123Berita – 06 April 2026 | Jakarta, 6 April 2026 – Aktor senior Ben Kasyafani akhirnya memecah kebisuan terkait langkah putrinya, Sienna Kasyafani, yang memutuskan untuk tidak lagi mengenakan hijab. Dalam sebuah wawancara eksklusif yang diadakan beberapa hari setelah keputusan itu menjadi perbincangan luas di media sosial, Ben menegaskan pentingnya dialog terbuka serta peran ayah sebagai sahabat sejati bagi anaknya.
Ben Kasyafani, yang dikenal lewat peran-peran dramatis di layar kaca Indonesia, menjelaskan bahwa keputusan Sienna untuk melepas hijab bukanlah sebuah pemberontakan melainkan sebuah proses pencarian jati diri yang alami. “Saya tidak menganggap ini sebagai sebuah konflik, melainkan sebuah kesempatan untuk lebih mendengarkan apa yang dirasakan anak saya,” ujarnya. “Sebagai orang tua, tugas kami bukan hanya mengarahkan, tetapi juga menjadi tempat aman di mana mereka bisa mengekspresikan diri tanpa rasa takut atau penilaian.
Ben menambahkan bahwa ia berusaha menjaga jarak antara peran ayah dan peran sahabat. “Saya tidak ingin menjadi otoritas yang mengekang, melainkan pendamping yang memahami. Saya memberi ruang bagi Sienna untuk mengekspresikan pendapatnya, sekaligus menawarkan dukungan tanpa syarat,” jelasnya. Sikap tersebut, menurut Ben, berhasil memperkuat ikatan emosional antara ayah dan anak, sekaligus menurunkan potensi konflik yang biasanya muncul pada permasalahan serupa.
Keputusan Sienna untuk melepas hijab menimbulkan beragam reaksi di kalangan netizen. Sebagian besar mengapresiasi keberanian gadis muda tersebut, sementara yang lain menilai keputusan itu sebagai penyimpangan dari nilai‑nilai agama. Ben menyadari dinamika tersebut, namun menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada kesejahteraan psikologis putrinya. “Saya tidak ingin Sienna merasa tertekan oleh opini publik. Kami harus melindungi ruang pribadi keluarga dari sorotan yang berlebihan,” katanya.
Dalam konteks budaya Indonesia, keputusan seorang wanita muda untuk tidak lagi memakai hijab kerap menjadi topik sensitif. Ben mengakui bahwa ia menyadari sensitivitas ini, namun menegaskan bahwa hak individu untuk menentukan penampilan tetap harus dihormati. “Kebebasan beragama dan berpendapat merupakan pilar penting dalam masyarakat kita. Saya berharap orang tua lain dapat meneladani pendekatan yang sama, yaitu mengutamakan komunikasi daripada konfrontasi,” ujarnya.
Ben juga menyinggung pentingnya peran pendidikan agama dalam membekali generasi muda dengan pengetahuan yang seimbang. Ia berharap Sienna terus mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang nilai‑nilai Islam, sekaligus diberi kebebasan untuk menafsirkan secara personal. “Pendidikan agama yang kuat tidak harus bersifat memaksa. Sebaliknya, ia harus menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa cinta dan pengertian,” tegas Ben.
Pada akhirnya, Ben Kasyafani menegaskan kembali komitmennya untuk selalu menjadi pendengar yang baik bagi Sienna. Ia mengingatkan bahwa setiap keputusan yang diambil anak harus diiringi dengan dukungan emosional yang konsisten. “Saya berjanji akan selalu berada di sisi Sienna, bukan hanya sebagai ayah, tetapi juga sebagai sahabat yang siap membantu menavigasi tantangan hidup,” tuturnya dengan nada penuh harap.
Kesimpulannya, respons Ben Kasyafani terhadap keputusan Sienna melepas hijab mencerminkan sebuah pendekatan yang menekankan pada komunikasi terbuka, empati, dan penghargaan terhadap kebebasan individu. Sikap ini tidak hanya memperkuat hubungan keluarga, tetapi juga menjadi contoh bagi publik tentang bagaimana menangani isu sensitif dengan bijak dan beradab.