Andien Terharu Tonton Na Willa, Kenangan Masa Kecil Bangkit Kembali

Andien Terharu Tonton Na Willa, Kenangan Masa Kecil Bangkit Kembali
Andien Terharu Tonton Na Willa, Kenangan Masa Kecil Bangkit Kembali

123Berita – 04 April 2026 | Jakarta, 4 April 2026 – Penyanyi sekaligus penulis lagu Andien mengungkapkan kegembiraan dan keharuan yang mendalam setelah menonton film keluarga Na Willa bersama suami dan dua anaknya. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini merupakan adaptasi dari karya penulis Reda Gaudiamo, diproduksi oleh Visinema Pictures, dan menampilkan estetika visual serta musik yang berhasil menyentuh hati penontonnya.

Andien, yang dikenal lewat lagu “Saat Bahagia”, membagikan pengalamannya melalui akun Instagram pribadi. Ia menjelaskan bahwa rasa penasaran awalnya muncul setelah menonton cuplikan teaser yang beredar di media sosial. Tanpa ekspektasi khusus, ia mengajak suami serta kedua anaknya, Kawa dan Tabi, ke bioskop untuk menyaksikan film yang awalnya tampak seperti hiburan anak-anak.

Bacaan Lainnya

Sesaat setelah lampu menutup, Andien menuliskan bahwa suasana dalam ruangan terasa seperti “pulang ke masa lalu”. Ia mengakui bahwa adegan-adegan sederhana, seperti lelucon tentang soda yang dikenal dengan sebutan “Ora Nyekrus”, mengingatkannya pada cerita-cerita yang sering diceritakan ibunya semasa kecil. Kenangan itu menimbulkan sensasi hangat, seakan ia kembali ke masa ketika dunia terasa lebih ringan dan penuh tawa.

Secara visual, Andien terkesan dengan tata artistik film. Pemilihan kostum, pencahayaan, serta penataan set menciptakan atmosfer yang lembut namun memikat. Ia menyoroti kehadiran para pemain anak yang berhasil menjiwai peran mereka dengan natural. Selain itu, musik yang disusun oleh Laleilmanino mendapat pujian khusus. “Lagu ‘Sikilku Iso Muni’ benar‑benar membuat hati jatuh cinta,” tulis Andien, menambahkan bahwa ia juga sedang menyiapkan kolaborasi musik baru pada bulan Juni.

Lebih dari sekadar visual dan musik, Andien menekankan nilai moral yang terselip dalam alur cerita. Film ini tidak hanya mengajarkan perbedaan antara benar dan salah, melainkan juga memperlihatkan realitas hidup yang tidak selalu adil. Ia menilai bahwa penyampaian pesan moral tersebut disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak, sehingga tidak terasa menggurui melainkan mengajak refleksi.

Andien juga mengaitkan gaya bercerita Ryan Adriandhy dengan karya-karya Studio Ghibli yang dikenal dengan tempo lambat dan ruang bernapas yang luas. “Kecepatan narasi yang santai memberikan ruang bagi penonton untuk merenung, tanpa distraksi berlebih,” ungkapnya. Menurutnya, pendekatan ini memberikan kesejukan di tengah dunia yang serba cepat, memungkinkan penonton, baik anak maupun orang dewasa, menikmati setiap momen secara utuh.

Sementara itu, Andien sempat mengungkapkan kekhawatirannya tentang bagaimana reaksi anaknya terhadap film yang mengusung tema-tema emosional. Ia mengamati mata Kawa dan Tabi yang berbinar ketika adegan lucu muncul, serta mata mereka yang berkaca‑kaca pada momen yang lebih sendu. Reaksi tersebut membuat Andien terharu, karena ia melihat anak‑anaknya benar‑benar terhubung dengan cerita yang disajikan.

Dalam sebuah refleksi lebih dalam, Andien menolak label “lebay” yang sering melekat pada orang yang mengekspresikan perasaan secara terbuka. Ia menegaskan bahwa menonton film tidak memerlukan analisis logis semata; membuka hati dan merasakan setiap detik adalah kunci utama. “Perasaan adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain, diri sendiri, serta luka yang tersembunyi,” katanya.

Andien menutup pengamatannya dengan menekankan pentingnya film Na Willa tidak hanya bagi anak‑anak, tetapi juga bagi orang tua. Menurutnya, film ini menjadi cermin bagi para orang tua dalam mengasah cara mengasuh yang lebih utuh, sekaligus mengingatkan bahwa setiap orang masih menyimpan “anak kecil” dalam diri mereka. Dengan menonton bersama, keluarga dapat berbagi momen yang memperkuat ikatan emosional dan menumbuhkan empati lintas generasi.

Kesimpulannya, Na Willa berhasil menyentuh hati Andien melalui kombinasi estetika visual, musik yang menyentuh, serta pesan moral yang disajikan secara lembut namun mendalam. Pengalaman menonton bersama keluarga tidak hanya menjadi hiburan, melainkan juga perjalanan nostalgia yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sekaligus membuka ruang dialog antara orang tua dan anak tentang nilai‑nilai kehidupan.

Pos terkait