123Berita – 07 April 2026 | Ben Kasyafani, aktor dan presenter televisi yang dikenal lewat serial-serial komedi serta kehadirannya di layar kaca, kembali menjadi sorotan publik setelah ia mengungkapkan pendiriannya terkait keputusan putrinya, Sienna, yang memilih untuk melepas hijab.
Keputusan Sienna untuk tidak lagi menutup kepala dengan hijab muncul secara mendadak di media sosial, memicu beragam reaksi dari netizen. Beberapa pengguna platform menganggap langkah itu sebagai bentuk kebebasan berekspresi, sementara yang lain menilai keputusan tersebut kontroversial mengingat peran hijab dalam budaya Indonesia yang mayoritas Muslim.
Dalam sebuah wawancara singkat, Ben Kasyafani menegaskan bahwa pilihan Sienna untuk melepas hijab adalah murni keputusan pribadi sang anak. Ia menolak semua spekulasi yang menyebutkan adanya tekanan dari pihak luar, baik itu lingkungan pertemanan, industri hiburan, maupun kelompok keagamaan. “Keputusan itu datang dari hati Sienna sendiri. Saya tidak pernah memaksa atau memengaruhi apa pun,” ujar Ben dengan tegas.
Ben menambahkan bahwa sebagai orang tua, ia selalu berusaha memberikan ruang bagi anaknya untuk belajar tentang identitas diri, termasuk dalam hal berbusana. “Kami mendidik Sienna dengan nilai‑toleransi dan kebebasan berpikir. Bila ia ingin bereksperimen dengan penampilan, itu haknya,” jelasnya.
Isu hijab pada publik figur memang tidak jarang menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sejumlah selebritas memilih untuk selalu memakai hijab sebagai bagian dari citra mereka, sementara yang lain memutuskan untuk tidak memakainya. Pilihan tersebut sering kali diinterpretasikan sebagai pernyataan politik atau keagamaan, padahal bagi banyak orang keputusan tersebut lebih bersifat pribadi.
Reaksi publik terhadap pernyataan Ben Kasyafani terbagi. Sebagian netizen memuji sikap terbuka sang ayah dalam menghargai kebebasan anaknya, menilai hal itu sebagai contoh positif dalam pola asuh modern. Di sisi lain, terdapat pula komentar yang menilai keputusan Sienna sebagai “menyimpang” dari nilai‑nilai agama, sekaligus menuntut klarifikasi lebih lanjut dari keluarga Kasyafani.
Fenomena ini membuka ruang diskusi lebih luas mengenai hak individu, terutama bagi perempuan muda, dalam menentukan cara mengekspresikan keimanan mereka. Para ahli sosiologi berpendapat bahwa tekanan sosial terhadap penampilan hijab dapat menimbulkan konflik internal, sehingga penting bagi keluarga untuk menjadi pendukung utama dalam proses pencarian jati diri.
Ben Kasyafani menutup perbincangan dengan menekankan bahwa yang terpenting bagi keluarga adalah kebahagiaan dan kesejahteraan emosional Sienna. Ia berharap publik dapat menghormati pilihan tersebut dan tidak menambah beban emosional pada sang remaja. “Kami berharap semua orang dapat melihat ini sebagai keputusan pribadi, bukan perdebatan publik,” pungkasnya.
Keputusan Sienna untuk melepas hijab dan respons terbuka sang ayah menggambarkan dinamika generasi muda Indonesia yang semakin menuntut kebebasan berekspresi. Meskipun reaksi masyarakat masih beragam, kasus ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam memberikan ruang bagi anak untuk menemukan identitasnya sendiri tanpa tekanan eksternal.





