Atap Terminal 3 Bandara Soekarno‑Hatta Jebol Akibat Hujan Deras, Penumpang Terganggu

Atap Terminal 3 Bandara Soekarno‑Hatta Jebol Akibat Hujan Deras, Penumpang Terganggu
Atap Terminal 3 Bandara Soekarno‑Hatta Jebol Akibat Hujan Deras, Penumpang Terganggu

123Berita – 06 April 2026 | Pada Senin 6 April 2026, hujan deras yang melanda wilayah Tangerang, Banten, menyebabkan atap Gate 7 Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno‑Hatta mengalami kerusakan parah hingga sebagian mengembang. Kejadian tersebut menimbulkan kepanikan singkat di antara penumpang yang sedang menunggu keberangkatan atau kedatangan penerbangan domestik dan internasional.

Tim darurat bandara, yang terdiri dari pemadam kebakaran, polisi, dan tenaga medis, langsung dikerahkan untuk memastikan tidak ada korban luka. Beruntung, tidak ada laporan cedera serius; hanya beberapa penumpang yang mengalami luka ringan karena terkena serpihan kaca atau logam. Semua yang membutuhkan pertolongan medis telah diberikan pertolongan pertama dan dipindahkan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Bacaan Lainnya

Pengelola Bandara Soekarno‑Hatta, PT Angkasa Pura II, dalam pernyataan resmi menyatakan bahwa kerusakan atap disebabkan oleh kombinasi intensitas hujan yang tinggi dan kondisi struktural atap yang sudah mengalami keausan sejak dibuka pada tahun 2013. Pihak pengelola menegaskan bahwa inspeksi rutin memang telah dilakukan, namun cuaca ekstrem kali ini melebihi batas toleransi material yang dipakai.

“Kami menyesalkan kejadian ini dan memprioritaskan keselamatan penumpang serta karyawan. Saat ini kami sedang melakukan penilaian menyeluruh terhadap semua atap Terminal 3 dan menyiapkan rencana perbaikan serta penggantian komponen yang rusak,” ujar Direktur Operasional Bandara, Budi Santoso dalam konferensi pers singkat yang diadakan di ruang media bandara pada sore hari yang sama.

Akibat penutupan Gate 7, lebih dari 200 penerbangan dijadwalkan pada hari itu mengalami penundaan. Maskapai penerbangan utama, termasuk Garuda Indonesia, Lion Air, dan Citilink, mengumumkan perubahan jadwal serta penempatan penumpang ke gate alternatif. Penumpang yang sudah berada di ruang tunggu melaporkan kebingungan dan ketidaknyamanan, terutama karena area parkir sementara tidak menyediakan fasilitas penunjang seperti toilet portable atau tempat duduk yang memadai.

Pengalaman serupa pernah terjadi pada tahun 2018, ketika bagian atap Terminal 2 mengalami kebocoran akibat hujan lebat. Pada saat itu, pihak bandara melakukan perbaikan struktural dan meningkatkan frekuensi inspeksi. Namun, menurut beberapa ahli konstruksi, standar material atap yang dipilih pada awal pembangunan belum sepenuhnya cocok untuk menahan curah hujan ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Para ahli menyoroti pentingnya evaluasi kembali desain arsitektural bandara yang berlokasi di zona tropis. “Kita harus mengadopsi material yang lebih tahan korosi dan memiliki sistem drainase yang efisien. Selain itu, penggunaan sensor monitoring real‑time dapat membantu mengidentifikasi potensi kegagalan struktural sebelum terjadi kerusakan serius,” kata Dr. Siti Aisyah, pakar teknik sipil Universitas Indonesia.

Pemerintah daerah Banten melalui Dinas Perhubungan setempat juga menyatakan dukungan penuh untuk proses perbaikan. Kepala Dinas, Hendra Wijaya, menegaskan bahwa alokasi dana khusus untuk perbaikan infrastruktur bandara akan dipercepat, mengingat pentingnya Bandara Soekarno‑Hatta sebagai gerbang utama transportasi udara Indonesia.

Sementara proses perbaikan masih dalam tahap perencanaan, pihak bandara telah menyiapkan jalur evakuasi darurat dan memperbanyak petugas keamanan di area Terminal 3. Penumpang disarankan untuk memeriksa status penerbangan secara berkala melalui aplikasi resmi maskapai atau papan informasi digital yang ditempatkan di seluruh terminal.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur kritis seperti bandara harus selalu siap menghadapi cuaca ekstrem. Kejadian di Gate 7 Terminal 3 tidak hanya mempengaruhi operasional penerbangan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran tentang kesiapan sistem manajemen risiko di fasilitas publik. Diharapkan, evaluasi menyeluruh dan investasi pada teknologi modern akan mengurangi kemungkinan terulangnya insiden serupa di masa depan.

Pos terkait