123Berita – 05 April 2026 | Pertumbuhan kebutuhan pupuk urea dunia mengalami lonjakan signifikan setelah penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Samudra Hindia. Situasi geopolitik yang memicu penutupan tersebut mengakibatkan gangguan pasokan bahan baku penting bagi industri petrokimia, termasuk nitrogen yang menjadi komponen utama pembuatan pupuk urea. Menyikapi kondisi darurat ini, tiga negara mengajukan permintaan resmi kepada Pemerintah Indonesia untuk mengirimkan pupuk urea sebagai upaya menstabilkan produksi pangan mereka.
Negara-negara yang mengajukan permintaan belum diungkapkan secara resmi dalam pernyataan tersebut, namun sejumlah analis memperkirakan bahwa mereka adalah negara‑negara di Timur Tengah dan Afrika Utara yang sangat bergantung pada impor pupuk nitrogen. Ketiga negara tersebut diperkirakan mengalami penurunan drastis dalam impor urea dari pemasok tradisional seperti Arab Saudi dan Rusia akibat gangguan logistik di Selat Hormuz.
Indonesia, sebagai salah satu produsen urea terbesar di Asia Tenggara, memiliki kapasitas produksi sekitar 4,5 juta ton per tahun, dengan sebagian besar diekspor ke pasar regional seperti Malaysia, Filipina, dan Bangladesh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa nilai ekspor pupuk urea Indonesia pada tahun 2025 mencapai US$1,3 miliar, mencatat pertumbuhan 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Potensi tersebut menjadikan Indonesia sebagai kandidat utama untuk menutup celah pasokan yang terjadi di pasar internasional.
Namun, Amran menegaskan bahwa keputusan ekspor tidak dapat bersifat sepihak. “Kita harus memastikan bahwa stok domestik tetap terjaga, terutama mengingat kebutuhan pertanian nasional yang terus meningkat. Kami sedang menilai ketersediaan stok, kapasitas produksi tambahan, serta dampak harga bagi petani di dalam negeri,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa Kementerian Pertanian bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tengah melakukan koordinasi lintas sektoral untuk memastikan proses ekspor berjalan lancar tanpa mengganggu pasokan dalam negeri.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa negosiasi ini dapat menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar di pasar global. “Jika Indonesia dapat menyalurkan urea ke tiga negara tersebut dengan syarat yang menguntungkan, tidak hanya akan meningkatkan pendapatan ekspor, tetapi juga memperkuat hubungan diplomatik di kawasan yang sedang mengalami ketegangan,” ujar Dr. Rini Hartono, pakar perdagangan internasional Universitas Indonesia.
Di sisi lain, ada tantangan logistik yang tidak dapat diabaikan. Penutupan Selat Hormuz mengalihkan rute pengiriman ke jalur alternatif, seperti melalui Laut Merah dan Terusan Suez, yang meningkatkan waktu transit dan biaya pengapalan. Menurut data Kementerian Perhubungan, biaya pengiriman kontainer 40 kaki dari pelabuhan Tanjung Priok ke pelabuhan Mediterania meningkat sebesar 18% sejak Agustus 2025. Kenaikan biaya ini dapat mempengaruhi harga akhir pupuk urea di pasar tujuan, sehingga perlu ada perjanjian harga yang fleksibel antara pemerintah Indonesia dan negara pembeli.
Selain faktor logistik, kebijakan internal pemerintah Indonesia juga berperan penting. Pemerintah tengah mengimplementasikan program subsidi pupuk bagi petani kecil, yang menuntut ketersediaan stok urea dalam negeri tetap terjaga. Pada kuartal pertama 2026, persediaan urea di gudang-gudang negara tercatat sebesar 850.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik selama enam bulan ke depan. Amran menegaskan bahwa penjualan ke luar negeri tidak akan mengorbankan ketersediaan tersebut.
Kesimpulannya, permintaan tiga negara untuk mengimpor pupuk urea dari Indonesia muncul sebagai respons langsung atas gangguan pasokan global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Pertanian Amran Mahmud, tengah menegosiasikan syarat‑syarat ekspor yang mengedepankan keseimbangan antara kepentingan domestik dan kontribusi pada stabilitas pangan internasional. Keberhasilan negosiasi ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan ekspor, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam pasar pupuk nitrogen dunia.





