123Berita – 08 April 2026 | Pengamatan terbaru dari CIES Football Observatory menempatkan suporter Indonesia pada posisi kedelapan dalam peringkat dukungan fanatik paling kuat di dunia. Peringkat tersebut didasarkan pada sejumlah indikator, termasuk intensitas kehadiran di stadion, partisipasi dalam acara komunitas, serta aktivitas daring yang mendukung tim nasional. Meski angka itu terkesan mengesankan, reaksi dari sejumlah pemain Timnas Indonesia justru berbalik; mereka menyatakan bahwa suporter layak berada di posisi lebih tinggi.
Namun, di balik kebanggaan atas pencapaian tersebut, suara kritis muncul dari kalangan pemain. Egy Maulana Vikri, penyerang muda yang baru kembali dari Eropa, menilai peringkat tersebut “belum mencerminkan semangat dan loyalitas yang kami lihat di lapangan setiap kali tim bermain di kandang.” Ia menambahkan bahwa meski angka itu menunjukkan pertumbuhan, “ada ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas dukungan, terutama dalam hal kebersamaan dan disiplin”.
Stefano Lilipaly, gelandang yang pernah menekuni karier di Asia Timur, menyoroti pentingnya peran suporter dalam menciptakan atmosfer yang menakutkan bagi lawan. “Jika kami melihat dukungan yang konsisten dan terorganisir, peringkat 8 memang baik, tapi kami yakin Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara top seperti Jerman atau Spanyol,” ujar Lilipaly dalam wawancara eksklusif.
Para pemain tidak hanya menilai peringkat secara statistik, tetapi juga mengaitkannya dengan perilaku suporter selama pertandingan. Beberapa insiden kerusuhan minor pada laga persahabatan melahirkan keprihatinan bahwa dukungan yang kuat belum sepenuhnya diiringi dengan kedewasaan. “Kami ingin suporter menjadi contoh bagi generasi muda, bukan sekadar suara yang keras,” kata pemain bek, Evan Dimas.
Respons resmi dari asosiasi suporter, Asosiasi Suporter Persatuan Indonesia (ASPI), menanggapi kritik tersebut dengan menekankan komitmen untuk meningkatkan standar perilaku. Ketua ASPI, Rudi Hartono, menyatakan, “Peringkat 8 adalah bukti bahwa kami sudah berada di jalur yang benar, namun kami tidak akan berhenti di situ. Kami akan mengadakan pelatihan disiplin, serta memperkuat kerja sama dengan klub dan federasi untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif.”
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) mengapresiasi kedua belah pihak. Ketua PSSI, Erick Thohir, menegaskan pentingnya sinergi antara suporter dan pemain. “Dukungan suporter adalah aset tak ternilai, namun keberhasilan tim juga memerlukan kedewasaan dan profesionalisme. Kami akan memfasilitasi dialog berkelanjutan antara pemain, pelatih, dan suporter untuk memastikan semua pihak bergerak seirama,” ujarnya.
Metode penilaian CIES mencakup tiga dimensi utama: kuantitatif (jumlah penonton), kualitatif (kreativitas dan kebersihan aksi), serta digital (aktivitas media sosial). Indonesia unggul terutama pada dimensi digital, dengan lebih dari tiga juta interaksi daring per pertandingan, menunjukkan pengaruh signifikan di platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter.
Data juga mengungkap bahwa suporter Indonesia secara konsisten mengorganisir aksi sosial, mulai dari penggalangan dana untuk korban bencana hingga program edukasi sepak bola di daerah terpencil. Hal ini menjadi salah satu poin utama yang memperkuat posisi mereka dalam ranking.
Namun, tantangan tetap ada. Tingginya tingkat kriminalitas di beberapa daerah stadion, serta kurangnya penegakan aturan keamanan, menjadi catatan hitam yang harus diatasi. Pemain mengingatkan bahwa “kebisingan tanpa kontrol dapat mengurangi kepercayaan klub dan sponsor,” sehingga menurunkan nilai komersial liga domestik.
Para analis sepak bola berpendapat bahwa kritik pemain bukan berarti menolak pencapaian, melainkan mengindikasikan ambisi tinggi. “Indonesia memiliki basis pendukung terbesar di Asia Tenggara. Jika dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan suporter akan masuk dalam lima besar dunia dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Prof. Ahmad Fauzi, pakar sosiologi olahraga.
Secara keseluruhan, peringkat kedelapan menandakan kemajuan signifikan, namun juga menantang suporter dan pemangku kepentingan untuk berinovasi lebih lanjut. Dengan kolaborasi yang lebih erat antara pemain, pelatih, federasi, dan suporter, harapan akan peningkatan peringkat dan kualitas dukungan menjadi semakin realistis.
Kesimpulannya, meski peringkat internasional menempatkan suporter Indonesia di posisi terhormat, suara para pemain Timnas menegaskan bahwa masih ada ruang perbaikan dalam hal kedisiplinan, profesionalisme, dan sinergi. Upaya bersama untuk mengatasi tantangan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan peringkat, tetapi juga memperkuat identitas sepak bola Indonesia di kancah global.





