Atap Terminal 3 Soekarno-Hatta Jebol Saat Hujan Deras, Manajemen Bandara Ungkap Penyebabnya

Atap Terminal 3 Soekarno-Hatta Jebol Saat Hujan Deras, Manajemen Bandara Ungkap Penyebabnya
Atap Terminal 3 Soekarno-Hatta Jebol Saat Hujan Deras, Manajemen Bandara Ungkap Penyebabnya

123Berita – 06 April 2026 | Suasana terminal internasional Soekarno-Hatta (Soetta) berubah menjadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan atap Terminal 3 jebol saat hujan lebat beredar luas di media sosial. Insiden yang terjadi pada hari Senin, 1 April 2024, menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan penumpang dan menyoroti tantangan infrastruktur bandara di tengah perubahan iklim.

Manajemen menambahkan bahwa inspeksi rutin memang telah dilakukan secara berkala, namun intensitas hujan yang melampaui perkiraan standar desain tidak terdeteksi sebelumnya. “Desain atap Terminal 3 dirancang untuk menahan curah hujan hingga 150 mm per hari, namun pada hari kejadian tercatat curah hujan mencapai 210 mm, yang melebihi kapasitas beban air pada struktur atap,” ujar Kepala Bagian Teknik Bandara, Ir. Budi Santoso dalam konferensi pers singkat.

Bacaan Lainnya

Selanjutnya, pihak bandara mengungkap bahwa material atap yang dipasang pada tahun 2015 mengalami degradasi karena paparan sinar UV, kelembaban, serta kurangnya perawatan anti‑korosi pada sambungan logam. Kombinasi faktor-faktor tersebut memperlemah daya tahan atap dalam menahan beban air yang berlebih.

Untuk menanggulangi situasi darurat, tim pemeliharaan segera melakukan evakuasi area yang berpotensi berbahaya, menutup jalur masuk Terminal 3 secara sementara, dan mengalihkan penerbangan ke Terminal 1 serta Terminal 2. Seluruh proses penutupan dan pemindahan penumpang berlangsung cepat, berkat koordinasi antara otoritas bandara, maskapai penerbangan, serta petugas keamanan.

Pengguna jasa bandara yang berada di Terminal 3 pada saat kejadian melaporkan bahwa suara pecahan atap terdengar keras, diikuti oleh percikan air yang menetes ke area lantai. “Saya sempat panik karena tidak tahu apa yang terjadi, namun petugas segera memberi arahan untuk bergerak ke area aman,” ungkap seorang penumpang bernama Rina Sari, 34 tahun, asal Bandung.

Setelah insiden, manajemen bandara langsung mengirimkan tim inspeksi ke lokasi untuk menilai tingkat kerusakan secara detail. Hasil sementara menunjukkan bahwa sebagian panel atap mengalami retakan besar, sementara rangka logam utama menunjukkan tanda-tanda korosi pada sambungan baut. Tim teknik telah menyusun rencana perbaikan total yang meliputi penggantian panel atap, perkuatan rangka, serta penerapan lapisan pelindung anti‑korosi yang lebih tahan lama.

Rencana perbaikan diperkirakan memakan waktu tiga bulan, dengan target penyelesaian pada akhir Juni 2024. Selama proses perbaikan, Terminal 3 akan tetap beroperasi secara terbatas, dengan area yang terdampak ditutup dan jalur penumpang dialihkan ke terminal lain. Manajemen menegaskan bahwa semua prosedur keamanan akan tetap dijaga ketat demi kenyamanan dan keselamatan pengguna.

Insiden ini juga memicu perdebatan di kalangan pakar infrastruktur mengenai kesiapan fasilitas publik menghadapi cuaca ekstrem. Dr. Andi Prasetyo, dosen Teknik Sipil Universitas Indonesia, berpendapat bahwa standar desain yang lama perlu ditinjau ulang mengingat frekuensi curah hujan tinggi yang diproyeksikan meningkat dalam dekade mendatang. “Kita harus mengadopsi pendekatan resilien, termasuk penggunaan material komposit yang lebih tahan terhadap korosi dan beban air,” ujarnya.

Pihak otoritas penerbangan sipil (DGCA) telah mengirim tim audit independen untuk menilai kepatuhan bandara terhadap regulasi keselamatan dan standar konstruksi. Hasil audit diharapkan akan menjadi acuan bagi perbaikan prosedur inspeksi dan pemeliharaan di seluruh bandara Indonesia.

Di samping perbaikan fisik, manajemen bandara berjanji akan meningkatkan transparansi informasi kepada publik. “Kami akan mengupdate status perbaikan secara real time melalui situs resmi dan media sosial, serta memberikan laporan berkala kepada regulator,” kata Ir. Budi Santoso.

Insiden atap Terminal 3 Soekarno-Hatta menjadi pengingat pentingnya investasi berkelanjutan pada infrastruktur transportasi, khususnya di era perubahan iklim. Dengan langkah cepat dan terkoordinasi, diharapkan kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan, menjaga kepercayaan penumpang serta kelancaran operasional bandara utama Indonesia.

Pos terkait