123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2024 – Aktor muda Ben Kasyafani mengaku sempat merasakan kegugupan yang cukup kuat ketika putrinya, Sienna Ameerah Kasyafani, pertama kali memutuskan untuk menutup kepala dengan hijab. Momen pribadi yang biasanya bersifat intim itu menjadi sorotan publik setelah Sienna mengunggah foto pertamanya mengenakan hijab di akun media sosialnya.
Sienna, yang dikenal sebagai sosok kreatif dan aktif di dunia fashion, sebelumnya sering tampil tanpa hijab dalam berbagai sesi pemotretan dan acara publik. Keputusan untuk mulai memakai hijab muncul setelah ia melakukan refleksi pribadi mengenai identitas dan nilai‑nilai yang ingin ia bawa ke publik. “Saya ingin mencoba sesuatu yang lebih sesuai dengan hati saya. Hijab bukan sekadar penutup kepala, melainkan sebuah pernyataan pribadi,” kata Sienna dalam keterangan singkat yang ia sampaikan kepada para pengikutnya.
Reaksi netizen beragam, mulai dari dukungan hangat hingga komentar kritis. Sebagian besar menyampaikan apresiasi atas keberanian Sienna dalam mengekspresikan diri, sementara sebagian lainnya mengajukan pertanyaan tentang motivasi di balik perubahan penampilan tersebut. Meskipun demikian, Ben menegaskan bahwa ia akan selalu mendukung keputusan anaknya, apa pun bentuknya.
“Sebagai ayah, peran saya adalah memberi ruang bagi Sienna untuk berekspresi. Saya tidak ingin mengarahkan atau memaksa. Saya hanya berharap ia bahagia dan merasa nyaman dengan pilihannya,” tambah Ben. Pernyataan ini menggarisbawahi dinamika keluarga Kasyafani yang tampak sangat terbuka dalam menyikapi isu‑isu sensitif seperti identitas berbusana.
Di sisi lain, para pakar budaya dan psikologi anak menilai reaksi Ben sebagai contoh positif dalam mendukung perkembangan identitas anak. Dr. Rina Suryani, seorang psikolog anak dari Universitas Indonesia, menjelaskan, “Ketika orang tua memberikan dukungan tanpa menghakimi, anak akan lebih berani mengeksplorasi jati diri mereka. Reaksi Ben yang mengakui rasa deg‑degan sekaligus tetap mendukung merupakan pola asuh yang sehat.”
Media sosial pun menjadi arena diskusi yang intens. Tagar #SiennaHijab sempat trending di beberapa platform, menandakan besarnya minat publik terhadap topik ini. Banyak netizen yang menyoroti pentingnya kebebasan berekspresi, terutama bagi generasi muda yang berada di persimpangan nilai tradisional dan modern.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan Sienna juga menimbulkan perdebatan tentang peran selebriti dalam menyampaikan pesan-pesan sosial. Beberapa kritikus berpendapat bahwa selebriti sebaiknya tidak menggunakan platform mereka untuk menonjolkan isu-isu pribadi yang dapat memengaruhi persepsi publik secara luas. Sementara itu, pendukung berargumen bahwa selebriti memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh yang inklusif dan menghargai keberagaman.
Menjawab pertanyaan tersebut, Ben menegaskan bahwa keluarga Kasyafani tidak berniat memaksakan pandangan tertentu kepada masyarakat. “Kami hanya ingin berbagi perjalanan kami secara jujur. Jika ada yang terinspirasi, itu bonus. Jika ada yang tidak setuju, kami menghargai pendapat mereka,” ujarnya.
Keputusan Sienna untuk memakai hijab juga membuka peluang diskusi lebih luas mengenai representasi Muslimah dalam industri hiburan Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, muncul peningkatan jumlah artis yang memilih untuk menutup aurat, baik karena keyakinan pribadi maupun sebagai bentuk dukungan terhadap keberagaman budaya.
Secara keseluruhan, momen ini menegaskan kembali bahwa dinamika keluarga selebriti tidak terlepas dari sorotan publik. Ben Kasyafani, dengan kejujuran emosionalnya, memberikan contoh bagaimana seorang ayah dapat mengatasi rasa cemas sekaligus tetap memberikan kebebasan bagi anaknya untuk menentukan arah hidupnya. Sementara Sienna Ameerah Kasyafani memperlihatkan keberanian dalam mengekspresikan identitasnya secara terbuka, menambah warna baru dalam lanskap hiburan Tanah Air.
Ke depan, keluarga Kasyafani berencana untuk tetap menjaga privasi sekaligus berbagi momen-momen penting dalam perjalanan mereka. Penggemar dan masyarakat luas diharapkan dapat terus memberikan dukungan yang konstruktif, menghormati pilihan pribadi, dan mengapresiasi keberagaman yang ada di dalamnya.
Dengan sikap terbuka dan dukungan yang konsisten, diharapkan kisah ini dapat menjadi contoh positif bagi banyak keluarga lain yang sedang bergulat dengan pertanyaan serupa tentang identitas dan ekspresi diri.