123Berita – 05 April 2026 | Jumat, 4 April 2026 – Tiga prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam Kontingen Garuda United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) resmi dibawa pulang ke Indonesia setelah gugur dalam tugas perdamaian di Lebanon. Kedatangan jenazah-jenazah tersebut disambut oleh keluarga, pejabat militer, dan perwakilan pemerintah di Bandara Internasional Soekarno‑Hatta, menandai langkah akhir proses repatriasi yang berlangsung selama beberapa hari.
Ketiga prajurit yang bernama Letnan Dua Andi Prasetyo (35), Sersan Mayor Budi Santoso (38), dan Kopral Riza Alamsyah (30) meninggal dunia pada 28 Maret 2026 setelah terkena tembakan artileri di wilayah perbatasan selatan Lebanon, saat melaksanakan patroli rutin bersama pasukan UNIFIL. Mereka adalah bagian dari skuad penegakan keamanan yang beroperasi di zona demiliterisasi, mendampingi pasukan Lebanon dan memantau pergerakan militan.
Setelah proses identifikasi medis dan administratif selesai, jenazah-jenazah tersebut dikirim ke bandara melalui pesawat militer C‑130 Hercules yang dikerahkan oleh Angkatan Udara TNI. Pada hari keberangkatan, tim medis TNI melakukan serangkaian prosedur pengawetan dan penataan jasad sesuai protokol internasional, memastikan penghormatan yang layak bagi pahlawan yang gugur.
Sesampainya di Indonesia, jenazah-jenazah tersebut langsung dibawa ke rumah duka masing‑masing. Upacara pemakaman diatur oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Kementerian Hukum dan HAM, dengan melibatkan perwakilan TNI, keluarga korban, serta pejabat daerah setempat. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan khidmat, menekankan rasa hormat dan dukungan moral bagi keluarga yang berduka.
- Identitas korban: Letnan Dua Andi Prasetyo (Angkatan Darat), Sersan Mayor Budi Santoso (Angkatan Darat), Kopral Riza Alamsyah (Angkatan Darat).
- Lokasi kejadian: Kabupaten Tyre, Lebanon, pada operasi patroli rutin UNIFIL.
- Tanggal kematian: 28 Maret 2026.
- Proses repatriasi: Pengawetan medis, pengiriman via C‑130 Hercules, tiba di Soekarno‑Hatta pada 4 April 2026.
- Upacara: Diselenggarakan di rumah duka masing‑masing, didampingi pejabat Kemhan dan perwakilan UN.
Menanggapi peristiwa ini, Menteri Pertahanan Indonesia, Lt. Gen. (Purn) Prabowo Subianto, menyampaikan rasa duka yang mendalam dan menegaskan komitmen pemerintah dalam melindungi dan menghormati jasa para prajurit. “Mereka berjuang di luar negeri demi keamanan dunia, dan kini kita wajib memastikan mereka mendapatkan penghormatan yang setinggi-tingginya,” ujar Prabowo dalam konferensi pers singkat di Istana Negara.
Pejabat tinggi TNI, termasuk Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa, juga menyampaikan penghargaan atas dedikasi Kontingen Garuda yang telah beroperasi di Lebanon selama lebih dari satu dekade. “Setiap prajurit yang mengabdi di misi perdamaian menanggung risiko besar. Kepergian tiga di antara mereka adalah kehilangan yang sangat berat bagi institusi kita,” kata Andika.
Keluarga korban menyatakan rasa terima kasih atas dukungan pemerintah dan masyarakat. Ibu Andi Prasetyo, yang berada di Yogyakarta, menuturkan, “Anak‑anak kami berbakti untuk negara. Kami bersyukur mereka diperlakukan dengan hormat dan dipulangkan ke tanah air secepatnya.”
Insiden tembakan artileri yang menewaskan ketiga prajurit tersebut menambah daftar korban TNI yang gugur dalam misi perdamaian internasional. Sejak penempatan pertama di Lebanon pada 1978, Kontingen Garuda telah kehilangan 20 prajurit dalam berbagai operasi, menjadikannya salah satu kontribusi militer Indonesia yang paling signifikan di panggung dunia.
Keberadaan TNI dalam UNIFIL memiliki peran strategis, yaitu membantu menstabilkan situasi politik yang rawan, melindungi warga sipil, serta memberikan pelatihan bagi pasukan keamanan Lebanon. Misi ini juga menjadi sarana penting bagi TNI untuk meningkatkan interoperabilitas dengan pasukan multinasional, memperkuat kapabilitas tempur, dan menegaskan komitmen Indonesia terhadap perdamaian global.
Pengiriman jenazah ke Indonesia dan upacara pemakaman yang diatur secara resmi menegaskan nilai-nilai tradisi militer Indonesia, yaitu penghormatan kepada pahlawan yang mengorbankan nyawa demi kepentingan bangsa dan negara. Proses tersebut juga memberikan kesempatan bagi publik untuk mengenal lebih dekat peran TNI di luar negeri, sekaligus menumbuhkan rasa kebanggaan atas keberanian prajurit yang mengabdi di zona konflik.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi prajurit TNI dalam misi internasional serta pentingnya dukungan moral dan material dari pemerintah dan masyarakat. Diharapkan, melalui penghormatan yang layak dan pengakuan atas pengorbanan mereka, generasi mendatang akan terus terinspirasi untuk mengabdi dengan semangat patriotisme yang tinggi.





