123Berita – 08 April 2026 | Ketika misi Artemis II NASA meluncur mengelilingi Bulan, perhatian dunia tak hanya tertuju pada pencapaian ilmiah, melainkan juga pada respons tak terduga dari awak kapal terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Setelah Trump melontarkan komentar provokatif mengenai program luar angkasa Amerika, para astronot memilih untuk tidak menanggapi secara verbal, menciptakan apa yang dijuluki media internasional sebagai “dead air” atau keheningan total.
Keheningan tersebut muncul pada konferensi pers virtual yang dipimpin oleh kru Artemis II, yang terdiri dari empat astronot terpilih: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy “Jerm” Hansen. Saat sesi tanya jawab, seorang jurnalis menanyakan pandangan mereka tentang pernyataan Trump yang menyinggung biaya dan manfaat eksplorasi luar angkasa. Alih-alih memberikan jawaban langsung, para astronot menanggapi dengan senyuman dan kembali ke presentasi teknis mengenai misi, menolak memberi ruang bagi perdebatan politik.
Reaksi ini langsung menjadi viral di media sosial, dengan tagar #SilentTreatment dan #ArtemisII menyebar cepat di platform seperti Twitter dan TikTok. Pengamat politik menafsirkan sikap ini sebagai sinyal bahwa komunitas ilmiah dan astronautik berusaha memisahkan agenda politik dari upaya ilmiah yang berskala global. Sementara itu, pendukung Trump menuduh NASA “menyembunyikan” dukungan politik, meski tidak ada bukti bahwa Presiden atau administrasinya secara resmi menanggapi aksi tersebut.
Artemis II sendiri merupakan misi berawak pertama NASA sejak program Apollo, bertujuan melakukan penerbangan mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi. Selama perjalanan, awak melaporkan perasaan “overwhelming” atau luar biasa saat melihat sisi gelap Bulan, mengungkapkan emosi campur aduk antara kegembiraan, rasa hormat, dan keharuan. Dalam pernyataan resmi yang dirilis setelah misi, mereka menekankan pentingnya kolaborasi internasional, mencatat bahwa lebih dari 20 negara turut serta dalam penyediaan teknologi dan data ilmiah.
Keberanian kru dalam menghadapi momen paling berbahaya, yaitu fase manuver pendaratan lunak pada modul Orion, juga mendapat sorotan. Tim harus mengendalikan kecepatan dan arah dengan presisi tinggi, mengingat margin kesalahan yang sangat tipis. Menurut laporan resmi NASA, semua prosedur berjalan lancar tanpa insiden signifikan, menandakan kesiapan program Artemis untuk tahap berikutnya, yaitu pendaratan manusia di permukaan Bulan pada tahun 2025.
Di balik drama politik, ada pula sorotan pada dampak emosional yang dirasakan para astronaut. Christina Koch, yang pernah memecahkan rekor misi terlama di luar angkasa, mengaku terharu melihat Bumi dari jarak jauh, menggambarkan momen tersebut sebagai “pengingat akan kerentanan planet kita”. Jeremy Hansen menambahkan bahwa melintasi jarak antarplanet menumbuhkan rasa tanggung jawab kolektif, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan eksplorasi sumber daya luar angkasa.
Media internasional menilai keheningan para astronaut sebagai bentuk profesionalisme yang menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus tetap independen dari retorika politik. Sejumlah pakar hubungan internasional menyoroti bahwa tindakan ini dapat menjadi preseden bagi lembaga-lembaga ilmiah lainnya dalam menanggapi tekanan politik, terutama ketika kebijakan publik berpotensi menghambat penelitian kritis.
Namun, tidak semua pihak setuju dengan pendekatan tersebut. Beberapa anggota Kongres Amerika Serikat, khususnya yang mendukung kebijakan Trump, menilai sikap kru sebagai “pengabaian kewajiban warga negara” dan menuntut klarifikasi resmi. Sebaliknya, senator dari Partai Demokrat menegaskan bahwa kebebasan akademik dan ilmiah harus dilindungi, mengingat pentingnya misi Artemis bagi keamanan dan inovasi nasional.
Meski kontroversi politik terus menggelayut, fokus utama tetap pada pencapaian teknis misi Artemis II. Data yang dikumpulkan selama penerbangan akan memperkaya pengetahuan tentang radiasi antariksa, gravitasi mikro, dan kondisi permukaan Bulan. Informasi ini diharapkan menjadi landasan bagi misi Artemis III yang direncanakan akan menurunkan astronot pertama wanita dan orang kulit hitam di permukaan Bulan.
Kesimpulannya, keheningan yang dipilih oleh para astronot Artemis II bukan sekadar reaksi pribadi terhadap provokasi politik, melainkan pernyataan tegas tentang pentingnya memisahkan agenda ilmiah dari dinamika partisan. Misi ini tidak hanya menandai kembali langkah manusia ke luar angkasa, tetapi juga menegaskan bahwa eksplorasi kosmos harus tetap menjadi usaha kolektif yang melampaui perbatasan politik. Dengan dukungan internasional dan komitmen ilmiah yang kuat, Artemis II membuka jalan bagi era baru penjelajahan luar angkasa, sekaligus mengingatkan dunia bahwa di balik setiap peluncuran, ada nilai universal yang menuntun umat manusia menuju masa depan yang lebih terhubung dan berkelanjutan.





