123Berita – 06 April 2026 | Bandara Soetta, yang menjadi pintu gerbang utama bagi wilayah Jawa Barat, mengalami kejadian tak terduga pada sore hari ketika hujan deras mengguyur daerah tersebut. Sebuah bagian atap Terminal 3 yang melayani penumpang domestik runtuh akibat beban air yang berlebih, menimbulkan kepanikan sesaat di antara penumpang namun beruntung tidak ada yang terluka.
Kerusakan yang terjadi terbatas pada sebagian kecil area Terminal 3, terutama di zona keberangkatan internasional yang sedang dalam proses renovasi. Meskipun sebagian atap runtuh, tidak ada kebocoran air yang merembes ke ruang tunggu atau area boarding, sehingga proses boarding dan check‑in tetap dapat dilaksanakan. Tim keamanan segera mengevakuasi penumpang yang berada di sekitar zona bahaya ke area yang lebih aman, sambil menutup akses sementara ke bagian yang terdampak.
Setelah kejadian, pihak pengelola bandara segera mengerahkan tim pemeliharaan untuk membersihkan puing‑puing logam dan memeriksa integritas struktural sisa atap. Langkah‑langkah yang diambil meliputi:
- Pemotongan dan pengangkutan panel atap yang roboh menggunakan peralatan khusus.
- Pemeriksaan menyeluruh oleh insinyur struktural untuk menilai kerusakan pada rangka utama.
- Penempatan papan peringatan dan pengalihan alur penumpang sementara.
- Koordinasi dengan otoritas penerbangan untuk memastikan tidak ada risiko pada operasional penerbangan.
Pihak Bandara Soetta menyatakan bahwa seluruh area yang terdampak telah dibersihkan dalam waktu kurang dari dua jam, dan tidak ada jadwal penerbangan yang harus dibatalkan atau ditunda. Semua penerbangan yang dijadwalkan pada hari itu tetap berangkat dan mendarat tepat waktu, berkat kerja cepat tim operasional serta dukungan dari otoritas penerbangan sipil.
Dalam sebuah pernyataan resmi, Kepala Operasi Bandara Soetta, Budi Santoso, menegaskan komitmen terhadap keselamatan penumpang. Ia menyampaikan, “Keselamatan penumpang adalah prioritas utama kami. Kami telah melakukan inspeksi menyeluruh dan memastikan bahwa semua fasilitas kembali berfungsi normal sebelum melanjutkan operasi. Kami juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh struktur atap di Terminal 3 untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.”
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan infrastruktur bandara dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem, terutama mengingat perubahan iklim yang menyebabkan intensitas hujan semakin tidak menentu. Beberapa ahli infrastruktur mengingatkan bahwa banyak bandara di Indonesia masih mengandalkan bangunan lama yang belum memenuhi standar modern untuk menahan beban hujan lebat.
Untuk mengurangi risiko serupa, pihak pengelola bandara berencana melakukan beberapa langkah strategis, antara lain memperkuat struktur atap dengan material yang lebih tahan karat, meningkatkan sistem drainase air hujan, serta menjadwalkan inspeksi rutin setiap enam bulan. Selain itu, mereka juga akan berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengintegrasikan prosedur darurat yang lebih efektif.
Secara keseluruhan, meski insiden atap Terminal 3 Bandara Soetta menimbulkan kekhawatiran, respons cepat dan koordinasi yang baik antara tim bandara, petugas keamanan, dan otoritas penerbangan berhasil mencegah adanya korban jiwa serta gangguan signifikan pada jadwal penerbangan. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pengelola fasilitas transportasi udara di Indonesia untuk meningkatkan standar keamanan dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem.





