123Berita – 06 April 2026 | Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menambah catatan kebersamaan lintas kepercayaan dengan berpartisipasi dalam Festival Pawai Paskah yang diselenggarakan di Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada acara yang dihadiri ribuan warga dari berbagai latar belakang agama tersebut, Gibran secara simbolis memegang salib, menegaskan komitmen pemerintah pusat terhadap toleransi beragama dan persatuan bangsa.
Acara Festival Pawai Paskah yang berlangsung pada Minggu pekan pertama April ini menjadi sorotan media nasional karena melibatkan tokoh tinggi negara dalam ritual keagamaan Kristen. Gibran, yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah, hadir bersama rombongan yang terdiri dari pejabat daerah, tokoh agama, serta perwakilan komunitas lokal. Penampilan Gibran di tengah barisan peserta mengundang tepuk tangan meriah, menandakan apresiasi masyarakat setempat terhadap kehadiran figur politik yang menghormati tradisi setempat.
Festival ini menampilkan rangkaian kegiatan yang meliputi prosesi mengelilingi gereja utama Kota Kupang, nyanyian pujian, serta pertunjukan budaya daerah. Salah satu momen puncak adalah proses memikul salib, di mana beberapa relawan dan tokoh masyarakat secara bergantian mengangkat salib kayu besar sebagai simbol penderitaan Kristus. Gibran menjadi salah satu relawan yang dipilih untuk memegang salib, sebuah tindakan yang dianggap menguatkan pesan persatuan dan solidaritas antarumat beragama.
Berikut rangkaian acara utama yang dilaksanakan pada hari itu:
- 08.00 WIB – Upacara pembukaan oleh Gubernur NTT bersama pemuka agama Katolik dan Protestan.
- 09.30 WIB – Prosesi pawai keliling kota dengan menampilkan kostum tradisional Timor.
- 10.45 WIB – Upacara memikul salib, di mana Gibran Rakabuming Raka berpartisipasi bersama tokoh masyarakat.
- 12.00 WIB – Kebaktian bersama di Gereja Katedral St. Mary, diikuti dengan penampilan paduan suara lokal.
- 13.30 WIB – Penutupan oleh Kepala Dinas Pariwisata NTT dengan penyampaian pesan damai dan persatuan.
Keikutsertaan Gibran dalam upacara tersebut tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang telah lama menekankan pentingnya nilai-nilai kebhinekaan. Sebagai putra Presiden Joko Widodo, Gibran sering dijadikan contoh dalam upaya mempererat hubungan antarkelompok agama di Indonesia. Dalam sambutannya sebelum prosesi memikul salib, Gibran menekankan bahwa “Indonesia adalah rumah bersama, di mana perbedaan agama menjadi sumber kekuatan, bukan pemisah.”
Respons publik terhadap kehadiran Gibran di Kupang bersifat positif. Warga setempat mengungkapkan kebanggaan mereka dapat menyaksikan wakil presiden negara yang menghormati tradisi lokal. Beberapa warga menuliskan komentar di media sosial, menyatakan bahwa tindakan tersebut memperlihatkan kepedulian pemerintah pusat terhadap daerah terpencil dan menegaskan komitmen terhadap kebebasan beragama.
Selain menonjolkan aspek religius, festival ini juga menjadi ajang promosi pariwisata NTT. Pemerintah Provinsi NTT memanfaatkan momen tersebut untuk menampilkan kekayaan budaya dan potensi wisata alam Kupang, termasuk pantai, museum, serta kuliner khas. Dengan menampilkan festival keagamaan dalam skala nasional, diharapkan citra Kupang sebagai destinasi multikultural dapat meningkat, menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Di sisi lain, kehadiran pejabat tinggi dalam acara keagamaan sering menjadi topik diskusi di kalangan akademisi dan aktivis. Beberapa mengapresiasi langkah tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kebebasan beragama, sementara yang lain mengingatkan pentingnya menjaga jarak antara politik dan praktik keagamaan agar tidak menimbulkan kesan politisasi ibadah. Namun, dalam konteks Indonesia yang plural, banyak pihak menilai bahwa simbolik seperti memikul salib bersama tokoh politik dapat memperkuat pesan persatuan.
Pemerintah pusat melalui kantor Sekretariat Negara menegaskan bahwa partisipasi Gibran merupakan wujud dukungan terhadap agenda toleransi beragama yang telah menjadi bagian integral dari kebijakan nasional. “Keterlibatan wakil presiden dalam kegiatan keagamaan tidak hanya memperlihatkan rasa hormat kepada umat beriman, tetapi juga menegaskan komitmen negara untuk melindungi kebebasan beribadah,” ujar juru bicara Sekretariat Negara dalam sebuah pernyataan resmi.
Secara keseluruhan, Festival Pawai Paskah di Kupang menjadi momen penting yang mempertemukan nilai-nilai religius, budaya, dan politik dalam satu panggung. Keberhasilan acara ini diukur tidak hanya dari antusiasme peserta, tetapi juga dari pesan damai yang berhasil disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Dengan partisipasi aktif Gibran Rakabuming Raka, harapan akan terwujudnya masyarakat yang lebih inklusif dan bersatu semakin menguat.
Ke depan, diharapkan peristiwa serupa dapat menjadi pola bagi daerah lain dalam menyelenggarakan acara keagamaan yang melibatkan pejabat publik, sehingga tercipta sinergi yang memperkuat rasa kebangsaan dan menghargai keberagaman. Dengan menumbuhkan semangat kebersamaan melalui simbol-simbol universal seperti salib, Indonesia dapat terus melangkah maju sebagai negara yang menghormati setiap kepercayaan tanpa mengesampingkan peran pemerintah dalam memfasilitasi dialog antarumat beragama.





