123Berita – 06 April 2026 | Tim nasional panjat tebing Indonesia resmi meninggalkan tanah air pada Senin (tanggal) untuk menjejakkan kaki di kota Meisan, Provinsi Shandong, China. Sebanyak 22 orang anggota delegasi, termasuk atlet, pelatih, dan tim medis, berangkat dengan tujuan utama mengikuti World Climbing Asia Championship 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Mei.
Keberangkatan ini menandai langkah strategis bagi Konfederasi Panjat Tebing Indonesia (KPTI) dalam upaya mengamankan kuota untuk Asian Games 2026 yang akan digelar di Nagoya, Jepang. Asian Games kali ini akan menampilkan cabang panjat tebing sebagai olahraga resmi, sehingga prestasi di kejuaraan kontinental menjadi kunci utama untuk memperoleh tiket otomatis.
Delegasi terdiri atas 12 atlet (enam pria dan enam wanita), tiga pelatih kepala, dua pelatih teknik, satu ahli fisioterapi, serta staf pendukung lainnya. Setiap atlet telah melewati serangkaian seleksi nasional yang ketat, termasuk Kejuaraan Nasional Panjat Tebing 2023 dan kompetisi internasional lainnya. Mereka akan bersaing dalam tiga disiplin utama: speed, bouldering, dan lead, yang merupakan format yang sama dengan ajang Asian Games.
World Climbing Asia Championship di Meisan diprediksi menjadi medan pertempuran yang sangat kompetitif. Negara-negara pendatang kuat seperti Jepang, Korea Selatan, dan China selalu menjadi kontestan utama. Namun, KPTI menaruh harapan besar pada atlet muda seperti Rizky Pratama (speed) dan Sari Wulandari (bouldering), yang telah mencatatkan rekor pribadi di ajang SEA Games 2023.
Juru bicara KPTI, Arif Hidayat, menyampaikan bahwa tim ini tidak hanya berangkat untuk mengumpulkan poin, melainkan juga untuk menguji taktik dan persiapan mental menjelang Asian Games. “Kami ingin melihat bagaimana performa atlet kami di panggung Asia, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, serta menyesuaikan program latihan ke level internasional,” ujar Arif dalam konferensi pers pra‑keberangkatan.
Selama di China, tim akan menjalani rangkaian latihan di fasilitas berstandar internasional, termasuk simulasi dinding panjat yang dirancang khusus untuk meniru kondisi kompetisi. Pelatih kepala, Sri Hartati, menekankan pentingnya adaptasi terhadap iklim dan zona waktu, yang dapat memengaruhi performa atlet. “Kami telah menyiapkan program aklimatisasi dan nutrisi yang tepat agar para atlet tetap berada dalam kondisi prima,” katanya.
Selain kompetisi utama, delegasi juga akan berpartisipasi dalam sesi pertukaran pengetahuan dengan federasi panjat tebing China. Kegiatan ini mencakup workshop teknik bouldering, analisis video pertandingan, serta diskusi tentang pengembangan infrastruktur panjat tebing di Indonesia.
Target utama tim adalah meraih setidaknya satu medali podium, yang secara otomatis akan mengamankan kuota bagi Indonesia di Asian Games 2026. Jika tidak berhasil, KPTI tetap memiliki jalur kualifikasi melalui peringkat dunia yang akan ditentukan pada turnamen‑turnamen berikutnya.
Secara finansial, perjalanan ini didukung penuh oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga serta sponsor swasta. Anggaran mencakup tiket pesawat, akomodasi, perlengkapan teknis, serta asuransi kesehatan. KPTI berharap keberhasilan di Meisan dapat menarik lebih banyak sponsor untuk pengembangan panjat tebing di tanah air.
Para atlet pun mengekspresikan rasa semangat dan kebanggaan mereka mewakili warna merah putih. “Ini adalah kesempatan langka untuk bersaing dengan yang terbaik di Asia. Kami bertekad memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama Indonesia,” kata Andi Setiawan, perwakilan tim speed pria.
Dengan persiapan matang, dukungan penuh, dan tekad yang kuat, Tim Panjat Tebing Indonesia siap menorehkan prestasi di Meisan. Keberhasilan mereka tidak hanya akan menambah koleksi medali, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi olahraga panjat tebing di Indonesia, menginspirasi generasi muda untuk mengejar mimpi di dinding batu.





