123Berita – 09 April 2026 | Selebriti muda Tya Ariestya kembali menarik perhatian publik setelah mengungkapkan kebiasaan belanja yang berbeda dari tren mode mewah yang sering dipromosikan di media sosial. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Tya menyatakan bahwa ia telah menahan diri untuk tidak membeli tas bermerk selama lima tahun terakhir. Keputusan tersebut bukan sekadar aksi anti‑konsumsi, melainkan manifestasi dari komitmen pribadi untuk lebih mengedepankan kolaborasi kreatif dan mendukung industri fashion lokal.
Selama lima tahun terakhir, Tya lebih banyak mengalokasikan dana untuk koleksi tas hasil kolaborasi antara dirinya dan desainer lokal. Kolaborasi tersebut tidak hanya memberikan nilai estetika yang unik, tetapi juga menjadi sarana promosi bagi para perancang muda Indonesia yang sedang naik daun. “Saya ingin menjadi bagian dari ekosistem fashion dalam negeri. Dengan berkolaborasi, saya dapat menampilkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas,” jelasnya.
Langkah Tya tersebut selaras dengan gerakan global yang mengedepankan konsumsi berkelanjutan. Di era di mana fast fashion semakin menguasai pasar, para influencer dan selebriti memiliki peran penting dalam membentuk pola konsumsi publik. Dengan menolak tas branded selama lima tahun, Tya mengirimkan sinyal bahwa nilai estetika tidak selalu harus diukur dari label harga, melainkan dari cerita di balik produk itu sendiri.
Selain berfokus pada kolaborasi, Tya juga aktif mendukung brand lokal yang menawarkan kualitas dan desain kompetitif. Ia menyebut beberapa merek Indonesia yang menjadi pilihan utama dalam lemari pakaian dan aksesorisnya, seperti brand X, Y, dan Z, yang dikenal dengan penggunaan bahan ramah lingkungan serta proses produksi yang etis. “Mendukung brand lokal bukan hanya soal patriotisme, melainkan juga tentang menguatkan industri kreatif dalam negeri,” ungkapnya.
Reaksi netizen terhadap pernyataan Tya cukup beragam. Sebagian mengapresiasi sikapnya sebagai contoh konsumen yang cerdas, sementara yang lain menilai bahwa selebriti seharusnya tidak terlalu mengkritik gaya hidup mewah karena masih berada dalam lingkaran selebritas yang memiliki akses ke barang-barang eksklusif. Namun, mayoritas komentar menyoroti inspirasi yang diberikan oleh Tya kepada generasi muda untuk lebih bijak dalam memilih produk fashion.
Berikut beberapa poin utama yang dapat diambil dari pernyataan Tya Ariestya:
- Pengendalian impuls pembelian: Tya menekankan pentingnya menilai kebutuhan sejati sebelum memutuskan membeli tas mewah.
- Kolaborasi kreatif: Dengan bekerja sama bersama desainer lokal, ia menciptakan produk unik yang menonjolkan identitas Indonesia.
- Dukungan pada brand lokal: Memilih produk dalam negeri tidak hanya mengurangi ketergantungan pada merek internasional, tetapi juga membantu pertumbuhan ekonomi kreatif.
- Kesadaran berkelanjutan: Mengedepankan produk dengan bahan ramah lingkungan dan proses produksi etis menjadi nilai tambah bagi konsumen yang peduli pada isu lingkungan.
Penting untuk dicatat bahwa keputusan Tya tidak menutup kemungkinan ia akan kembali membeli tas branded di masa depan. Ia menekankan bahwa keputusan tersebut bersifat fleksibel dan bergantung pada kebutuhan yang sangat spesifik. “Jika saya benar‑benar membutuhkan tas tertentu untuk suatu acara penting, saya tidak akan menolak sepenuhnya,” tambahnya.
Pengaruh Tya Ariestya dalam dunia fashion Indonesia dapat menjadi katalisator perubahan perilaku konsumen, terutama di kalangan generasi Z yang semakin kritis terhadap dampak sosial dan lingkungan dari pilihan fashion mereka. Dengan menyoroti nilai kolaborasi, dukungan pada industri lokal, serta pentingnya konsumsi yang sadar, Tya memberikan contoh konkret bagaimana selebriti dapat menjadi agen perubahan positif.
Secara keseluruhan, keputusan Tya untuk tidak membeli tas mewah selama lima tahun mencerminkan sebuah pendekatan yang lebih selektif dan bertanggung jawab dalam berbelanja fashion. Sikap tersebut tidak hanya memperkuat citra pribadi sebagai sosok yang mendukung produk dalam negeri, tetapi juga membuka diskusi lebih luas tentang peran selebriti dalam mempromosikan konsumsi berkelanjutan. Bagi para penggemar dan pengikutnya, cerita Tya menjadi pengingat bahwa keindahan fashion tidak selalu harus datang dari label harga tinggi, melainkan dapat tumbuh dari kolaborasi, kreativitas, dan dukungan pada industri lokal.
Kesimpulannya, langkah Tya Ariestya menghindari tas mewah selama lima tahun sekaligus mengedepankan kolaborasi serta brand lokal menegaskan pentingnya pilihan konsumen yang lebih bijak. Sikap ini tidak hanya memperkuat posisi brand Indonesia di pasar domestik, tetapi juga menginspirasi generasi muda untuk menilai kembali nilai sebuah produk berdasarkan kualitas, cerita, dan dampak sosialnya.





