123Berita – 08 April 2026 | Pasir putih Gili Trawangan yang biasanya dipadati wisatawan kini menjadi sorotan militer setelah seorang nelayan melaporkan penemuan benda asing yang menyerupai torpedo di perairan utara pulau itu. Insiden yang terjadi sekitar 10 mil laut dari pantai tersebut memicu respons cepat TNI Angkatan Laut (AL) untuk melakukan penyelidikan menyeluruh.
Sesudah mengamankan objek tersebut ke dalam perahu, Iwan langsung melaporkan temuan ini kepada otoritas pelabuhan setempat. Petugas kepolisian maritim kemudian menghubungi Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) untuk menindaklanjuti. Tak lama setelah itu, unit Kapal TNI AL yang berada di wilayah Lombok Barat dikerahkan untuk menelusuri lokasi temuan dan mengambil alih objek tersebut.
Komandan Kolinlamil, Letnan Kolonel (Laks) Arief Wibowo, dalam konferensi pers singkat menyatakan bahwa tim penyidik telah mengamankan benda itu dan sedang melakukan analisis awal di laboratorium TNI AL. “Kami belum dapat memastikan secara pasti apakah objek ini merupakan torpedo militer, sisa-sisa peralatan militer asing, atau bahkan puing-puing kapal yang terdampar,” ujar Laks Arief. “Namun, mengingat potensi bahaya yang dapat ditimbulkan, kami menganggapnya sebagai isu keamanan maritim yang serius dan akan menelusuri asal-usul serta tujuan keberadaannya di perairan Indonesia.”
Penemuan ini menambah daftar insiden serupa yang terjadi di perairan Nusantara dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, petugas pelabuhan di Selat Sunda menemukan bagian-bagian torpedo yang diyakini berasal dari Perang Dunia II. Sementara pada 2023, sebuah kapal nelayan di perairan Maluku melaporkan penemuan benda berkarat menyerupai peluru kendali. Meskipun sebagian besar kasus berakhir sebagai artefak bersejarah, otoritas tetap waspada karena adanya kemungkinan penyelundupan senjata atau sisa-sisa konflik modern.
Para ahli pertahanan dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan TNI AL turut dilibatkan untuk melakukan pengujian material dan komposisi logam. Jika terbukti merupakan torpedo modern, hal ini dapat menandakan adanya aktivitas tidak sah di wilayah perairan Indonesia, baik dari negara asing maupun kelompok non‑negara. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menegaskan komitmen untuk memperkuat pengawasan zona ekonomi eksklusif (ZEE) serta meningkatkan kerja sama intelijen dengan negara-negara sahabat.
Di sisi lain, masyarakat Gili Trawangan menyambut berita ini dengan campuran rasa penasaran dan kekhawatiran. “Kami biasanya hanya khawatir soal ombak dan cuaca, tidak menyangka harus berurusan dengan benda misterius di laut,” ujar Rina, pemilik homestay lokal. Pemerintah daerah Lombok Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat berjanji akan memberikan informasi yang transparan kepada publik, sekaligus memastikan tidak ada dampak negatif terhadap sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi pulau.
Penyelidikan TNI AL diperkirakan akan memakan waktu beberapa minggu, mengingat proses identifikasi bahan, pola pembuatan, serta kemungkinan jejak elektronik yang dapat diakses melalui peralatan khusus. Selama proses tersebut, kapal patroli TNI AL akan meningkatkan frekuensi patroli di sekitar Gili Trawangan dan wilayah sekitarnya untuk mencegah potensi ancaman lebih lanjut.
Keamanan maritim menjadi prioritas utama mengingat letak strategis Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Penemuan objek mirip torpedo ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat akan pentingnya pengawasan ketat, terutama di area perikanan yang padat aktivitas manusia. Jika terbukti sebagai sisa militer, hal ini dapat memicu diskusi lebih luas mengenai perlunya perjanjian internasional yang lebih kuat dalam hal pencegahan penyebaran senjata di laut.
Dengan semua langkah yang diambil, diharapkan kepastian mengenai asal-usul dan tujuan objek tersebut dapat terungkap secepatnya, sehingga keamanan laut Indonesia tetap terjaga dan kepercayaan publik tidak terganggu.





