123Berita – 05 April 2026 | Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, menyampaikan khotbah Paskah pertamanya dengan mengangkat tema perdamaian di Timur Tengah sebagai inti pesan spiritualnya. Dalam momen yang sarat makna tersebut, ia menekankan pentingnya doa kolektif serta tindakan nyata untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama di wilayah tersebut. Khotbah ini, yang dibacakan pada Minggu Paskah, menandai satu dari tradisi liturgi paling penting dalam kalender gereja Anglikan, sekaligus menjadi platform bagi Welby untuk mengajak umat beriman menanggapi tantangan kemanusiaan global.
Welby membuka khotbah dengan mengaitkan makna kebangkitan Kristus dengan harapan akan kebangkitan damai di antara bangsa-bangsa. Ia menegaskan bahwa kebangkitan tidak hanya bersifat rohani, melainkan juga menuntut perubahan konkret dalam hubungan antar manusia. “Kebangkitan Kristus memberi kita kekuatan untuk mempercayai bahwa bahkan dalam kegelapan paling pekat, cahaya damai dapat muncul,” ujar Welby, menegaskan bahwa harapan harus diiringi dengan upaya bersama.
Dalam konteks konflik yang melanda Palestina dan Israel, serta ketegangan yang meluas di negara-negara tetangga, Uskup Agung menekankan peran doa sebagai sarana memperkuat solidaritas internasional. Ia mengingatkan bahwa gereja tidak dapat berdiam diri sementara ribuan nyawa terancam oleh serangan, penindasan, atau pemukiman yang melanggar hukum internasional. “Doa bukan sekadar ritual, melainkan tindakan spiritual yang menyalurkan energi moral untuk menegakkan keadilan,” tegasnya.
Selain menyerukan doa, Welby juga menyoroti pentingnya dialog antaragama dan antarbudaya. Ia mengajak para pemimpin agama lain, termasuk tokoh Muslim, untuk bersama-sama menegakkan nilai-nilai perdamaian yang diajarkan oleh ajaran masing-masing. Menurutnya, kolaborasi lintas keyakinan dapat membuka ruang bagi penyelesaian yang berkelanjutan, mengingat bahwa banyak warga di wilayah tersebut menganut agama yang beragam.
Uskup Agung juga menyinggung peran komunitas internasional, khususnya PBB dan negara-negara besar, dalam memfasilitasi proses perdamaian. Ia mengkritik stagnasi diplomatik yang sering kali mengabaikan suara rakyat di tanah konflik. “Kebijakan yang hanya mengedepankan kepentingan politik jangka pendek akan semakin memperpanjang penderitaan,” ungkap Welby, menambahkan bahwa solusi harus berlandaskan pada keadilan, hak asasi manusia, dan pengakuan atas identitas budaya masing-masing pihak.
Dalam menyampaikan pesan tersebut, Welby mengutip ayat-ayat Injil yang menekankan kasih, pengampunan, dan perdamaian. Ia menekankan bahwa kasih Kristus harus menjadi contoh bagi umat manusia untuk mengatasi kebencian yang memecah belah. “Kita dipanggil untuk menjadi pembawa damai, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan yang berani,” ia menutup bagian pertama khotbahnya.
Para jemaat yang hadir di Katedral Westminster mendengarkan dengan khidmat, banyak di antaranya menanggapi dengan rasa haru. Beberapa dari mereka menuliskan harapan pribadi di papan doa, menggabungkan doa pribadi dengan seruan bagi perdamaian global. Sementara itu, media internasional melaporkan khotbah tersebut sebagai upaya signifikan Gereja Anglikan dalam mengangkat isu geopolitik ke panggung rohani.
Reaksi dari tokoh politik dan pemimpin agama juga beragam. Sejumlah pemimpin Muslim di Inggris menyambut baik seruan Welby, menilai bahwa dialog lintas agama dapat memperkuat upaya diplomatik. Di sisi lain, beberapa pengamat menilai bahwa seruan doa saja tidak cukup tanpa tindakan konkret di tingkat kebijakan. Mereka menekankan perlunya tekanan internasional yang lebih kuat terhadap pelanggaran hak asasi manusia di wilayah konflik.
Sejalan dengan pesan khotbah, Gereja Anglikan mengumumkan beberapa inisiatif baru, termasuk penggalangan dana untuk bantuan kemanusiaan di Gaza dan program pertukaran antarumat beragama. Inisiatif tersebut diharapkan dapat menyalurkan dukungan material serta memperkuat jaringan solidaritas antar komunitas yang terdampak.
Secara keseluruhan, khotbah Paskah pertama Uskup Agung Canterbury menegaskan peran gereja sebagai suara moral dalam perdebatan global. Dengan menggabungkan doa, ajaran Injil, dan panggilan aksi, Welby menyoroti bahwa kebangkitan Kristus harus diwujudkan dalam upaya memperbaiki kondisi dunia yang penuh konflik. Harapan yang ia sampaikan bukan sekadar harapan spiritual, melainkan ajakan bagi semua pihak untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian yang langgeng di Timur Tengah.
Kesimpulannya, seruan Uskup Agung Canterbury menekankan bahwa damai bukanlah impian yang abstrak, melainkan tujuan yang dapat dicapai melalui doa, dialog, dan tindakan bersama. Khotbah Paskah ini menjadi pengingat bahwa momen kebangkitan Kristus seharusnya memicu kebangkitan komitmen manusia untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di seluruh dunia, terutama di wilayah yang paling membutuhkan harapan.





