123Berita – 10 April 2026 | Seorang warga di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengaku meminum oli mesin dengan tujuan meningkatkan stamina tubuh. Praktik yang terbilang ekstrim itu kemudian menjadi perbincangan hangat di media sosial, memicu protes keras dari kalangan ahli gizi serta Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kejadian ini menyoroti bahaya mitos kesehatan yang beredar tanpa dasar ilmiah.
Namun, para pakar menegaskan bahwa mengonsumsi oli mesin sama sekali tidak memiliki manfaat bagi kesehatan manusia. Dr. Rina Suryani, ahli gizi dari Universitas Hasanuddin, menjelaskan bahwa oli mesin dirancang khusus untuk pelumasan komponen mesin dan mengandung senyawa kimia berbahaya bila tertelan.
- Komposisi oli mesin meliputi minyak mineral, aditif anti‑oksidasi, dan zat anti‑karat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh.
- Jika masuk ke sistem pencernaan, oli dapat menyebabkan iritasi lambung, keracunan, dan gangguan pada sistem pencernaan serta hati.
- Penggunaan jangka panjang dapat berpotensi menimbulkan kerusakan organ vital, termasuk ginjal.
Dr. Rina menambahkan, “Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa oli mesin dapat meningkatkan stamina. Sebaliknya, konsumsi zat tersebut berisiko tinggi menimbulkan efek samping serius.” Ia menekankan pentingnya mengandalkan sumber energi yang alami, seperti pola makan seimbang, cukup tidur, dan olahraga teratur.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga memberikan komentar terkait praktik tersebut. Dewan Fatwa MUI menegaskan bahwa mengonsumsi zat non‑makanan, terutama yang mengandung bahan kimia berbahaya, tidak sesuai dengan prinsip syariah yang mengutamakan keselamatan dan kesehatan tubuh manusia.
Ketua MUI daerah Makassar, KH. Ahmad Fauzi, menyatakan, “Islam mengajarkan agar umat menjaga kesehatan dengan cara yang halal dan tidak membahayakan diri sendiri. Minum oli mesin jelas melanggar prinsip tersebut karena dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.”
Kasus ini mencerminkan fenomena penyebaran informasi kesehatan yang tidak terverifikasi melalui platform daring. Banyak orang terpengaruh oleh rumor atau testimoni pribadi tanpa memeriksa keabsahan sumber ilmiahnya. Praktik semacam ini dapat memicu tren berbahaya yang melibatkan bahan-bahan tidak layak konsumsi.
Untuk mencegah penyebaran mitos serupa, para pakar menyarankan langkah-langkah berikut:
- Selalu cek keabsahan informasi kesehatan melalui lembaga resmi seperti Kementerian Kesehatan atau institusi akademis.
- Hindari mengonsumsi produk yang tidak ditujukan untuk konsumsi manusia, meskipun ada klaim manfaatnya.
- Konsultasikan dengan tenaga medis atau ahli gizi sebelum mencoba metode peningkatan stamina yang tidak konvensional.
- Berpartisipasi dalam edukasi publik tentang pentingnya literasi kesehatan.
Polisi setempat melaporkan bahwa hingga kini tidak ada laporan resmi tentang keracunan atau komplikasi medis yang dialami warga tersebut. Namun, pihak berwenang tetap mengawasi perkembangan kasus ini dan siap menindak jika ditemukan pelanggaran hukum terkait distribusi bahan berbahaya.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keinginan meningkatkan performa fisik tidak boleh mengorbankan keselamatan. Mengandalkan cara-cara alami, didukung oleh saran profesional, merupakan langkah paling aman dalam menjaga stamina dan kesehatan secara berkelanjutan.
Dengan meningkatnya akses informasi, penting bagi masyarakat untuk memilah antara fakta dan fiksi, terutama dalam bidang kesehatan. Mengedukasi diri dan orang sekitar tentang bahaya praktik tidak ilmiah dapat mencegah potensi bahaya kesehatan yang lebih luas.
Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi semua kalangan agar lebih kritis dalam menilai klaim kesehatan yang belum terbukti, serta selalu mengutamakan rekomendasi dari sumber yang terpercaya.





