123Berita – 08 April 2026 | Ketegangan militer yang meluas di kawasan Timur Tengah kini menambah daftar ancaman yang menyasar warisan budaya dunia. Sejumlah situs bersejarah di Iran, termasuk peninggalan kuno Persepolis dan kompleks candi Chogha Zanbil, berada dalam bahaya serius setelah serangkaian serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Situasi ini memicu seruan mendesak dari pemerintah Tehran kepada UNESCO untuk menggalang perlindungan internasional bagi 29 situs Warisan Dunia yang berada di wilayah negara tersebut.
Persepolis, yang pernah menjadi ibu kota megah Kekaisaran Persia pada masa Dinasti Achaemenid, telah menjadi simbol kebanggaan nasional Iran selama ribuan tahun. Bangunan megah ini, yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia sejak 1979, kini menghadapi risiko kerusakan struktural akibat ledakan artileri dan serangan udara di sekitarnya. Sementara itu, Chogha Zanbil, sebuah kompleks kuil Ziggurat yang dibangun pada abad ke-13 SM, juga berada di zona berbahaya, mengingat lokasinya yang tidak jauh dari garis depan konflik.
Serangan yang memicu kekhawatiran ini bermula dari operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan instalasi militer Iran di wilayah perbatasan. Meskipun tujuan utama operasi adalah mengurangi kapasitas pertahanan Iran, dampak sekunder terhadap infrastruktur sipil dan situs budaya tidak dapat diabaikan. Penggunaan amunisi yang tidak terarah, serta ledakan yang terjadi di dekat zona arkeologis, meningkatkan risiko pecahnya batu-batu bersejarah, kerusakan pada relief, serta kehilangan artefak tak ternilai.
UNESCO, badan PBB yang mengelola Daftar Warisan Dunia, telah menerima surat resmi dari Wakil Menteri Luar Negeri Iran yang menuntut tindakan preventif. Dalam surat tersebut, Iran menekankan perlunya penetapan zona perlindungan khusus serta penempatan personel observasi independen untuk memantau situasi di lapangan. Selain itu, Iran meminta agar negara-negara anggota UNESCO mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam segala bentuk serangan yang dapat merusak warisan budaya manusia.
Respons internasional masih beragam. Beberapa negara anggota UNESCO menyatakan keprihatinan mereka terhadap potensi kehilangan budaya, sementara yang lain menolak mengaitkan perlindungan warisan dengan konflik geopolitik yang sedang berlangsung. Di sisi lain, organisasi non-pemerintah seperti International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) telah mengirimkan tim ahli untuk menilai tingkat kerentanan situs-situs tersebut dan menyusun rekomendasi mitigasi darurat.
Para ahli arkeologi menekankan bahwa kerusakan pada situs-situs seperti Persepolis tidak hanya akan menghilangkan nilai estetika, melainkan juga menutup akses pada data ilmiah yang masih dipelajari. “Setiap batu di Persepolis menyimpan informasi tentang teknik konstruksi, simbolisme politik, serta interaksi budaya pada masa Achaemenid. Kehilangan ini akan menghambat penelitian yang dapat mengungkapkan detail sejarah yang belum terpecahkan,” ujar Dr. Farhad Khosravi, pakar arkeologi Persia di Universitas Teheran.
Selain dampak ilmiah, ada pula implikasi ekonomi yang signifikan. Pariwisata budaya menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi Iran, terutama bagi kota-kota yang mengandalkan kunjungan wisatawan internasional ke situs-situs bersejarah. Penurunan kunjungan akibat ketidakstabilan keamanan dapat memperparah situasi ekonomi yang sudah tertekan oleh sanksi internasional. Pemerintah Iran menilai bahwa pelestarian warisan budaya bukan sekadar tugas moral, melainkan strategi ekonomi jangka panjang.
Di tengah krisis ini, inisiatif lokal juga mulai muncul. Lembaga konservasi di Iran telah mengaktifkan tim darurat untuk melakukan pengamanan sementara, seperti pemasangan penutup pelindung pada bagian bangunan yang rentan serta pemindahan artefak penting ke lokasi aman. Namun, upaya tersebut memerlukan dukungan logistik dan finansial yang signifikan, yang pada gilirannya memerlukan bantuan internasional.
Kesimpulannya, ancaman yang dihadapi oleh 29 situs Warisan Dunia di Iran mencerminkan betapa rentannya warisan budaya manusia terhadap dinamika politik dan militer global. Perlindungan yang efektif membutuhkan kolaborasi lintas negara, keterlibatan lembaga internasional, serta komitmen kuat dari semua pihak untuk menempatkan nilai kebudayaan di atas kepentingan strategis sesaat. Jika tidak ditangani secara serius, kerusakan pada Persepolis, Chogha Zanbil, dan situs-situs lainnya dapat menjadi kehilangan tak tergantikan bagi umat manusia, sekaligus menandai babak kelam dalam upaya melestarikan jejak peradaban yang telah membentuk dunia modern.