Wardatina Mawa Dikecam Gerakan Joget di Kimono Saat Liburan di Jepang: Apa Penyebabnya?

Wardatina Mawa Dikecam Gerakan Joget di Kimono Saat Liburan di Jepang: Apa Penyebabnya?
Wardatina Mawa Dikecam Gerakan Joget di Kimono Saat Liburan di Jepang: Apa Penyebabnya?

123Berita – 08 April 2026 | Wardatina Mawa, salah satu selebriti media sosial yang dikenal lewat konten kreatifnya, baru-baru ini mengunggah video berdurasi singkat yang menampilkan dirinya menari sambil mengenakan kimono tradisional Jepang. Video tersebut dipublikasikan di platform video pendek dan langsung menuai perhatian publik, baik positif maupun negatif.

Dalam klip itu, Mawa tampak berada di sebuah taman yang dipenuhi pepohonan sakura, menyesuaikan gerakan tarian modern dengan pakaian kimono yang berwarna cerah. Meskipun niatnya tampak untuk merayakan keindahan budaya Jepang sekaligus menambah nilai estetika pada konten, sebagian besar netizen menilai gerakannya tidak menghormati adat istiadat setempat.

Bacaan Lainnya

Reaksi kritis muncul setelah sejumlah komentar menyoroti cara Mawa menggerakkan tubuhnya, terutama gerakan pinggul dan langkah kaki yang dianggap kurang selaras dengan norma berpakaian tradisional. Beberapa pengguna media sosial menuliskan bahwa kimono bukan sekadar pakaian seremonial, melainkan simbol kebanggaan budaya Jepang yang memerlukan pemahaman mendalam tentang tata cara pemakainya.

Para netizen juga memperhatikan detail kecil, seperti posisi cadar (obij) yang menutupi bagian kepala. Dalam video, cadar tersebut tampak terangkat atau tidak terpasang rapat, memicu perdebatan tentang apakah hal itu merupakan pelanggaran etika berpakaian tradisional. Sebagian komentar menekankan bahwa penggunaan kimono dalam konteks hiburan harus disertai rasa hormat yang tinggi.

Tak sedikit pula yang menilai bahwa kritik tersebut berlebihan. Mereka berargumen bahwa seni tari memang bersifat ekspresif dan tidak selamanya harus terikat pada aturan kaku. Pendukung Mawa menuturkan bahwa selebriti tersebut hanya berniat menampilkan keindahan visual, bukan menistakan budaya Jepang.

Berbagai sudut pandang ini mencerminkan dinamika perdebatan seputar budaya pop dan apropriasi budaya di era digital. Di satu sisi, platform daring memberikan ruang bagi siapa saja untuk mengekspresikan kreativitas, namun di sisi lain, aksesibilitas tersebut menuntut tanggung jawab moral dalam menyajikan konten yang sensitif.

Sejumlah pakar budaya Jepang menanggapi situasi ini dengan menekankan pentingnya edukasi sebelum menggunakan elemen tradisional dalam produksi konten. Menurut mereka, kimono memiliki aturan khusus terkait cara memakainya, termasuk cara menyesuaikan obi (sabuk) dan penempatan obij. Mengabaikan detail tersebut dapat menimbulkan kesan tidak menghargai nilai historis pakaian tersebut.

Sementara itu, pihak manajemen Wardatina Mawa belum memberikan pernyataan resmi mengenai kritik yang diterima. Namun, dalam sebuah postingan singkat, Mawa mengucapkan terima kasih atas masukan para penonton dan menyatakan niatnya untuk belajar lebih banyak tentang budaya Jepang.

Kasus ini juga menambah daftar contoh selebriti asing yang pernah mendapat sorotan karena penggunaan kostum tradisional secara tidak tepat. Dari contoh sebelumnya, seperti penyanyi Barat yang memakai sari India dengan cara yang tidak sesuai, hingga aktor yang mengenakan kimono dalam film Hollywood tanpa memperhatikan protokol, semua menjadi pelajaran penting tentang sensitivitas budaya.

Di Indonesia sendiri, fenomena serupa semakin sering muncul seiring meningkatnya tren travel vlog dan konten budaya lintas negara. Media sosial menjadi arena utama di mana perbedaan persepsi antara penikmat budaya dan penikmat hiburan sering bertabrakan, menuntut dialog yang konstruktif.

Pengguna internet yang kritis berpendapat bahwa kritik yang diarahkan kepada Mawa seharusnya menjadi ajakan bagi para kreator konten untuk melakukan riset mendalam sebelum menampilkan elemen budaya lain. Hal ini dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus menghindari potensi kesalahpahaman yang merugikan kedua belah pihak.

Di sisi lain, beberapa netizen mengingatkan bahwa budaya selalu bersifat dinamis, dan adaptasi kreatif dapat menjadi cara untuk memperkenalkan tradisi kepada generasi muda yang lebih terbuka terhadap perubahan. Mereka menekankan pentingnya keseimbangan antara penghormatan dan inovasi.

Kesimpulannya, kontroversi seputar video Wardatina Mawa menyoroti tantangan yang dihadapi kreator konten dalam menavigasi batas antara apresiasi budaya dan apropriasi yang kurang tepat. Kritik yang diterima bukan hanya tentang gerakan tari semata, melainkan tentang pemahaman mendalam terhadap simbol-simbol tradisional yang diangkat ke panggung digital. Dengan menanggapi masukan secara terbuka, selebriti dan pembuat konten dapat memperkaya dialog lintas budaya serta memastikan bahwa setiap representasi budaya dilakukan dengan rasa hormat yang layak.

Pos terkait