123Berita – 03 April 2026 | Film horor berbahasa Indonesia berjudul SONGKO dijadwalkan meluncur ke layar lebar pada April 2026. Mengangkat kisah mistik yang berakar dalam tradisi lisan Minahasa, film ini menjanjikan pengalaman menegangkan sekaligus edukatif bagi penonton domestik maupun mancanegara. Dengan sinematografi modern dan pendekatan naratif yang menghormati asal-usul legenda, SONGKO diharapkan menjadi salah satu karya paling menonjol dalam genre horor tanah air tahun ini.
Legenda Songko sendiri merupakan salah satu cerita paling menakutkan dari wilayah Minahasa, Sulawesi Utara. Dikisahkan tentang seorang wanita bernama Songko yang, setelah mengalami pengkhianatan dan tragedi pribadi, berubah menjadi makhluk supranatural yang menghantui desa-desa sekitar pegunungan. Cerita ini biasanya diceritakan pada malam-malam gelap sebagai peringatan akan dosa keserakahan dan dendam. Selama berabad-abad, kisah tersebut telah diwariskan secara turun-temurun melalui nyanyian, tarian, serta pertunjukan tradisional yang memadukan elemen mistik dan moralitas.
Proyek film ini dipimpin oleh sutradara veteran Rudi Hartono, yang sebelumnya dikenal lewat karya horor psikologis seperti Malam Sunyi. Produser utama, Maya Suryani, mengungkapkan bahwa tim produksi melakukan riset intensif di sejumlah desa Minahasa, berkolaborasi dengan sejarawan lokal dan dukun tradisional untuk memastikan akurasi budaya. Film ini dibintangi oleh aktris muda Putri Ayu sebagai Songko, didukung oleh aktor senior Deddy Mahendra dalam peran kepala desa, serta aktor pendatang baru Fajar Pratama sebagai tokoh utama yang terjerat dalam kutukan tersebut.
Berbeda dengan film horor mainstream yang biasanya mengandalkan efek visual berlebihan, SONGKO menekankan atmosfer yang menegangkan melalui penggunaan pencahayaan alami, suara alam, serta efek suara tradisional Minahasa seperti gong dan serunai. Tim desain produksi meneliti arsitektur rumah adat Minahasa (Rumah Wano) untuk menciptakan latar yang autentik, sementara kostum dirancang dengan motif tenun khas wilayah tersebut. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya visual film, tetapi juga memberikan platform bagi kebudayaan lokal untuk tampil di panggung nasional.
Antisipasi publik terhadap SONGKO terlihat dari lonjakan pencarian online dan diskusi di media sosial sejak trailer pertama dirilis pada akhir 2025. Trailer berdurasi dua menit menampilkan adegan-adegan menegangkan di hutan lebat, kilatan cahaya biru mistik, serta suara teriakan yang menggema, memicu rasa penasaran penonton. Hashtag #SongkoFilm menjadi trending di beberapa platform, menunjukkan minat yang kuat terutama di kalangan pecinta horor dan peneliti folklore.
Distribusi film ini dijadwalkan mencakup jaringan bioskop nasional, mulai dari multiplex di Jakarta hingga bioskop independen di kota-kota kecil Sulawesi Utara. Selain penayangan di layar lebar, pihak produksi berencana menggandeng layanan streaming lokal untuk menayangkan versi eksklusif dengan subtitle bahasa Inggris, memperluas jangkauan internasional. Jadwal rilis resmi akan diumumkan pada kuartal pertama 2026, bersamaan dengan kampanye promosi yang melibatkan pameran budaya Minahasa dan sesi tanya jawab dengan kru produksi.
Secara budaya, kehadiran SONGKO menjadi langkah penting dalam melestarikan warisan lisan Minahasa. Dengan mengadaptasi legenda ke dalam format film, cerita yang selama ini hanya dikenal di lingkungan lokal kini memiliki peluang untuk dikenal secara luas. Hal ini dapat mendorong minat generasi muda terhadap tradisi lisan serta memicu penelitian lebih lanjut mengenai mitos-mitos Indonesia yang selama ini kurang terekspos di media mainstream.
- Judul: SONGKO
- Sutradara: Rudi Hartono
- Produser: Maya Suryani
- Pemeran utama: Putri Ayu (Songko), Deddy Mahendra (Kepala Desa), Fajar Pratama (Pencari Kebenaran)
- Tanggal rilis: April 2026
Kesimpulannya, film horor SONGKO tidak sekadar menawarkan sensasi menakutkan, melainkan juga menjadi jembatan antara sinema modern dan kearifan lokal Minahasa. Dengan dukungan tim kreatif yang berpengalaman, riset budaya yang mendalam, serta strategi pemasaran yang tepat, film ini berpotensi mencetak prestasi komersial sekaligus memperkaya khazanah perfilman Indonesia. Penantian penonton akan terbayar ketika layar lebar menampilkan kisah yang selama ini hanya terdengar dalam bisik-bisik malam di pegunungan Minahasa.