123Berita – 07 April 2026 | Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, menegaskan komitmen pemerintah untuk mencari solusi konkret dalam meningkatkan kesejahteraan guru honorer dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) di Sekolah Dasar (SD) Inpres Kaniti, Kupang. Kunjungan Gibran ke sekolah tersebut pada Senin (5/4/2024) menjadi sorotan publik karena menyoroti tantangan yang dihadapi tenaga pendidik non-PNS dalam menjalankan tugas mencerdaskan generasi muda.
Dalam sambutan resmi yang disampaikan di aula SD Inpres Kaniti, Gibran menekankan bahwa guru honorer dan PPPK memiliki peran strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Tanpa dedikasi mereka, kualitas pendidikan di daerah terpencil akan terancam,” ujar Gibran, menambahkan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan mereka bekerja tanpa jaminan kesejahteraan yang memadai.
Guru honorer di Indonesia, khususnya di wilayah timur, sering kali menerima honorarium yang jauh di bawah standar upah minimum daerah (UMD). Kondisi ini berdampak pada motivasi kerja, tingkat retensi tenaga pendidik, dan pada akhirnya kualitas pembelajaran di kelas. Di SD Inpres Kaniti, sebanyak 22 orang guru honorer dan 8 orang PPPK melaporkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk biaya transportasi, perlengkapan mengajar, dan tunjangan kesehatan.
Gibran menguraikan tiga langkah prioritas yang akan diusulkan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) serta Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB):
- Peningkatan honorarium melalui penyesuaian dengan UMD dan penambahan tunjangan khusus bagi guru di daerah terpencil.
- Pembentukan dana kesejahteraan khusus yang dikelola secara transparan, yang dapat mencakup asuransi kesehatan, dana pensiun, serta bantuan pendidikan bagi anak guru.
- Penguatan mekanisme karier yang memungkinkan guru honorer beralih menjadi PPPK atau PNS setelah memenuhi persyaratan kompetensi dan masa kerja tertentu.
Selain langkah-langkah administratif, Gibran menekankan pentingnya partisipasi aktif pemerintah daerah. “Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kota Kupang harus menjadi motor penggerak, menyediakan alokasi anggaran yang realistis dan mengawasi pelaksanaannya secara berkelanjutan,” tegasnya.
Para guru yang hadir dalam acara tersebut menyambut baik komitmen wakil presiden, meski menekankan perlunya tindak lanjut yang cepat. Ibu Siti Nurhaliza, seorang guru honorer mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengungkapkan, “Kami mengharapkan tidak hanya janji, melainkan realisasi dalam waktu dekat, agar kami dapat fokus pada proses belajar mengajar tanpa khawatir tentang gaji yang tidak mencukupi.”
Pengamat pendidikan, Dr. Andi Pratama, menilai bahwa solusi yang diusulkan Gibran sejalan dengan rekomendasi KemenpanRB dalam laporan 2023 tentang reformasi tenaga pendidik. Dr. Andi menambahkan, “Jika pemerintah dapat menyelaraskan kebijakan fiskal dengan kebutuhan lapangan, hal ini akan menjadi contoh bagi daerah lain yang memiliki tantangan serupa.”
Secara historis, upaya meningkatkan kesejahteraan guru honorer telah mengalami berbagai rintangan, termasuk keterbatasan anggaran, birokrasi yang kompleks, serta perbedaan standar antar provinsi. Namun, tekanan publik yang semakin kuat serta peningkatan kesadaran akan pentingnya kualitas pendidikan mendorong pemerintah untuk mempercepat proses reformasi.
Gibran juga menyinggung tentang pentingnya kolaborasi dengan serikat pekerja dan organisasi profesi. Ia menegaskan bahwa dialog terbuka akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan yang adil dan berkelanjutan. “Kita tidak dapat melangkah sendiri. Sinergi antara pemerintah, serikat, dan guru itu kunci keberhasilan,” ujarnya.
Pada akhir kunjungan, Gibran berjanji akan kembali dalam waktu tiga bulan untuk mengevaluasi progres implementasi langkah-langkah yang telah disepakati. Ia menutup pertemuan dengan harapan bahwa SD Inpres Kaniti akan menjadi contoh keberhasilan reformasi kesejahteraan guru di seluruh Indonesia.
Dengan menaruh perhatian khusus pada guru honorer dan PPPK, pemerintah menunjukkan komitmen nyata terhadap agenda pendidikan nasional. Jika langkah-langkah yang diusulkan dapat diimplementasikan secara efektif, diharapkan tidak hanya kondisi finansial guru akan membaik, tetapi juga kualitas pembelajaran di kelas akan meningkat, memberikan dampak positif bagi generasi masa depan.





