3R, program ini tidak hanya mengurangi tekanan pada TPA, melainkan juga mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Jika dijalankan konsisten, inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengintegrasikan keberlanjutan lingkungan dengan pengembangan pariwisata.





