123Berita – 05 April 2026 | Beberapa hari terakhir, platform media sosial dipenuhi perbincangan mengenai prosedur kontrasepsi pria, vasektomi, yang dikabarkan dapat menurunkan stamina dan membuat pria terasa “loyo”. Isu tersebut tersebar cepat, memicu keresahan di kalangan pria muda yang mempertimbangkan langkah permanen dalam mengendalikan fertilitas. Namun, para pakar kesehatan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah.
Vasektomi merupakan prosedur bedah sederhana yang melibatkan pemotongan atau pengikatan vas deferens, saluran yang mengangkut sperma dari testis ke uretra. Proses ini secara efektif menghentikan kemampuan pria untuk menghasilkan sperma, namun tidak menyentuh produksi hormon seks pria, terutama testosteron. Testosteron diproduksi langsung oleh testis dan tetap berfungsi normal setelah vasektomi, sehingga fungsi seksual, libido, serta kemampuan ereksi tidak terpengaruh.
Dr. Andi Prasetyo, Sp.KM, seorang urologi yang berpraktik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, menjelaskan, “Vasektomi tidak memengaruhi produksi hormon testosteron. Pada sebagian besar pasien, kadar testosteron tetap berada pada rentang normal bahkan setelah prosedur selesai. Oleh karena itu, tidak ada alasan medis yang mendukung bahwa vasektomi akan membuat pria kehilangan gairah atau kemampuan seksualnya.”
Untuk memperjelas, berikut rangkuman fakta medis yang bertentangan dengan mitos yang beredar:
- Mitos: Vasektomi menurunkan kadar testosteron.
- Fakta: Testosteron diproduksi di dalam testis dan tidak tergantung pada vas deferens. Studi klinis menunjukkan tidak ada penurunan signifikan pada kadar testosteron setelah vasektomi.
- Mitos: Pria yang menjalani vasektomi akan mengalami disfungsi ereksi.
- Fakta: Disfungsi ereksi lebih berkaitan dengan faktor psikologis atau kondisi kesehatan lain, bukan dengan pemotongan vas deferens.
- Mitos: Prosedur ini menyebabkan penurunan libido.
- Fakta: Libido dipengaruhi oleh hormon, psikologi, dan gaya hidup. Vasektomi tidak mengubah hormon seks utama.
Selain penjelasan medis, faktor psikologis turut berperan dalam persepsi publik. Ketakutan akan perubahan tubuh seringkali menimbulkan rasa cemas, yang pada gilirannya dapat memengaruhi performa seksual secara tidak langsung. Oleh karena itu, penting bagi pria yang mempertimbangkan vasektomi untuk mendapatkan konseling pra‑operasi yang komprehensif, termasuk penjelasan tentang apa yang berubah dan apa yang tetap sama setelah prosedur.
Dalam konteks kebijakan kesehatan, vasektomi telah diakui sebagai metode kontrasepsi paling efektif dengan tingkat kegagalan kurang dari 1 persen. Di Indonesia, program ini termasuk dalam layanan kesehatan reproduksi yang disediakan secara gratis atau dengan biaya terjangkau di fasilitas kesehatan pemerintah. Meskipun demikian, stigma sosial masih menjadi penghalang bagi banyak pria untuk memilih prosedur ini.
Para ahli menyarankan agar masyarakat mencari informasi dari sumber yang kredibel, seperti tenaga medis, jurnal ilmiah, atau lembaga kesehatan resmi, bukan sekadar mengandalkan rumor di media sosial. “Penting untuk menilai setiap klaim dengan bukti ilmiah. Jika ada keraguan, konsultasikan langsung dengan dokter urologi atau spesialis reproduksi,” pungkas Dr. Andi.
Kesimpulannya, vasektomi tidak memengaruhi kadar hormon testosteron, fungsi ereksi, maupun libido. Klaim bahwa prosedur ini membuat pria menjadi “loyo” hanyalah mitos yang belum terbukti secara klinis. Bagi pria yang mempertimbangkan vasektomi, langkah terbaik adalah melakukan konsultasi medis yang tepat, memahami manfaat dan risiko yang sebenarnya, serta mengesampingkan informasi yang tidak berdasar.





