123Berita – 07 April 2026 | Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, kembali menegaskan pentingnya nilai persatuan, nasionalisme, dan bela negara dalam rangka menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Dalam sebuah pertemuan yang dihadiri tokoh agama, pemuka masyarakat, dan kalangan pemuda, Ganjar menyoroti jejak perjuangan Kiai Haji Dalhar, seorang ulama yang dikenal karena komitmennya dalam mengajarkan semangat persatuan serta pengabdian kepada negara.
KH Dalhar, yang pernah menjadi figur sentral dalam gerakan kebangsaan pada masa kemerdekaan, tidak hanya dikenal sebagai tokoh keagamaan, melainkan juga sebagai aktivis yang menegakkan nilai-nilai kebangsaan di tengah keragaman. Ia menekankan pentingnya rasa saling menghormati antar suku, agama, dan golongan, sekaligus mengajak setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Dalam sambutannya, Ganjar menekankan bahwa warisan pemikiran KH Dalhar masih relevan di era globalisasi dan tantangan modern. “Kita tidak boleh melupakan pelajaran yang diajarkan oleh para pejuang bangsa, khususnya KH Dalhar, yang selalu menekankan persatuan sebagai landasan utama dalam membangun Indonesia,” ujar Ganjar. Ia menambahkan bahwa semangat bela negara harus diwujudkan tidak hanya dalam retorika, melainkan dalam tindakan nyata, baik di tingkat individu maupun institusi.
Ganjar mengaitkan pesan tersebut dengan dinamika sosial‑ekonomi yang saat ini dihadapi oleh Indonesia. Ia menyoroti peningkatan polarisasi politik, konflik horizontal, serta ancaman radikalisme yang dapat menggoyahkan fondasi persatuan nasional. Menurutnya, meneladani KH Dalhar dapat menjadi solusi moral untuk memperkuat ikatan kebangsaan, khususnya di Jawa Tengah yang dikenal beragam secara etnis dan budaya.
Pembicaraan tersebut juga melibatkan para ulama, tokoh adat, serta perwakilan organisasi kepemudaan. Mereka sepakat bahwa pendidikan nilai kebangsaan harus dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, pelatihan kepemimpinan, serta program keagamaan. Salah satu usulan konkret adalah pengembangan modul ajaran KH Dalhar yang berisi contoh konkret tentang toleransi, gotong‑royong, dan semangat bela negara.
Selain itu, Ganjar menyinggung peran media sosial sebagai medan baru dalam mempertahankan persatuan. Ia mengingatkan bahwa setiap warganet memiliki tanggung jawab moral untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian atau hoaks yang dapat memecah belah. “Kita harus menjadi penjaga bahasa persatuan, baik di ruang publik maupun di dunia maya,” tegasnya.
Dalam konteks kebijakan publik, Gubernur Jawa Tengah mengumumkan serangkaian program yang akan diluncurkan pada awal tahun depan. Program tersebut meliputi lomba esai dan poster dengan tema “Persatuan dalam Keberagaman”, pelatihan kepemimpinan berbasis nilai kebangsaan untuk pemuda, serta kunjungan kerja ke situs‑situs bersejarah yang terkait dengan perjuangan KH Dalhar.
Para hadirin juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan dalam menyebarkan pesan persatuan. Salah satu tokoh agama yang hadir menambahkan, “Jika kita semua menginternalisasi ajaran KH Dalhar, maka bangsa ini akan semakin kuat menghadapi segala tantangan, baik internal maupun eksternal.”
Penguatan nilai nasionalisme tidak hanya menjadi agenda politik semata, melainkan juga menjadi agenda moral yang menuntut partisipasi semua elemen masyarakat. Ganjar menekankan bahwa generasi muda harus menjadi agen perubahan yang mampu menghidupkan kembali semangat persatuan yang pernah diteladani oleh KH Dalhar.
Dengan menyoroti jejak perjuangan KH Dalhar, Ganjar berharap agar semangat persatuan dan bela negara dapat menjadi landasan utama dalam setiap kebijakan dan tindakan warga. Ia menutup pertemuan dengan harapan bahwa seluruh lapisan masyarakat akan menjadikan nilai‑nilai tersebut sebagai pedoman hidup, demi terciptanya Indonesia yang lebih damai, adil, dan berdaulat.





